Labels

100 Tokoh Dunia (100) Alam (28) Alien (9) Artikel (268) Binatang (18) Catatanku (17) Do"a (7) Download (6) FACEBOOK (8) Fakta (20) Film (23) Foto (91) GaMe (3) Handphone (6) Imsakiyah (17) Indonesiaku (3) Internet (11) Islam (174) Kata2 (5) Kenapa? (9) Kesehatan (24) Kisah (35) Kisah 25 Nabi (22) Komputer (12) Lelucon (33) Minangkabau (21) Misteri (74) Musik (9) Nusantara (1) Olah Raga (17) Pendidikan (2) Photoshop (86) Puisi (14) Renungan (37) Sejarah (110) Teknologi (13) Tips n Trik (16) Tokoh (168) Tour De Singkarak 2011 (7) Tour De Singkarak 2013 (1) TV (7) Unik n Kreatif (288) Video (7) Widget (1)

11 Tanda Risiko Kanker Payudara



Sebagian orang merasa baru harus memeriksakan kondisi payudaranya ketika ada seorang dari anggota keluarga terdekatnya yang terkena kanker payudara.
Unsur genetis memang memungkinkan seseorang berisiko terkena kanker payudara. Namun, ternyata bukan hanya itu. Menurut International Women's Organization, ada hal-hal lain yang membuat seseorang berisiko terkena kanker payudara.

Mereka adalah:
  1. Belum pernah melahirkan atau tidak melahirkan sampai berusia 30 tahun.
  2. Masa kehamilan, khususnya masa kehamilan pertama, berakhir pada aborsi.
  3. Menggunakan pil kontrasepsi sebelum mengalami masa kehamilan penuh atau menggunakan pil kontrasepsi selama sedikitnya 4 tahun.
  4. Memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga dekat (ibu, kakak perempuan, atau anak perempuan). Risiko lebih besar bila seorang saudara mengalami kanker payudara di kedua sisi sebelum memasuki masa menopause.
  5. Memiliki kanker payudara dalam riwayat kesehatan pribadi.
  6. Memiliki kanker ovarium atau kanker leher rahim dalam riwayat kesehatan pribadi.
  7. Usia: kasus penderita kanker payudara pada perempuan umumnya pada usia di atas 50 tahun. Walau begitu, saat ini sudah mulai banyak orang yang terkena kanker payudara sejak usia 30-an, dan bahkan remaja sekalipun.
  8. Mulai menstruasi pada usia muda (sebelum berusia 12 tahun) atau memasuki masa menopause di atas usia 55 tahun.
  9. Menjalankan terapi estrogen sedikitnya selama 5 tahun seteleh memasuki masa menopause.
  10. Mengonsumsi alkohol yang sangat banyak.
  11. Obesitas.

Dalam bincang-bincang dengan wartawan, dr Sutjipto Sp(B) Onk, Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ), mengatakan, "Sekarang ini kita hidup dalam abad penyakit kanker (cancerous age). Di negara berkembang, bebannya jadi ganda. Secara perlahan tetapi pasti, jumlah penderita kanker di negara kita makin banyak karena negara kita perlahan-lahan menjadi sebuah negara industri. Menurut data WHO, negara industri memiliki penduduk dengan penyakit kanker yang besar. Indonesia sudah diimbau untuk mulai berbuat sesuatu. Saat ini, rasionya sudah meningkat, sudah mencapai 100 : 100.000 penduduk positif kanker payudara. Jadi, 1 dibanding 1.000."

Sebagai tambahan lagi, dokter yang juga bertugas di RS Dharmais ini mengatakan, perempuan yang aktif bekerja hingga malam hari, stres, terkena paparan polusi, pola makan tidak seimbang, dan kurang istirahat juga bisa berisiko terkena kanker payudara.

Beberapa Fakta Serangan Jepang ke Pearl Harbour


  1. Serangan terhadap Pearl Habor dilakukan pada 7 Desember 1941
  2. Walaupun serangan cukup sukses dalam menghancurkan kapal-kapal induk AS, namun Jepang tidak menyerang dan menghabiskan kapal-kapal selam Amerika karena mereka mengganggap itu tidak penting, sayangnya keputusan itu ternyata salah, dimana kapal-kapal selam Amerika lah yang sangat berjasa dalam memutus import ekspor subsidi ke Jepang (kapal–kapal selam AS menembaki kapal-kapal yang menuju Jepang).
  3. Kesuksesan Serangan terhadap Pearl Harbor mengejutkan bukan hanya dari pihak Amerika, namun juga mengejutkan pihak Jepang.
  4. Sebenarnya radar di Pearl Harbor sudah mengetahui bahwa ada sekawanan formasi udara yang sangat besar yang sedang mendekati Pearl Harbor, namun petugas lapangan yang melapor kepada atasan menyalahartikan formasi itu sebagai pesawat B-17 Amerika yang dijadwalkan untuk memang datang ke Pearl Harbor.
  5. Jepang menyerang dengan total 6 Carrier dan 423 pesawat.
  6. Salah satu admiral Amerika berkata, “Dengan mengeyampingkan kelicikan Jepang karena menyerang secara tiba–tiba, Jepang telah melakukan pekerjaan yang sangat hebat dan sukses.”
  7. Perlu diketahui bahwa sebelum serangan dilakukan, Jepang menipu Amerika dengan berkata bahwa mereka tertarik dengan perdamaian.
  8. Serangan hari itu dilakukan pada hari minggu pagi, karena hari Minggu pagi itu jugalah yang menyebabkan banyak prajurit Amerika masih sedang terlelap di tidurnya dan tidak siaga.
  9. Pada hari minggu itu, parahnya lagi, Admiral US Husband Kimmel, dan Jendral Walter Short sedang diliburtugaskan.
  10. Sehari setelah serangan dilakukan, yakni pada 8 Desember 1941, Voting dilakukan oleh kongres Amerika dengan hasil semua anggota kongres menyatakan setuju untuk perang dengan Jepang, dan hanya ada satu suara yang tidak setuju untuk melakukan perang terhadap Jepang, orang tersebut adalah Jeannette Rankin of Montana, orang yang sama juga voting agar Amerika tidak ikut campur tangan dalam Perang Dunia I.
  11. Sebenarnya US sudah merasa bahwa Jepang ada kemungkinan akan menyerang US setelah sekian lama bersitegang masalah embargo minyak. Namun, Amerika tidak menyangka bahwa Pearl Harbor akan dijadikan sasaran, Amerika merasa bahwa Jepang pasti akan mengincar Filipina terlebih dahulu.
  12. Serangan dilakukan dalam 2 gelombang. Gelombang pertama targetnya adalah Battleship(kapal induk), dan pesawat. Gelombang kedua targetnya adalah kapal dan fasilitas dermaga lainnya.
  13. Jepang sebenarnya ingin melakukan serangan gelombang ke 3. Namun Jepang tidak jadi melakukannya karena mereka mempertimbangkan beberapa factor. Faktor–factor tersebut adalah :-Sudah tidak ada surprise karena AS sudah tahu bahwa mereka sedang diserang.-Kemampuan Anti Airgun AS meningkat jauh sewaktu gelombang kedua ketimbang serangan ketika gelombang pertama. Ketika gelombang pertama kapal jepang yang jatuh hanya 6 buah, namun ketika gelombang kedua pesawat Jepang jatuh hingga 23 buah. Meningkat lebih dari 100 persen.-Proses bolak–balik untuk gelombang ke 3 membuat kemungkinan Amerika bisa menyerang kapal induk Jepang karena pesawat–pesawat Amerika yang di darat masih ada.
  14. Serangan berhenti pada pukul 9.45 pagi waktu setempat.
  15. Jepang mengira serangan terhadap Pearl Harbor akan membuat AS jatuh dan tidak bisa berbicara banyak di PD 2, namun ternyata serangan tersebut malah membuat warga Amerika bahu-membahu untuk membalas Jepang dan berujung pada kehancuran Jepang.
  16. Pearl Harbor dan kekuatan AL Amerika berfungsi kembali secara maksimal hanya dalam tempo 60 hari, tidak sesuai dengan perkiraan Jepang dimana perkiraannya, AL Amerika akan lumpuh hingga 6 sampai 8 bulan.
  17. Ketika serangan dilakukan, Pearl Harbor benar–benar sangat tidak siap. Pesawat dibiarkan terbuka tanpa perlindungan dan berdekat–dekatan sehingga sulit untuk diterbangkan. Senjata Anti Aircraft di kapal pun semuanya dibiarkan tidak siap dan tanpa amunisi. Ditambah serangan dilakukan minggu pagi dimana banyak prajurit yang masih tidur, serangan menjadi sangat–sangat sukses.
  18. Dorrie Miller, merupakan orang kulit hitam pertama di Amerika yang mendapat penghargaan Navy Cross. Ia sendiri merupakan seorang koki di Navy AS, ketika serangan terjadi ia pergi ke dek dan meskipun tidak pernah memegang senjata sebelumnya, ia langsung menuju senjata anti aircraft Browning dan menembak jatuh hingga 2 pesawat Jepang.

Deteksi Dini Kanker Payudara

........... sebelumnya : Kenali Gejala Kanker Payudara dan Cara Menjauhi, serta Mencegahnya

DEFINISI

Kanker payudara: Pertumbuhan sel yang tidak normal pada payudara
Kanker Payudara:
  • Jinak
  • Ganas

Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali

Kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma.


ANATOMI PAYUDARA




Kelainan kongenital
  • Puting dan payudara berlebih
  • 1% laki-laki dan 5% wanita
  • pada milk line
  • puting berlebih: dibawah payudara normal
  • payudara ( mamma acessoria): aksila bawah
  • mengganggu/ kosmetik : operasi
Hipoplasia atau tak ada payudara
  • ada defek otot pektoralis
  • asimetri
Penyimpangan pertumbuhan payudara
  • Juvenile atau Virginal hypertrophy
  • tidak ada kelainan endokrin
  • malu, sakit, tidak nyaman, gangguan kegiatan sehari-hari
  • Terapi :Reduction mammoplasty

Fibroadenoma
  • Sebagian menganggap tumor jinak
  • Macamnya : fibroadenoma, giant fibroadenoma, juvenile fibroadenoma dan tumor phylloid
  • 13% massa payudara palpabel simptomatik
  • 60% dari benjolan dibawah usia 20 tahun
  • Terapi : eksisi

Penyimpangan pada masa reproduksi
  • Rasa Sakit
  • sering terjadi
  • Dianggap fisiologis
  • Sakit yang berat dan lama : penyimpangan
  • Nodul
  • Fibrosis atau sklerosis
  • ( benign breast change)
Penyimpangan pada involusi
  • Penyakit Kistik
  • Kista payudara yang palpabel
  • 7% wanita Barat
  • Terbanyak pada wanita perimenopause
  • Diagnosa dengan USG,mamografi : halo
  • AJH : cairan tidak berdarah
  • 1-3% : karsinoma
  • Kista multipel : resiko ca meningkat

Ginekomastia
  • Pertumbuhan jaringan payudara pada laki-laki pada semua umur
  • Jinak , biasanya reversibel
  • Sering pada pubertas dan umur tua
  • 30-60% pada anak laki-laki 10-16 tahun
  • 80% menghilang spontan
  • Terapi: mengganggu/ malu atau pertumbuhan yang persisten : eksisi


Penyebab ginekomastia
  • Pubertas 25%
  • Idiopatik 25%
  • Obat ( cimetidine, digoxin, spironolactone, androgen, anti estrogen 10 – 20% )
  • Sirosis atau malnutrisi 8%
  • Hipogonadisme primer 8%
  • Tumor testis 3%
  • Hipogonadisme sekunder 2%
  • Hipertiroidisme 1-5%
  • Penyakit renal 1%

Tumor jinak
  • Papiloma duktus
  • single atau multiple
  • discharge puting , kadang berdarah
  • Lipoma
  • massa radioluscent lobuler

Infeksi Payudara
  • Kadang dijumpai pada neonatus
  • Terbanyak umur 18-50 tahun
  • laktasi
  • non-laktasi
Dapat berasal dari :
  • Kulit
  • Kista sebacea
  • Hidradenitis suppurativa


Prinsip penanganan infeksi payudara
  • Antibiotik adekwat untuk mencegah terjadi abses
  • Kirim ke RS kalau infeksi tidak reda dengan antibiotik
  • Dicurigai abses – konfirmasi dengan aspirasi

Terapi abses dengan aspirasi berulang atau insisi dengan drainase

Infeksi pada laktasi
  • Dalam 6 minggu pertama menyusui
  • Sakit dan bengkak
  • Perlukaan puting atau abrasi kulit
  • Staf. Aureus, s. epidermidis, streptokokus
  • Pencegahan : higiene baik dan antibiotik
  • Menyusui diteruskan
  • Aspirasi, insisi dan drainase
Infeksi non laktasi
  • Central : infeksi periareoler
  • Periferal abses payudara
Infeksi periareoler
  • Wanita muda , rata-rata usia 32 tahun
  • Periduktal mastitis
  • 90% karena merokok
  • Terapi : antibiotik, abses – insisi, drainase
  • Bisa terjadi periduktal fistula

Abses perifer payudara
  • Pada DM, Rheuma, pengobatan steroid, trauma
  • Terapi dengan antibiotik, aspirasi, insisi, drainase
  • Sering kambuh

Infeksi tuberkulosa

  • Jarang, di Indonesia masih sering dijumpai
  • Sinus aksila atau payudara
  • Abses : infeksi akut payudara
  • Biopsi — tuberkulosa
Terapi : kombinasi bedah dan anti tuberkulosa

Mastalgia ( Breast Pain)
  • Jarang merupakan gejala dari kanker
  • Hanya 7% penderita kanker payudara merasakan sakit ( mastalgia)
  • Mastalgia : siklis dan non siklis

Mastalgia siklis
  • Premenopause, rata-rata umur 34 tahun
  • 3 – 7 hari sebelum menstruasi
  • Bisa bertahun- tahun
  • Berkurang sesudah menopause
  • Kegiatan fisik memperberat rasa sakit
Terapi mastalgia siklis
  • Mastalgia lebih dari 6 bulan
  • Lebih dari 7 hari dari siklus menstrusi
  • Gangguan aktifitas sehari-hari
  • Tx: Gamolenic acid, Danazol atau Bromocriptine
  • Tamoxifen , goserelin

Mastalgia non siklis
  • Wanita lebih tua ( rata-rata 43 tahun)
  • Dapat berasal dari dinding dada, payudara atau dari luar
Penyebab mastalgia non siklis
  • Dinding dada
  • costocondral junction
Payudara sendiri
  • Sakit difuse
  • Trigger spot

Penyebab luar
  • spondylosis servikal dan thorakal
  • Penyakit paru
  • Batu empedu
  • Hormon Estrogen (HRT) dll

Terapi mastalgia non siklis
  • Penyebab harus diketahui
  • Anasesthesi lokal/ injeksi steroid Soft bra NSAID Obat mastalgia siklis
  • Trigger spot : – eksisi
  • Kadang operasi memperburuk keadaan


INSIDENSI

Data dari WHO tahun 2003:
  • Amerika terdapat 180.000 kasus baru kanker payudara per tahun.
  • Belanda ditemukan 91 kasus baru setiap 100.000 penduduk.
  • Satu juta kasus baru tiap tahun di dunia
  • Kanker terbanyak pada wanita di dunia ( 18%) disusul serviks uteri (15%)
  • Penyebab kematian terbanyak wanita umur 40 –50 tahun
  • Menurut American Cancer Society selama kurun waktu tahun 1990-2000 sebanyak 460.000 orang wanita meninggal oleh karena penyakit ini, tiga kasus baru dan satu kematian didapatkan setiap 13 menit

Di Indonesia?
  • insidensi kanker payudara di Indonesia adalah 21 penderita baru per 100 ribu orang
  • Umumnya datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut. 
  • Jumlahnya besar, sekitar 70 persen

Keluhan penderita memeriksakan diri
  • Benjolan payudara 36%
  • Benjolan sakit 33%
  • Sakit pada payudara 17.5%
  • Cairan puting 5%
  • Retraksi puting 3%
  • Keluarga menderita ca mammae 3%
  • Distorsi payudara 1%
  • Pembengkakan atau radang 1%
  • Eksema puting 0.5%


SCREENING – DETEKSI DINI

Screening
-Pada populasi tanpa keluhan
Contoh : Pemeriksaan Mammography pada semua wanita umur > 40 tahun

Deteksi Dini
-Pada orang dengan gejala / keluhan

Triple Diagnostik pada wanita dengan benjolan di payudara

1. Pemeriksaan Klinis
2. Imaging : USG, Mammografi
3. Histopatologi: AJH, Biopsi

Keluhan bahwa diperlukan pemeriksaan untuk metastasis jauh :
1. Sakit skeletal
2. Keluhan saluran pernafasan
3. Sakit kepala
4. Keluhan tidak enak pada abdomen bagian atas
5. Malaise umum
6. Hilang apetite, merasa sakit-sakitan, nausea, vomitus

TERAPI

Local
  • Operasi
  • Radiotherapy
Systemic
  • Chemoterapi
  • Hormonal terapi

TUJUH PATOKAN TANDA BAHAYA ( W A S P A D A)

W = Waktu buang air besar / buang air kecil, ada gangguan atau perubahan kebiasaan
A = Alat cerna terganggu atau sukar menelan
S = Suara serak atau batuk yang tidak sembuh-sembuh
P = Payudara atau tempat lain memperlihatkan benjolan
A = Andeng-andeng yang berubah sifat, makin besar dan gatal
D = Darah atau lendir abnormal keluar dari tubuh
A = Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh
------------YKI (Yayasan Kanker Indonesia)------------

American Cancer Society
  • Pemeriksaan payudara sendiri ( Sadari) tiap bulan mulai umur 20 tahun
  • Pemeriksaan oleh tenaga profesional tiap tiga tahun pada usia 20 –39 tahun
  • Mulai umur 40 tahun , pemeriksaan mammografi dan tenaga profesional, tiap tahun


    Cara Deteksi Dini Kanker Payudara

    1. Angkat kedua tangan ke atas selama 20detik/hitungan,lalu turunkan. Coba rasakan sekitar ketiak dan pangkal lengan. Apakah terjadi rasa ser ser/semutan? Jika YA asa gejala kanker payudara.

    2. Tekan puting susu kedalam sekeras kerasnya dengan menggunakan jempol selama 20detik/hitungan,lalu lepas. Rasakan apakah ada rasa hangat2 kuku disekitar lingkar payudara,jika YA terdapat gejala kanker payudara,segera periksakan diri anda ke dokter.

    3. Tangan kiri memegang telinga kanan melalui atas kepala dan tangan kanan memegang payudara kiri,putar 2 kali searah jarum jam (lakukan dgn menggunakan minyak /sabun/lotion) lalu pencet puting, apakah keluaran cairan (bisa berupa air/nanah/darah/asi) jika ya ada gejala kanker payudara segera periksakan anda ke dokter lakukan gerakan yg sm untk payudara kanan,

    4. Angkat kedua tangan keatas selama 20detik/hitungan lalu turunkan (dilakukan didepan kaca) coba liat di kaca apakah salah satu/keduanya puting susu ada yg masuk kedalam (kecuali bawaan lahir) ? Bila terjadi berarti ada gejala kanker payudara segera periksa ke dokter.

    5. Tidur terlentang diatas tempat tidur dgn posisi tangan lurus ditas kepala dan kaki lurus. Lakukan selama 10 menit. Apabila tangan pegal atau tdk kuat berarti ada gejala kanker payudara.segera periksa ke dokter.

    6. Jongkok seperti di wc (jangan jinjit) dgn kedua kaki rapat. Hitung 20  detik/hitungan lalu berdiri. Disisi kiri dan kanan pinggang sakit sampai menusuk kebelakang? Jika terjadi berarti ada gejala KISTA. Rasakan juga apakah ada rasa sakit 4cm dibawah pusar? Bila ya ada gejala kanker indung telur. Segera periksa ke dokter.

    7. Dengan menggunakan kaca atau camera hp,lihat bagian dalam liang vagina anda. Bila hitam seperti lingkar payudara berarti sehat.Bila tidak berarti ada gejala kanker leher rahim.
    *untuk wanita subur lakukan setelah menstruasi.

    Sumber : YPKI (yayasan penyuluhan kanker Indonesia)

Kenali Gejala Kanker Payudara dan Cara Menjauhi, serta Mencegahnya



Normalnya, sel-sel tubuh secara alami direproduksi hanya ketika dibutuhkan. Namun terkadang sel-sel tersebut terus bertambah banyak tanpa bisa dikontrol sehingga terbentuk jaringan padat yang disebut juga dengan tumor.

Jika sel-sel yang bertambah banyak adalah sel normal, itu tidak berbahaya. tapi jika yang bertambah banyak adalah sel yang abnormal, itulah yang memicu munculnya kanker.

Kanker payudara misalnya. Sesuai dengan namanya, kanker ini berawal di jaringan payudara dan bisa menyebar ke sekitar payudara bahkan ke organ tubuh lainnya. Penyebaran ini disebut juga dengan metastasis.

Tidak hanya terjadi pada wanita, kanker payudara juga bisa mengenai pria. 

Belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan kanker, tapi beberapa faktor bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kanker, misalnya:
  1. Usia. Pada wanita, risiko seseorang terkena kanker payudara meningkat saat usianya mulai empat puluh tahun dan mulai usia enam puluh tahun pada pria.
  2. Genetik. Risiko meningkat jika ada kerabat dekat yang pernah mengalami kanker payudara.
  3. Pola makan yang tidak sehat dan mengalami obesitas.
  4. Merokok dan sering mengonsumsi alkohol.
  5. Malas berolahraga.

Berikut ini gejala-gejala yang ditimbulkan oleh kanker payudara:
  • Adanya benjolan pada atau di sekitar payudara setelah masa menstruasi selesai
  • Perubahan pada bentuk dan ukuran payudara
  • Keluarnya cairan bening atau kemerahan dari puting
  • Kulit payudara menjadi berkerut atau bersisik
  • Kulit payudara menjadi kemerahan atau meradang dan perubahan pada puting (misalnya mengelupas).
Terutama pada pria, kurangnya kewaspadaan akan bahaya kanker payudara seringkali membuat penyakit baru terdeteksi setelah cukup parah. Untuk mencegah kanker payudara, disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin dengan memeriksa diri sendiri (self-exams). Rabalah payudara untuk mengetahui kemungkinan adanya benjolan, atau lakukan pemeriksaan dengan mammograms ketika Anda memasuki usia empat puluh tahun, apalagi jika keluarga Anda memiliki riwayat kanker payudara. Pemeriksaan dengan 3D Sonomamogram dinilai lebih akurat dan aman karena tidak menggunakan radiasi.

Butuh tips yang lebih sederhana agar kanker tidak ‘mendekat’?
  • Anda harus olahraga dengan rutin, setidaknya selama setengah jam setiap hari. Mengonsumsi makanan sehat juga amat membantu, contoh: buah beri (stroberi dan raspberi) yang kaya akan antioksidan dan sayuran hijau (bayam, brokoli dan kubis). 
  • Selain itu perlu juga melakukan imunisasi kanker baik secara medis atau secara alami dengan herbal (immunoteraphy). 
  • Imunisasi secara alami ini dengan mengosumsi temu putih (curcuma zedoaria) yang berkhasiat tinggi mencegah sel kanker tumbuh dengan kadar zat aktif ribosome hingga 95 persen. 
  • Hindari makanan olahan dan yang penuh lemak.
KLIK LINK UNTUK MEMBACA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

Misteri dan Sejarah Keberadaan Supriyadi, Mantan Panglima PETA

Gambar Supriyadi Sang Panglima Peta yang dipublikasikan
lewat buku-buku akademis

Siapa yang tidak kenal dengan sosok pahlawan satu ini. Supriyadi adalah pahlawan nasional Indonesia, pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinet pertama Indonesia, namun tidak pernah muncul untuk menempati jabatan tersebut.

Fakta sejarah yang lama terpendam kini terkuak kembali. Dia adalah Supriyadi, tokoh muda pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar, yang terjadi pada 14 Februari 1945 dulu.

Pada waktu itu, Supriyadi anggota tentara PETA, sebuah pasukan tentara bentukan Jepang yang beranggotakan orang-orang Indonesia. Karena kesewenangan dan diskriminasi tentara Jepang terhadap tentara PETA dan rakyat Indonesia, Supriyadi gundah. Ia lantas memberontak bersama sejumlah rekannya sesama tentara PETA. Namun pemberontakannya tidak sukses. Pasukan pimpinan Supriyadi dikalahkan oleh pasukan bentukan Jepang lainnya, yang disebut Heiho.

Orang orang Indonesia yang misterius...!!!
Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan kuburannya. Oleh karena itu, meski telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah, keberadaan Supriyadi tetap misterius hingga kini. Sejarah yang ditulis pada buku-buku pelajaran sekolah pun menyebut Supriyadi hilang.


Namun yang membikin sosok Supriyadi semakin misterius adalah banyaknya kemunculan orang-orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Salah satu yang cukup kontroversial adalah sebuah acara pembahasan buku ‘Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno’, yang diadakan di Toko Buku Gramedia di Jalan Pandanaran Semarang. Dalam acara itu, seorang pria sepuh bernama Andaryoko Wisnu Prabu membuka jati diri dia sesungguhnya. Dia mengaku sebagai Supriyadi, dan kini berusia 88 tahun. Namun sampai sekarang pengakuan tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya, meski secara perawakan dan sejumlah saksi membenarkan klaim tersebut.

Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan kuburannya.



Namun tiba-tiba Andaryoko Wisnu Prabu, 88, mengaku sebagai Supriyadi seperti yang dimaksud di atas. Dia membenarkan bahwa tentara Pembela Tanah Air (PETA) melakukan pemberontakan terhadap Jepang di Blitar. Karena kalah oleh tentara Jepang, Andaryoko dan pasukannya sembunyi di hutan selama 3 bulan.

Menurutnya pula, ada sekitar 200 pejuang PETA yang menyerang markas Jepang pada pukul 02.00 WIB, 14 Februari 1945. PETA melakukan pemberontakan karena tidak rela penduduk Indonesia diminta membungkuk-bungkuk pada Jepang dan dipukuli.

“Banyak yang mati dalam perang dadakan itu,” kata Andaryoko kepada The Jakarta Post dan detikcom di rumahnya di Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang, Selasa (12/8/2008). Pejuang PETA kalah karena Jepang meminta bala bantuan dari Kediri, Malang, dan sekitarnya.

Akhirnya, pejuang PETA pun lari menyelamatkan diri dan mengungsi ke hutan mulai dari Blitar Selatan, Hutan Purwo, dan Ketonggo, Ngawi. Mereka bersembunyi hingga bulai Mei 1945.

Pada Mei 1945 itu, Andaryoko keluar hutan dan menemui Bung Karno di Jakarta. Pada saat bersamaan, Bung Karno ikut sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)..

“Saya diterima pengawal presiden. Bung Karno pada awalnya tidak percaya. Tapi setelah saya katakan,’Bung, Anda itu pemimpin. Kalau tidak mempercayai orang sendiri, saya harus percaya kepada siapa”, paparnya.

Akhirnya, Andaryoko diajak ke ruang belakang dan berbincang macam-macam. Saat itulah, dia berhubungan langsung dengan Bung Karno. Presiden pertama itu menyebut Andaryoko dengan panggilan `Sup` (Supriyadi).

Pada saat itulah Bung Karno berpesan kepada Andaryoko alias Supriyadi. “Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui,” kata Andaryoko menirukan ucapan proklamator Kemerdekaan RI itu.

Sementara itu, terkait munculnya kembali kabar tentang keberadaan Supriyadi, Pemkab Blitar mengharapkan agar dilakukan penelitian dan pembuktian untuk memastikan kebenarannya.

Selama ini, keyakinan yang dipegang Pemkab Blitar adalah bahwa Supriyadi telah menghilang sejak meletusnya pemberontakan PETA di Blitar pada 14 Februari 1945 lalu. Dan, hingga kini tak ada yang mengetahui keberadaannya, juga kuburnya.

“Harus ada penelitian dari tim ahli untuk membuktikan kebenarannya,” kata Kabag Humas Pemkot Blitar, I Made Sukawardhana, Selasa (12/8).

Beberapa literatur sejarah juga belum ada yang memastikan bahwa Supriyadi masih hidup, termasuk memberi petunjuk tentang lokasi makamnya jika memang dia telah mati. “Kami menganggap ini (pengakuan Andaryoko) baru sebatas pengakuan, sehingga harus dibuktikan kebenarannya,” jelas Made




Andaryoko dan foto diri dikala muda


Pedang Samurai milik tentara Jepang yang ia bunuh


Andaryoko hadir saat Proklamasi dan Pengibaran Bendera Pusaka ?

======================================================
Pahlawan Supriadi Masih Hidup

Namanya Berganti Andaryoko, Usianya Sekarang 88 Tahun.
Sungguh Beliau Pahlawan Yang Hebat

Fakta sejarah yang lama terpendam kini terkuak kembali. Dia adalah Supriyadi, tokoh muda
pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar, yang terjadi pada 14 Februari 1945 dulu.

Pada waktu itu, Supriyadi anggota tentara PETA, sebuah pasukan tentara bentukan Jepang yang beranggotakan orang orang Indonesia. Karena kesewenangan dan diskriminasi tentara Jepang terhadap tentara PETA dan rakyat Indonesia, Supriyadi gundah. Ia lantas memberontak bersama sejumlah rekannya sesama tentara PETA. Namun pemberontakannya tidak sukses. Pasukan pimpinan Supriyadi dikalahkan oleh pasukan bentukan Jepang lainnya, yang disebut Heiho.

Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan kuburannya.
Oleh karena itu, meski telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah, keberadaan Supriyadi tetap
misterius hingga kini. Sejarah yang ditulis pada buku-buku pelajaran sekolah pun menyebut Supriyadi hilang.

Apakah benar demikian? Hilang ke mana?
Teka-teki itu mulai terkuak pada sebuah acara pembahasan buku ‘Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno’, yang diadakan di Toko Buku Gramedia di Jalan Pandanaran Semarang 9 Agustus lalu. Dalam acara itu, seorang pria sepuh bernama  Andaryoko Wisnu Prabu membuka jati diri dia sesungguhnya. Dia mengaku sebagai Supriyadi, dan kini berusia 88 tahun.


Selain dari bukti foto, penuturannya yang gamblang tentang PETA dan perjuangan  Indonesia pasca kemerdekaan, keaslian Andaryoko sebagai Supriyadi diperkuat oleh pengakuan sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Dr Baskara Tulus Wardaya.

Dengan menggali aneka sumber dan ditambah aneka foto-foto pendukung serta wawancara dengan Andaryoko sendiri, Baskara tiba pada satu kesimpulan: Andaryoko adalah  Supriyadi. Setelah menghilang, Supriyadi memang berganti nama menjadi Andaryoko.

Baskara berharap, publik memberi kesempatan bagi Andaryoko untuk menyampaikan narasi/penuturan sejarah perjuangan yang pernah ia jalani lewat tulisan, seperti dalam buku Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno.

“Saya berjumpa beliau sekitar April 2008 dalam sebuah penelusuran sejarah. Saya ingin mencari pelaku-pelaku sejarah baru. Saya kemudian menemukan beliau dan wawancara. Belakangan beliau baru mengaku sebagai Supriyadi,” tutur Baskara saat dihubungi Surya, Selasa (12/8).

Dari interaksi dengan Andaryoko, Baskara mendapati sesuatu yang berbeda. Menurut dia, beberapa orang yang sebelumnya mengaku sebagai Supriyadi biasanya memiliki beberapa ciri. Di antaranya, selalu dikaitkan dengan mistis, hanya berpusat pada sosok dirinya, dan tidak bisa mengaitkan sejarah dengan perkembangan pasca kemerdekaan dan zaman kekinian.

“Tetapi Andaryoko ini, dia orangnya rasional dan spiritual. Dia bisa mengaitkan sejarah tempo dulu dan sekarang. Ia juga kritis terhadap situasi saat ini,” katanya.

Baskara mencontohkan, cerita Andaryoko mengenai peran pemuda menuju kemerdekaan yang sangat besar. Sebagai pelaku sejarah, Andaryoko menyebut, pemuda pada zaman itu sudah memiliki kesadaran politik yang kuat. Mereka sadar, pemberontakan yang akan mereka lakukan pada tentara Jepang saat itu pasti tidak ada gunanya karena kalah persenjataan.

“Tapi, toh itu tetap mereka lakukan, karena mereka sadar bahwa perjuangan perlu simbol. Mereka melakukan itu karena gundah melihat kekejaman tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia,” urai Baskara yang juga Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma Jogjakarta itu.

Andaryoko lahir 23 Maret 1920. Saat masuk PETA, usianya ‘dituakan’ tiga tahun. “Sehingga ia mengikuti pendidikan tentara saat berusia 25 tahun. Jika dirunut sampai tahun 1945, maka pemberontakan yang dilakukannya wajar, karena usianya relatif muda,” ungkapnya.

Di rumah Andaryoko yang kini ia tinggali, juga tidak terdapat banyak peninggalan. Saat melarikan diri, sebut Baskara, ia hanya mengenakan satu baju tanpa membawa peralatan lain. “Ia hanya punya foto semasa muda waktu masuk PETA dan sebuah samurai asli tentara Jepang. Katanya, itu milik tentara yang dia bunuh,” ujarnya.

Sangat Mirip

Saat Andaryoko dikunjungi wartawan di rumahnya di Jl Mahesa No. 101, Pedurungan, Semarang, Selasa (12/ 8) kemarin, bukti-bukti yang menegaskan bahwa dia sebagai Supriyadi makin kuat.

Andaryoko antara lain menunjukkan foto dirinya saat masih muda. Dia kemudian membandingkan foto Supriyadi yang dipublikasikan di buku berjudul 30 Tahun Indonesia Merdeka yang diterbitkan Cipta Lamtorogung tahun 1985. Begitu dua foto itu disandingkan, memang sangat mirip.

Pertanyaannya, kenapa Andaryoko baru membuka jati dirinya?

Ada dua alasan mengapa dirinya baru buka-bukaan sekarang ini. Pertama, adanya dorongan dari banyak pihak agar dirinya segera membuka diri. Di masa lalu setelah pemberontakan PETA Blitar, dia sengaja menyamarkan diri agar tidak ditangkap tentara Jepang.

Alasan kedua, saat ini merupakan saat yang pas bagi Andaryoko untuk membuka diri ke publik. “Dulu Bung Karno pernah berpesan kepada saya begini, `Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui`. Dan sekarang inilah saatnya saya melaksanakan pesan Bung Karno, karena saya sudah berusia lanjut,” kata Andaryoko yang kemarin mengenakan baju warna cokelat.

Setelah menghilang ke hutan-hutan selama sekitar 3 bulan sejak pemberontakan di Blitar, kata Andaryoko, dirinya mulai keluar dan menemui Bung Karno. Sempat ragu bahwa yang datang adalah Supriyadi, Bung Karno kemudian mengajak berbicara cukup lama pada Mei 1945 itu. Akhirnya Bung Karno mengakui dan langsung menyapa Supriyadi dengan panggilan `Sup`.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Andaryoko mengaku sempat diminta Bung Karno untuk menjadi Menteri Keamanan Rakyat. Namun ia menolak.

Bung Karno kemudian meminta Supriyadi ke Semarang menemui Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro. “Saya diterima menjadi staf kantor Residen Semarang . Nama saya diganti menjadi Andaryoko,” katanya.

Dalam perkembangan politik selanjutnya, ia sangat kecewa ketika Republik Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat hasil dari Konferensi Meja Bundar di Denhaag, Belanda. Di sana ada Uni Indonesia yang diketuai oleh Belanda. Itu artinya sama saja masih dijajah Belanda. Supriyadi pun kemudian menghilang.

Ia tidak bercerita apa saja yang ia kerjakan selama menghilang itu. Namun beberapa kali ia wira-wiri Semarang-Blora untuk keperluan meruwat (sebuah ritual tradisional penolak bala ala kepercayaan Jawa) selain untuk keperluan keluarga.

Baskara berpendapat, cerita Andaryoko boleh tidak dipercaya. Tapi, doktor sejarah lulusan Universitas Marquette, Wisconsin, Amerika Serikat (AS) ini pun mempertanyakan mengapa pemerintahan Jepang kala itu tidak pernah mengumumkan kematian Supriyadi.

“Menjadi kebiasaan waktu itu, tentara republik yang menjadi pemberontak Jepang dan gagal, kalau mati pasti diumumkan. Itu untuk mematahkan semangat perjuangan tentara lainnya yang ingin berontak. Tapi kita ingat, sampai sekarang tidak pernah dikabarkan kapan ia mati dan di mana makamnya,” tegas Baskara.

Andai setelah kemunculan Andaryoko ini muncul pro dan kontra, Baskara melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Ia mengajak keluarga Supriyadi yang ada di Blitar atau daerah lain serta para sejarawan ikut mendiskusikan masalah itu dalam kerangka akademis.

Andaryoko sendiri siap untuk dikonfrontir dengan keluarga Supriyadi untuk membuktikan kebenaran. “Ya silakan kalau mau (datang ke sini),” kata Andaryoko. Sejauh ini, tak ada orang yang datang ke rumahnya untuk meminta klarifikasi.

Termasuk pejabat dan tokoh-tokoh penting. Dia tidak pernah mengharap kedatangan dan tidak menolak kedatangan
mereka.

Selama tinggal di Semarang, Andaryoko berpindah-pindah tempat. Pada awalnya, dia tinggal di Jalan Majapahit. Dan terakhir, pada tahun 2001 hingga kini, dia menempati rumah di Pedurungan. Dilihat dari rumahnya, keluarga Andaryoko terbilang berkecukupan. Rumah bercat itu berdiri kokoh dan asri seolah siap menerima kedatangan siapa pun.

Andaryoko mempunyai empat anak, yakni Reni, Andarwanto, Akso, dan Wening. Wening saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri.

sumber : surya online

======================================================


Pensiunan Karesidenan Semarang Mengaku Supriyadi

kompas.com - Andaryoko Wisnuprabu (89), seorang pensiunan sekretaris Karesidenan Semarang, Jawa Tengah mengaku dirinya adalah Supriyadi, mantan Menteri Keamanan Rakyat sekaligus Panglima Tentara Keamanan Rakyat tahun 1945.

Ketika ditemui di kediamannya di Pedurungan, Semarang, Selasa (12/8), Andaryoko mengungkapkan tidak khawatir jika publik tidak mempercayainya. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. "Kalau ada orang lain yang tidak setuju, silahkan saja, tetapi seharusnya mereka juga punya bukti, tidak asal omong saja, " ujarnya.

Andaryoko juga memperlihatkan beberapa bukti yang dimilikinya berupa foto dirinya yang mirip dengan foto yang tertera di buku-buku ilmu sejarah. Dalam foto itu, ia tidak berkumis. Ia juga menunjukkan foto dirinya dengan kumis yang tidak jauh berbeda dengan foto pertama. Kumis itu dimaksukan oleh Andaryoko untuk menyembunyikan identitas dirinya.

Bukti lain terkait identitas dirinya sebagai Supriyadi tidak dimiliki oleh Andaryoko. Ia mengatakan sengaja tidak menyimpan identitas aslinya agar tidak diketahui orang lain.

Andaryoko menyebutkan alasannya menyembunyikan identitas sebagai Supriyadi karena menganggap pascakekalahannya memimpin pemberontakan PETA tahun 1945, situasi tidak aman. "Dulu lebih tepatnya karena malu, kami waktu itu kalah karena kurang personil dan persenjataan. Sekarang, saya kira situasi sudah memungkinkan untuk menceritakan yang sebenarnya, jadi saya ungkap semuanya, " tuturnya.

Cucu Andaryoko, Bachtiar (30) menyebutkan, sebenarnya Andaryoko sudah mulai menceritakan perihal Supriyadi kepadanya sejak tahun 2003. Waktu itu saya masih belum percaya. "Mulai saat itu, saya selalu mengamati tingkah laku eyang dan kegiatan-kegiatannya. Sepertinya memang benar karena semuanya menguatkan. Eyang tahu persis kejadian dengan detail dan bisa menjelaskannya dengan baik, " katanya.

Bachtiar mengungkapkan, tidak ada yang berbeda setelah Andaryoko mengungkapkan identitasnya sebagai Supriyadi. Ia hanya mengingatkan eyangnya akan risiko yang akan ditanggung setelah pengungkapan ini.

======================================================

Adik Tiri Supriyadi Kesal Harus Selalu Cek

kompas.com - Pengakuan Andaryoko Wisnu Prabu bahwa dirinya adalah Supriyadi, pahlawan nasional asal Blitar yang dicatat sejarah menghilang, mendapat tentangan dari adik tiri Supriyadi, Utomo Darmadi. Utomo menyebut bahwa pengakuan Andaryoko itu sama sekali tidak benar. Utomo bahkan menyindir Andaryoko sebagai orang yang hanya mengejar sensasi.

"Dia itu ngaku-ngaku, nggak bener itu," ujar Ki Utomo darmadi kepada persdanetwork di Jakarta, Selasa (12/8). Dikatakan Utomo Darmadi, dirinya langsung tahu bahwa Andaryoko itu bukanlah Supriyadi saat melihat wajahnya di televisi. Menurut Utomo, kalaupun berubah dari orang muda ke tua, bentuk wajahnya tidak akan jauh berubah. Seperti telinganya.

"Tadi saya sepintas melihat di TV, lha liat gambarnya kelihatan memang bukan. Saya adiknya kan tahu rupanya Supriyadi," lanjut dia. Utomo menyebut bahwa ini bukan kali pertama ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Supriyadi. Ia menyebut sudah puluhan kali ada kejadian serupa. Dan yang diakui Utomo membuat dirinya kesal karena dirinya yang selalu disuruh mengecek kebenaran dari orang yang mengaku-ngaku tersebut.

Ia mencontohkan, saat Try Soetrisno masih menjabat sebagai wakil presiden, dirinya mendapat surat dari Kolonel Wiguno dari AURI di Jogjakarta. Inti surat itu kata Utomo bahwa ditemukan Supriyadi di Lampung yang kemudian dibawa ke Jogjakarta. "Saya bilang ora bener. Saya lalu ke sana dan memang bukan. Itu sudah berapa puluh kali orang ngaku. Dan yah itu yang membuat kesel, saya disuruh menyaksikan yang gak bener," kenang Utomo.

Utomo menyebut adalah urusan pemerintah untuk menangani orang-orang yang menurutnya senang membikin sensasi seperti itu. Ia menegaskan bahwa sebagai pihak keluarga Supriyadi, dirinya tidak berniat melakukan tindakan apa-apa terhadap orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai kakaknya. "Itu urusan pemerintah. Mereka itu kan orang sekarng suka sensai, karena pelakunya sudah nggak ada," tambah dia.

Kalaupun nantinya Andaryoko tetap mengaku bahwa dirinya adalah Supriyadi, Utomo Darmadi mengaku siap dipertemukan langsung. Utomo menyebut bahwa dirinya sudah ditawari oleh sejarawan Baskara T Wardaya untuk bertemu langsung dengan Andaryoko. "Kalau seperti itu yah suruh saja hadap-hadapan sama saya. Yah saya adiknya masak nggak ngerti rupanya. Lha wong liat di TV memang bukan," sambung dia.

Lalu, bagaimana cara Utomo mengetes apakah Andaryoko adalah Supriyadi palsu atau benaran ? Utomo menyebut dulu ia pernah melakukan hal serupa dengan cara mengetes apakah yang bersangkutan bisa berbicara, mengenal istilah-istilah Belanda dan Jepang seperti Supriyadi. Namun, kata dia, itu tidak terlalu menjamin. Ia lebih percaya dengan penglihatan bentuk fisik langsung dari yang mengaku-ngaku Supriyadi tersebut. "Katanya bisa basa Jepang, coro Londo. Tapi kan dari gambarnya saya tahu itu gak bener," lanjut Utomo.

Utomo percaya bahwa secara logika, kakaknya itu memang sudah meninggal pada tahun 1945 silam. Namun, kata dia, adalah kepintaran dari pihak Jepang yang kemudian mengaburkan kematian Supriyadi dengan menyebut bahwa Supriyadi bisa ilmu menghilang. "Jepang pintar, ngerti kejiwaan orang jawa. Lalu crita bahwa Supriyadi iso ngilang. Lha opo bapakku kuwi gendruwo, duwe anak isa ngilang. Kita rasional saja lha," ujarnya.

Ia lalu mengisahkan, bahwa bapaknya dihukum di penjara Kediri. Kemudian, keluarganya, ibu, dirinya dan adik-adiknya ditahan di kertosono di rumah yang dijaga ketat dan tidak diperbolehkan keluar sampai proklamasi. "Kalo nggak ada proklamasi, September itu sudah ada rencana pembunuhan besar-besaran terhadap keluarga pemberontak itu," kenangnya.

Menurut Utomo, kalaupun sudah meninggal dan tidak ada makamnya, itu adalah hal yang wajar selama pendudukan zaman Jepang. "Saya beritahu, zaman jepang itu, orang mati yang gak ngerti makamnya gak pirang-pirang. Pahlawan nasional dr Muwardi, sampe sekarang makamnya ga ketahuan. Itu orang tanya begitu, itu nanya debat kusir," kata dia.
======================================================

Bagaimana awal mula pemberontakan Peta di Blitar?
Waktu itu menjelang Agustus 1945, ada 200 pasukan Peta. Kami kalah perang karena Jepang mendatangkan pasukan dari Kediri dan Malang. Kami kalah dari segi jumlah dan peralatan. Kami lari bercerai-berai. Jepang memburu. Jadi buronan saya menyelamat diri lari ke hutan. Mulai dari hutan Blitar Selatan,
hutan Ketonggo hingga hutan Purwo (wilayah Kabupaten Ngawi. Saya sadar tidak ada gunanya terus-menerus bersembunyi. Saya ke Jakarta menemui Bung Karno (Ir. Sukarno) sebagai tokoh yang dianggap sebagai pemimpin Indonesia .

Apa isi pertemuan dengan Bung Karno?
Semula Bung Karno tidak percaya. Saya kemudian menceritakan siapa saya dan isah hidup saya. Untuk meyakinkan saya hanya bilang, bila pemimpin besar seperti Bung Karno tidak mempercayai, saya patah arang. Silakan Bung Karno menyerahkan saya kepada Jepang. Jepang pasti akan menghukum mati saya. Mendengar itu Bung Karno jatuh iba, dan akhirnya percaya.

Bung Karno bicara apa lagi?
Bung Karno menyarankan saya ke Semarang untuk menghadap Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro.

Wongsonegoro tahu kalau Anda buronan Jepang?
Tahu. Ia meminta saya mengganti nama. Ia memberikan jabatan staf di antor residen. Hanya dia yang berhak memerintah saya. Bahkan Pak Wongsonegoro itu meminta saya selalu melaporkan kegiatan perjuangan demi kemerdekaan kepadanya. Semua itu juga menyangkut keselamatan dia. Bila kedok saya terbongkar, ia pasti terseret asalah karena menyembunyikan buronan Jepang. Kala itu residen dijabat orang Jepang.

Siapa nama baru Anda saat itu?
Andaryoko. Ketika Saya menggeluti aliran kepercayaan, saya tambahi nama saya menjadi Andaryoko Wisnu Prabu.

Setelah di Semarang, apa Anda bertemu lagi dengan Bung Karno?
Saya kembali ke Jakarta. Saya yang membawakan tas Bung Karno ada sidang Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI (Badan Usaha Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Ketika Jepang dibom oleh tentara sekutu, saya bersama para pemuda menganggap ini kesempatan untuk merdeka. Kami meminta para pemimpin senior seperti Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan.
Tapi tokoh tua belum mau. Para pemuda seperti saya, B.M. Diah, Sukarni, Sayuti Melik, Melok, dan beberapa nama lainnya tidak sabar.

Kami tetap berusaha mengajak para tokoh tua untuk membulatkan tekad merancang proklamasi kemederkaan di desa Rengas Dengklok.
Tempatnya sepi, dengan harapan Jepang tidak tahu. Saya dan beberapa teman bertugas menjemput dan membawa Bung Karno pada 16 Agustus 1945 petang.
Pertemuan berjalan alot, hingga pukul sebelas malam terjadi kebulatan tekad.
Pada 17 Agustus 1945 Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan.
Awalnya proklamasi akan dilaksanakan di lapangan Ikada (Ikatan Atletik Daerah) Jakarta. Mengingat keamanan, kemudian tempatnya diubah di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta .

Sebelumnya, Bung Karno menulis naksah proklamasi dengan tulisan tangan
dan ada coretan. Ia menyerahkan naskah itu kepada para pemuda pejuang untuk dibaca dan diketik. Sayuti Melik mengetik. Namun, yang dibaca oleh
Bung Karno tetap kertas tulisan tangan yang sempat dibuang kemudian
ditemukan kembali dan diseterika agar bisa terbaca lagi. Waktu itu hanya
sekitar 20 orang yang hadir. Kami para pemuda menjemput tokoh-tokoh
tua untuk menghadiri proklamasi itu.

Setelah teks proklamasi dibacakan, apa yang terjadi?
Dua bulan kemudian pemerintahan baru Republik Indonesia membentuk
kabinet. Saya ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Namun ketika
terjadi Konferensi Meja Bundar yang ditandatangi pada 27 Desember 1949
yang digelar di Den Haag Belanda yang hasilnya Indonesia menjadi
negara serikat (Republik Indonesia Serikat). Saya kecewa, karena di mana
ada Ketua Uni Indonesia yang diketuai Ratu Wilhelmina. Itu
artinya kita dijajah lagi. Semua urusan luar negeri Belanda yang menangani.
Saya akhirnya minta mundur dari jabatan menteri. Lalu Saya
kembali ke Semarang dan menjadi staf di Karesidenan Semarang lagi.

Wawancara disudahi karena Andaryoko pamit ke luar kota.
Salah satu cucunya mengatakan, eyangnya ke Blora untuk menyepi
(menyendiri) menghindari publikasi. Pada 16 Agustus nanti, bekas pejuang
Supriyadi akan menghadiri bedah buku "Kesaksian Supriyadi" di sebuah
toko buku di Yogyakarta.

tempo.com
======================================================
Misteri Supriyadi PETA Versi Ronomejo Hingga Nakajima

Teguh Budi Santoso - detikNews
Cerita soal pahlawan PETA, Supriyadi dari Blitar memang berkembang sejak dulu dalam berbagai versi. Wacana yang juga memicu kontroversi justru dikembangkan oleh Departemen Sosial. Tahun 1978, Depsos mengeluarkan serial buku Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan. Pada bagian seri tentang Pemberontakan PETA Blitar dikutip beberapa kesaksian tentang masih hidupnya Supriyadi, setidaknya sampai setelah pecahnya pemberontakan PETA Blitar.

Harjosemiarso, Kepala Desa Sumberagung pada jaman penjajahan Jepang, beberapa saat setelah pecahnya pemberontakan Blitar Februar1 1945 mengaku pernah menyembunyikan Supriyadi di rumahnya selama beberapa hari.

Ronomejo, Kamituwo Desa Ngliman, Nganjuk mengaku pernah ikut menyembunyikan Supriyadi di gua di sekitar Air Terjun Sedudo. Ia bahkan pernah mengantar Darmadi, ayahanda Supriyadi datang ke tempat persembunyian.

Seorang Jepang mantan pelatih Supriyadi di Seinendojo, Tangerang, Nakajima pada Maret 1945 mengaku pernah didatangi Supriyadi saat bertugas di Salatiga. Ia sempat menyembunyikan Supriyadi beberapa hari sampai akhirnya Supriyadi pamit akan menuju Bayah, Banten Selatan (Tempat sembunyi yang sama dengan Tan Malaka).

H Mukandar, tokoh masyarakat di Bayah, Banten mengaku pada bulan Juli 1945, dirinya pernah merawat seseorang yang terkena disentri. Pria itu mengaku bernama Supriyadi. Sayang jiwa si pria malang tak terselamatkan. Ia pun dikuburkan di Bayah. Ketika ditunjukkan foto para kadet Seinandojo PETA di Tangerang, dengan tepat Mukandar menunjuk pada foto Supriyadi.

Tak cuma Depsos, Dinas Sejarah TNI AD sendiri tak menutup pintu kemungkinan Supriyadi tak ikut wafat dalam pemberontakan Blitar. Majalah Vidya Yudha No 12/III/1971 memuat tulisan Mayor Soebardjo yang mengatakan bahwa ia mendengar dari Letnan Sasmita kalau Supriyadi tewas di Gunung Wilis menjelang datangnya kemerdekaan. Satu regu tentara Jepang menembaknya ketika ia tengah mereguk air minum.

Masih banyak lagi wacana-wacana soal sang pahlawan PETA Supriyadi. Saling silang kabar yang ada dimungkinkan karena memang hingga kini jasad Supriyadi tak pernah diketemukan. Pemerintah sendiri ‘terlanjur’ mensosialisasikan namanya sebagai sosok pahlawan. Tindakan Soekarno-Hatta yang mencantumkannya sebagai panglima tentara adalah bukti dari pengakuan tersebut.

Namun, tak semua orang menganggap Supriyadi sebagai pahlawan. Beberapa mantan anak buahnya di PETA justru melihatnya sebagai sosok pengecut. Ketika para perwira PETA yang lain (Muradi, Supardjono, Suryo Ismangil, Halir Mangkudijaya, Soedarmo, Soenanto) harus bertanggungjawab dengan merelakan kepalanya untuk dipenggal di Ancol demi pasang depan menyelamatkan nyawa anak buahnya, Supriyadi malah lari.

Mungkin ini membuat orang terlalu skeptis, namun apa pun dalih yang diungkapkan Supriyadi (Andaryoko?) nanti - jika benar ia adalah Supriyadi - takkan bisa menghapus ‘kesalahannya’ membiarkan 63 tahun lamanya publik terperdaya epos kepahlawanannya atau mungkin secara pribadi lebih penting bagi Supriyadi sendiri, perasaan terluka para mantan anak buah yang merasa ditinggalkannya begitu saja.

======================================================


Benarkah Pahlawan PETA Supriyadi Sudah Gugur? 

Kilasberita.com
Semarang, Siapa tak kenal Supriyadi. Tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) melawan tentara Dai Nippon. Namun pasca pemberontakan itu, Supriyadi menghilang bahkan dikabarkan gugur. Benarkah?

Semua teka-teki tentang tokoh besar ini baru terjawab pada Sabtu 8 Agustus lalu. Pejuang kemerdekaan itu muncul dalam sebuah acara peluncuran buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jl Pandanaran. Buku yang dibedah juga terkait dirinya, yakni 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden'. Sosok Supriyadi benar-benar datang dalam acara yang dihadiri sekitar 60 orang tersebut. Bertindak sebagai pembicara adalah sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T. Wardaya.

Supriyadi sempat diwawancarai wartawan Jerman. Dia mengaku dirinya tidak mati atau hilang. Usianya sudah sangat lanjut, yakni sekitar 89 tahun.

"Dia kurus. Namanya bukan Supriyadi, tapi Andaryoko Wisnuprabu. Tapi dalam wawancara itu, dia mengaku sebagai Supriyadi," kata salah satu pengunjung diskusi, Isti (28).

Isti yang tinggal di Kawasan Timur Semarang itu menambahkan, banyak orang tidak tahu Supriyadi akan hadir di acara itu. Sebab, acara yang digembor-gemborkan justru bertajuk "Mereka Menodong Bung Karno" dengan pembicara mantan Pengawal Soekarno, Soekardjo Wilardjito.

Untuk menghindari penangkapan oleh tentara Jepang, pejuang Pembela Tanah Air (PETA), Supriyadi, mengganti nama. Selain itu, dia juga memelihara kumis.

Saat bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur No 56, Supriyadi diminta pergi ke Semarang. Dia harus menemui Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro.

"Saya diterima menjadi staf Kantor Residen Semarang. Nama saya diganti menjadi Andaryoko," kata Supriyadi sebagaimana ditirukan salah satu pengunjung bedah buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran, Isti (28), Senin (11/8/2008).

Sejak memulai hidup di Semarang, Supriyadi memelihara kumis. Meski punya nama baru, di Jakarta, dia tetap dikenal sebagai Supriyadi.

Supriyadi tidak sempat menceritakan liku-liku hidupnya selama di Semarang. Dia hanya menyebutkan hal-hal penting terkait sejarah negara Indonesia.


======================================================Andaryoko Anggota PETA, Tetapi Bukan Supriyadi

  KOMPAS/TRI AGUNG KRISTANTO
Dr Asvi Warman Adam, ahli sejarah (sejarawan) dan peneliti LIPI


kompas.com
PENGAKUAN mengejutkan muncul dari Semarang, Selasa (12/8). Andaryoko Wisnu Prabu, 89 mengaku sebagai Supriyadi, pejuang PETA yang juga pahlawan nasional yang ditulis sejarah menghilang. Benarkah dia adalah Supriyadi? Berikut wawancara persdanetwork dengan sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam terkait pengakuan Andaryoko Wisnu Warman Adam.

Sebagai sejarawan, bagaimana komentar Anda soal pengakuan Andaryoko bahwa dirinya adalah Supriyadi ?
Sebetulnya bukan satu kali ini ada orang yang mengaku Supriyadi. Paling tidak sudah lebih dari lima kali ada orang yang mengaku Supriyadi. Dalam hal ini ada dua hal, ada supply-demand. Maksud saya, dalam situasi kritis, orang butuh apa yang disebut dengan ratu adil. Misal dengan adanya tokoh yang dianggap menyelesakan persoalan, apakah pahlawan yang hilang. Nah di tengah kebutuhan masyarakat itu, ada Andaryoko yang di Semarang cukup lama dikenal sebagai budayawan, yang tahu banyak tentang peristiwa Blitar, yang ternyata tahu banyak tentang Supriyadi, yang akhirnya dipercaya sebagai Supriyadi.

Apakah Anda berpikir dia Supriyadi atau bukan ?
Saya lebih meyakini dia sebagai anggota PETA yang kemudian bekerja di Semarang di bidang pemerintahan dan mendapat kedudukan yang cukup lumayan, dan dia orangnya cerdas dan sehat, sehingga sampai sekarang masih umur panjang. Sebagai seorang anggota PETA yang ada di Blitar, dia tahu segala kegiatan PETA di Blitar. Tapi mungkin bukan Supriyadi, karena anggota PETA yang ada waktu itu kan ratusan.

Bagaimana caranya untuk membuktikan kebenaran yang bersangkutan Supriyadi atau bukan ?
Waktu Try Soetrisno jadi Wakil Presiden itu ada orang di Jogja ngaku sebagia Supriyadi. Kemudian Pak Try meminta Utomo Darmadi adik tiri Supriyadi untuk datang ke Jogja, dan mengecek dua hal. Pertama ngajak ngomong Belanda dan orang itu gak ngerti. Kemudian dia mencoba menanyakan sesuatu dalam bahasa populer jepang, orang itu gak bisa nangkap. Supriyadi itu sekolah MULO dan STOVIA, jadi bahasa Belanda lumayan, juga latihan jepang, Jadi banyak menguasai istilah-istilah Jepang, tapi orang itu dua-duanya nggak bisa.

Bagaimana dengan Andaryoko ?
Ini kan orangnya sudah sangat tua. Tetapi dalam percakapan dengan Baskara Wardaya dia sama sekali tidak pernah mengucap istilah bahasa Belanda satupun. Padahal orang yang berusia 70-80 seperti ibu SK trimurti, itu pasti keluar istilah Belanda karena pernah sekolah, pasti masih lengket. Ini kan cuma jawa saja

Cara lain ?
Bisa melalui keterangan-keterangan dia. Kita bisa mempercayai tokoh sejarah berdasarkan keterangan/pengetahuan yang dia sampaikan. Kalau informasi itu keliru kita bisa meragukan integritas dia.

Lalu, bagaimana dengan Andaryoko ?
Hampir banyak sekali dari informasi yang dia sampaikan itu tidak cocok dengan fakta historis.

Misalnya?
Misalnya dia menyatakan 17 agustus dia hadir waktu upacara penaikan bendera, dan bahkan ia ikut mengerek bendera. Padahal secara historis yang mengerek bendera itu adalah Latif Hendradiningrat, yang dibantu seorang anak kecil berpakaian celana pendek. Dia juga menyatakan sidang BPUPKI dia ikut membawakan tas Bung Karno, jadi apakah betul BK untuk ikut sidang itu bawa tas atau bagaimana.

Lainnya ?
Dia menyatakan sidang-sidang untuk menetapkan UUD 45 di gedung juang yang sekarang. Sebetulnya itu keliru juga karena sidang itu di gedung Pantjasila yang sekarang berada di dalam kompleks Deplu Pejambon. Dan yang menurut saya yang sangat aneh, dia tahun 45 menolak untuk ikut dalam pemerintahan karena dia meramalkan dalam 20 tahun lagi akan ada huru-hara di Indonesia dan ketika itu orang yang dukung Bung Karno akan tersingkir. Dia milih di luar pemerintahan. Menurut saya itu klenik, mistis, karena CIA saja tidak bisa meramalkan dengan tepat. Kemudian dia juga hadir di dalam Supersemar diserahkan di istana bogor, jadi banyak sekali kebetulan yang menimbulkan tanda tanya. Pengakuan Andaryoko dipertanyakan karena dia itu hadir di mana-mana. Dia itu tokoh mistis yang bisa meramal kejadian pada 20 tahun yang akan datang.

Lalu, bagaimana jika dia memang benar Supriyadi ?
Persoalannya, pahlawan nasional selama ini diusulkan oleh Depsos itu adalah orang yang sudah meninggal. Karena kalo belum meninggal diangkat jadi pahlawan, dan lalu dia melakukan hal tidak terpuji, itu akan sangat memalukan bangsa. Kalau Supriyadi sudah dinyatakan Pahlawan Nasional, dan ternyata ada orang masih hidup, apakah gelar kepahlawanan itu akan dicabut atau dicancell, menunggu sampai dia meninggal baru dikembalikan gelarnya, jadi agak repot juga. Karena selama ini, dia dinyatakan hilang meninggal.

Apa selama ini sudah ada upaya untuk mengecek Supriyadi memang sudah meninggal ?
Pemerintah juga melakukan upaya penggalian sebelum diangkat pehlawan. Dicari keterangan bahwa ada seorang haji di Banten yang menguburkan Supriyadi, ditunjukkan foto Supriyadi, dan pak haji di Banten itu tahu. Lalu kemudian ditemukan kerangka yang ternyata oleh adik tirinya dikatakan bukan punya ciri-ciri Supriyadi.

======================================================Pemerintah Blitar Akan Pertontonkan Pemberontakan PETA di Blitar



TEMPO Interaktif, Surabaya:Untuk membuktikan pengakuan Andaryoko Wisnu Prabu, warga Semarang yang mengaku sebagai Supriyadi, Pemerintah Kota Blitar akan mempertontonkan drama kolosal yang tiap tahun dipentaskan di Blitar tiap tanggal 14 Pebruari. Hal itu perlu dilakukan karena tiap tahun para veteran PETA (Pembela Tanah Air) dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di Blitar sambil melihat drama kolosal pemberontakan PETA.

"Kami siap mementaskan drama kolosal pemberontakan PETA untuk Pak Andaryoko dan mempertemukannya dengan para pejuang PETA," kata Walikota Blitar, Djarot Syaiful Hidayat kepada Tempo melalui telepon selulernya, Kamis (14/8).

Pertemuan dengan para pelaku pemberontakan PETA itu akan menjadi kesaksian otentik, apakah Andaryoko benar-benar Supriyadi atau hanya karangan cerita isapan jempol semata. Meskipun peristiwa itu telah terjadi 63 tahun silam, namun pasti ada hal-hal khusus yang bisa mengingatkan atau membuka kambali memori seseorang atas peritiwa itu.

"Jika ternyata para veteran PETA sama sekali tidak kenal dengan Andaryoko, berarti pengakuannya sebagai Supriyadi tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Djarot.

Sebelum dilakukan pertemuan antara Andaryoko dengan para relawan PETA dan keluarga Supriyadi di Blitar, Walikota Blitar meminta semua pihak tidak menjatuhkan vonis apapun kepada Andaryoko. "Biar dibuktikan dulu melalui uji sejarah yang berlandaskan analisis histori yang benar. Siapa tahu memang beliau adalah Supriyadi yang sesungguhnya," kata Walikota Djarot.
======================================================
Sejarah Supriyadi Dibelokkan Rezim Orde Baru

TEMPO Interaktif, Jakarta


Bahtiar Setyo Wicaksono, salah satu cucu Andaryoko Wisnu Prabu, mengungkapkan siapa sejatinya kakek 88 tahun yang mengaku sebagai Supriyadi, pejuang Peta di Blitar, Jawa Timur. Bahtiar adalah cucu Andaryoko yang tinggal serumah dan selalu menyertai kakeknya ke manapun pergi. Berikut wawancara Sohirin dari Tempo dengan pria 33 tahun tersebut.


Sejak kapan Andaryoko mengungkapkan dirinya seorang Supriyadi?


Sejak 2003, eyang mengumpulkan anak cucunya. Saat itu Senin Pahing di rumah eyang. Eyang memang suka bercerita tentang zaman revolusi.

Keluarga langsung percaya?

Tidak. Bahkan menganggap eyang bergurau. Tapi dari beberapa kesempatan, eyang terus meyakinkan kami.

Apa yang kemudian membuat keluarga menjadi percaya?

Suatu ketika eyang mengajak saya membuktikan bahwa dirinya Supriyadi, yaitu datang ke museum Supriyadi di Blitar. Di sana eyang mengatakan bahwa foto Supriyadi yang dipasang di museum bukan foto asli. Tapi memang sangat mirip dengan foto eyang.

Saya juga diajak menemui perempuan tua di Sragen. Menurut eyang perempuan tersebut adalah Sarinah, mantan pembantu Bung Karno. Ibu Sarinah sudah pikun. Kemudian saya diajak menemui Letnan Jenderal Marinir Chaerul Fathullah, mantan ajudan Bung Karno, yang tinggal di Kroya, Cilacap. Usia Pak Chaerul 115 tahun, tapi belum pikun.

Pak Chaerul memanggil eyang dengan sapaan Dik Sup. Pak Chaerul bercerita saat Bung Karno dan beberapa tokoh kemerdekaan berkumpul di Rengas Dengklok, datanglah beberapa serdadu Jepang. Saat itu Pak Chaerul sudah menyiapkan senjata untuk menembak serdadu Jepang. Kata Pak Chaerul: Untung Dik Sup mengingatkan saya, sehingga saya tidak jadi menembak.

Suatu hari Pak Baskara (pengarang buku Kesaksian Supriyadi) mempertemukan eyang dengan Sukarjo Wilarjito (mantan pembantu Bung Karno) pengarang buku "Mereka Menodong Bung Karno". Pak Baskara bertanya kepada Pak Wilarjito apakah kenal dengan Andaryoko. Pak Wilarjito berkata, "Siapa ya.. kok wajahnya tidak asing...Oh, Kang Sup ya...". Pak Wilarjito memanggil eyang dengan sapaan Kang Sup.

Ada bukti lain yang makin menyakinkan keluarga?

Dengan data dan peristiwa tersebut, saya dan keluarga sangat yakin. Sebetulnya eyang masih mempunyai satu saksi kunci yang masih hidup, tapi kata eyang, belum saatnya disebutkan sekarang.

Siapa saksi kunci tersebut?

Eyang eyang masih merahasiakannya, tapi dia adalah bekas anak buah eyang di pasukan Peta.

Sebelumnya sudah ada yang mengaku sebagai Supriyadi?

Awalnya kami juga mengingatkan eyang, jangan mengaku-ngaku. Tapi eyang terus membuktikan dirinya Supriyadi. Eyang mengatakan bahwa semua itu palsu. Bahkan pernah bilang suatu saat yang asli akan muncul betulan.

Pengakuannya sebagai Supriyadi menimbulkan polemik?

Sadar dengan sesadar-sadarnya. Tapi eyang selalu bilang bahwa hal ini dilakukan untuk meluruskan sejarah bangsa. Orang lain mau percaya atau tidak, tidak peduli. Yang penting tugas meluruskan sejarah sebagaimana yang diamanatkan Bung Karno sudah dilaksanakan. Eyang juga tidak mau diangkat sebagai pahlawan.

Kenapa baru diceriterakan sekarang?


Setiap kali saya menanyakan itu, saya selalu dimarahi. Eyang balik bertanya: Kamu itu goblok atau memang tidak tahu?. Beliau menyelamatkan diri dari kejaran Jepang, bersembunyi di hutan hingga beberapa bulan. Lalu menemui Bung Karno untuk minta petunjuk. Bung Karno menyarankan, suatu saat eyang harus menceritakan sejarah yang sebenarnya. Bung Karno dilengserkan Soeharto. Kalau mengaku saat Soeharto masih hidup, pasti akan ditahan.

Artinya sejarah Supriyadi sengaja dibelokkan seolah-olah sudah meninggal?

Kata eyang sengaja dibelokkan oleh rezim Orde Baru.

Bagaimana dengan pengakuan Ki Oetomo (adik tiri Supriyadi) yang menyatakan bahwa Supriyadi sudah meninggal?

Eyang siap untuk diverifikasi dan ditemukan dengan orang yang mengaku keluarga Supriyadi.
======================================================

Riwayat Negeri Lam No di Aceh


Kabupaten Aceh Jaya terbentuk pada tahun 2002 dengan enam Kecamatan. Sebelah utara berbatasan dengan Aceh Besar dan Pidie; sebelah Selatan dengan Samudra Indonesia dan Aceh Barat; sebelah Timur dengan Pidie dan Aceh Barat; sebelah barat dengan Samudra Indonesia.

Secara geografis daerah ini memiliki 3.727,00 km. di Aceh Jaya hanya terdapat satu bahasa daerah yakni bahasa Aceh. Suku-suku lain selain Aceh yang berdiam di daerah ini yang pada awalnya berbahasa Indonesia, setelah agak lama menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat, mereka juga berbahasa Aceh. Masyarakat Tionghoa yang kebetulan berdiam di daerah ini umumnya juga berbahasa Aceh sebagaimana masyarakat setempat.

Berawal dari Lhan Na

Di hulu Krueng Daya dulu ada sebuah dusun yang dinamai Lhan Na, sekarang disebut Lam No. Menurut H M Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara (1961) penghuni dusun itu berasal dari Bangsa Lanun. Orang Aceh menyebutnya “lhan” atau bangsa Samang yang datang dari Semenanjung Malaka dan Hindia Belakang seperti Burma dan Campa. Kemudian ke hulu Krueng Daya itu juga datang orang-orang baru dari Aceh Besar, Pasai dan Poli (Pidie).

Pada abad XV terjadi perang antara Raja Pidie dengan Raja Pasai. Perang itu disulut oleh Raja Nagor bekas petinggi di Pasai. Dalam perang itu Pasai Kalah, Sultan Haidar Bahian Sjah tewas. Raja Nagor kemudian memerintah Pasai (1417). Beberapa keturunan Raja Pasai kemudian melakukan perpindahan. Sampai kesuatu tempat mereka kelelahan tak berdaya melanjutkan perjalanan.

Mereka pun mendirikan negeri baru di daerah tersebut, negeri itu diberinama Daya untuk mengenang ketakberdayaan mereka melanjutkan perjalanan. Cerita yang sama juga disebutkan dalam sebuah dongeng.
Menurut H M Zainuddin (1961), dahulu kala sekelompok orang datang ke negeri itu dengan perahu, sampai di muara sungai perahu mereka kandas. Mereka semua turun untuk mendorong perahu tersebut, tapi perahu itu tetap kandas. Mereka tidak berdaya lalu turun dan membuka perkampungan di sekitar muara sungai itu. Mereka pun menamai daerah itu dengan sebutan Daya.

Suatu ketika Raja Daya dan pasukannya melakukan pemeriksaan ke hulu sungai. Sampai di sana mereka mendapati sebuah perkampungan yang dihuni oleh orang yang mirip dengan bangsa Lanun dari Malaka dan Hindia Belakang. Mereka disebut orang Lhan.

Orang orang Lhan ini merupakan penduduk asli di sana, yang kala itu masih suka mengenakan pakaian dari kulit kayu dan kulit bintang yang tipis. Karena sudah lama mendiami tempat itu maka disebutlah mereka sebagai orang “Lhan Kana” atau “Lhan Na” yang artinya orang Lhan sudah ada disitu. Lama kelamaan terjadi perubahan pengucapan dari “Lhan Kana” menjadi “Lam Na” dan seterusnya ketika Belanda masuk ke Aceh ucapannya menjadi “Lam No”.

Masih menurut H M Zainudin, berdasarkan keterangan T Radja Adian keturunan Uleebalang (Zelfbestuurder) pada tahun 1945 diceritakan, Negeri Daya pernah diperintah oleh Pahlawan Syah, seorang raja yang pernah berperang dengan Poteu Meureuhom. Pahlawan Syah yang dikenal dengan sebutan Raja Keuluang merupakan orang yang kebal terhadap senjata apa pun, ia tidak bias ditaklukkan.

Ia orang yang sangat kuat. Kekuatannya itu diyakini masih menyisakan bekas berupa bekas tapak kakinya. Saat ia mencabut batang kelapa kakinya terbenam ke tanah. Tapak kaki itu disebut-sebut berada di Kuala Daya.

Disebut sebagai Raja Keuluang karena Pahlawan Syah berpostur tinggi besar, ketika dipanggil untuk menghadiri rapat (Meusapat) oleh Raja, peraturan yang diberikan Pahlawan Syah dan daerah yang dipimpinya selalu berbeda dengan daerah lain. Ia banyak mendapat keluangan, maka digelarlah dia Raja Keuluang.

Negeri Keuluang itu terdiri dari Keuluang, Lam Besoe, Kuala Daya dan Kuala Unga. Raja Keuluang meninggal setelah berperang dengan Poteumeureuhom. Raja yang kebal senjata itu berhasil ditangkap ketika daerahnya ditaklukkan. Ia meninggal dalam ikatan rantai besi.

Masa pemerintahan Raja Keuluang atau Pahlawan Syah menurut pemeriksaan Controleur Vetner di calang pada tahun 1938, diperkirakan antara tahun 1500 M sampai 1505 M. seber lain adalah T R Adian, sebagaimana dikutip H M Zainuddin. Menurutnya, pertalian keluarga Raja Keuluang tersebar dari Tanoeh Abee Sagi XXII Mukim Seulimum, Krueng Sabe dekat Calang dan Negeri Bakongan, Aceh Selatan. “Kalau naskah ini serta keterangan T R Adian itu kita hubungkan dengan makam Sultan Ali Riayat Sjah atau Marhum Daya, jang menurut pemeriksaan Prof Dr Mussain Djajadiningrat, Marhum Daja meninggal dalam tahun 1508,” tulis H M Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara (1961).

Sementara lainnya, di Kuala Ungan dekat Daya ada satu kuburan raja yang mengkat pada tahun 1497, tapi belum jelas makam siapa apakah makam Marhum Unga atau Marhum Daya. Masih juga belum jelas apakah Marhung Unga itu adalah Pahlawan Syah yang disebut sebagai Raja Keuluang, anak raja Pasai yang pertama membuka Negeri Daya.

Kemudian datang Marhum Daja Sulthan Ali Riajat Sjah jang namanja Uzir, anak dari Sulthan Inajat Sjah ibnu Abdullah Al Malikul Mubin, jang bersaudara dengan Sulthan Muzaffar Sjah. Raja di Atjeh Besar dan bersaudara pula dengan Munawar Sjah Raja di Pidie. Diyakinkan negeri Keluang/Daja itu berdiri pada akhir abad ke XV oleh Marhum Unga, bias jadi juga dibangun oleh Marhum Daya.


Setelah Negeri Daya maju dengan berbagai hasil bumi, pada akhir abad ke XVI datang ke sana orang orang Portugis, Arab, Spanyol dan Tionghoa untuk membeli rempah-rempah. Setelah itu datang juga orang Belanda, Inggris dan Perancis. Malah sampai kini di Lam No terdapat keturunan Portugis.

Negeri Pasir Karam

Di sekitar Negeri Daya juga pernah terkenal Negeri Pasir Karam, negeri yang kemudian diyakini sebagai asal mula Aceh Barat. Kisah ini bermula dari kedatangan orang Minangkabau yang lari dari negerinya membuat perkebunan di daerah itu maju. Ungkapan “Di sikolah kito balabueh” disebut-sebut sebagai asal mula nama Meulaboh.

Hal ini sesuai dengan pendapat HM. Zainuddin dalam buku Tarikh Atjeh dan Nusantara (1961). Menurut beliau, asal mula Meulaboh adalah Negeri Pasir Karam. Negeri itu dibangun dibangun pada masa Sultan Saidil Mukamil (1588-1604). Pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) negeri itu ditambah pembangunannya.

Di negeri itu dibuka perkebunan merica, tapi negeri ini tidak begitu ramai karena belum dapat menandingi Negeri Singkil yang banyak disinggahi kapal dagang untuk mengambil muatan kemenyan dan kapur barus. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Djamalul Alam, Negeri Pasir Karam kembali ditambah pembangunannya dengan pembukaan kebun lada.

Untuk mengolah kebun-kebun itu didatangkan orang-orang dari Pidie dan Aceh Besar disusul kemudian dengan kedatangan orang-orang Minangkabau yang lari dari negerinya akibat pecahnya perang Padri (1805-1836). Sampai di Teluk Pasir Karam pendatang dari Minangkabau itu sepakat untuk berlabuh. “Di sikolah kito balabueh,” kata mereka. Semenjak itulah Negeri Pasir Karam dikenal dengan nama Meulaboh dari asal kata balabueh, atau berlabuh.

Pendatang dari Minangkabau itu kemudian hidup berbaur dengan masyarakat setempat. Di antara mereka malah ada yang menjadi pemimpin di antaranya Datuk Machudum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam. Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Mereka menebas hutan mendirikan pemu****n yang menjadi tiga daerah, Datuk Machudum Sakti membuka negeri di Merbau, Datuk Raja Agam di Ranto Panyang dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh di Ujong Kala yang menikah dengan anak salah seorang yang berpengaruh di sana. Sama dengan masyarakat setempat, ketiga Datuk tersebut juga memerintahkan warganya untuk membuka ladang sehingga kehidupan mereka jadi makmur.

Ketiga Datuk itu pun kemudian sepakat untuk menghadap Sultan Aceh, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah untuk memperkenalkan diri. Ketika menghadap Sultan, masing-masing Datuk membawakan satu botol mas urai sebagai buah tangan. Mereka meminta kepada raja Aceh agar memberikan batas-batas negeri mereka. Permintaan itu dikabulkan, Raja Alam Song Song Buluh kemudian diangkat menjadi Uleebalang Meulaboh dengan ketentuan wajib mengantar upeti tiap tahun kepada bendahara kerajaan.

Para Datuk itu pun setiap tahun mengantar upeti untuk Sultan Aceh, tapi lama-kelamaan mereka merasa keberatan untuk menyetor langsung ke kerajaan, karena itu mereka meminta kepada sultan Aceh saat itu seorang wakil sultan di Meulaboh sebagai penerima upeti. Permintaan ketiga Datuk itu dikabulkan oleh Sultan dan dikirimlah ke sama Teuku Chiek Purba Lela yang menjadi wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Para Datuk tersebut merasa sangat senang dengan kedatangan utusan Sultan yang ditempatkan sebagai wakilnya di Meulaboh itu. Mereka pun kemudian kembali meminta pada Sultan Aceh untuk mengirim satu wakil sultan yang khusus mengurus masalah perkara adat dan pelanggaran dalam negeri. Permintaan itu juga dikabulkan. Sultan Aceh mengirim Penghulu Sidik Lila Digahara ke sana dan berwenang menyidik segala hal yang berkaitan dengan pelanggaran undang-undang negeri.

Permintaan itu terus berlanjut. Kepada Sultan Aceh para Datuk itu meminta agar dikirimkan seorang ulama untuk mengatur persoalan nikah, pasah, dan hukum Syariat. Sultan Aceh mengirim Teungku Tjut Din, seorang ulama yang bergelar Almuktasimu-binlah, untuk menjadi kadhi Sultan Aceh di Meulaboh.

Meulaboh bertambah maju ketika Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Ibrahim Mansjur Sjah (1858-1870). Karena Minangkabau saat itu sudah dikuasai Belanda, semakin banyaklah orang dari Minangkabau yang pindah ke sana. Di tanah Minangkabau mereka tidak lagi bebas berkebun setelah Belanda menerapkan peraturan oktrooi dan cultuurstelsel yang mewajibkan warga menjual hasil kebunnya kepada Belanda.

Di Meulaboh para pendatang dari Minangkabau itu membuka perkebunan lada yang kemudian membuat daerah itu disinggahi kapal-kapak Inggris untuk membeli rempah-rempah. Karena semakin maju maka dibentuklah federasi Uleebalang yang megatur tata pemerintahan negeri. Federasi itu kemudian dinamai Kaway XVI yang diketuai oleh Uleebalang Keujruen Chiek Ujong Kalak.

Federasi itu disebut Kaway XVI karena dibentuk oleh enam belas Uleebalang, yaitu Uleebalang Tanjong, Ujong Kalak, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeu, Gunoeng Meuh, Kuala Meureuboe, Ranto Panyang, Reudeub, Lango Tangkadeuen, Keuntjo, Gume/Mugo, Tadu, serta Seuneu’am.

Selain federasi Kaway XVI, di perbatasan Aceh Barat dan Pidie juga terbentuk federasi XII yang terdiri dari 12 Uleebalang yaitu: Pameu, Ara, Lang Jeue, Reungeuet, Geupho, Reuhat, Tungkup/Dulok, Tanoh Mirah/Tutut, Geumpang, Tangse, Beunga, serta Keumala. Federasi XII ini dikepalai oleh seorang Kejreuen yang berkedudukan di Geumpang.



Misteri Harta Karun 8 Ton Suku Maya


Seorang profesor mengklaim menemukan petunjuk lokasi harta karun suku Maya seberat 8 ton pada Dresden Codex

Kita selalu takjub dengan petualangan memburu harta karun seperti yang digambarkan dalam film Indiana Jones atau National Treasure. Tetapi bagi Joachim Rittsteig, petualangan yang sesungguhnya baru akan dimulai karena ia mengklaim telah berhasil menemukan sebuah petunjuk yang mengarah kepada lokasi harta karun suku Maya. Ia menemukan petunjuk itu di dalam Dresden Codex yang telah berusia ratusan tahun.



Perlu dicatat kalau Joachim bukanlah seorang pengkhayal yang terlalu banyak menonton film petualangan. Ia adalah seorang profesor Emeritus di universitas Dresden yang telah mempelajari kebudayaan suku Maya selama 40 tahun. Ia juga ahli bahasa suku Maya dan salah satu objek penelitiannya adalah Dresden Codex yang berisi catatan-catatan mengenai kebudayaan suku Maya.

Joachim percaya kalau pada Codex itu tersembunyi harta karun berupa emas murni seberat 8 ton. Bukan itu saja, Joachim mengklaim mengetahui lokasi persembunyian harta tersebut, yaitu di dasar danau Izabal.

Dresden Codex atau Codex Dresdensis sendiri adalah satu dari empat dokumen utama yang masih tersisa dari kebudayaan Maya. Dokumen ini pertama kali ditulis oleh para pendeta suku Maya pada tahun 1250 Masehi. Dokumen ini memiliki 74 halaman dengan 74 hieroglyps yang berbeda. Jika direntangkan, panjangnya mencapai 3,56 meter. Para ahli percaya kalau dokumen ini adalah dokumen tertua yang pernah ditulis di benua Amerika.


Dresden codex ditulis diatas kertas yang terbuat dari batang pohon ara dan ditulis oleh delapan penulis yang memiliki gaya tulisan yang berbeda-beda. Masing-masing dari mereka juga membahas subjek yang berbeda pula.

Ada bahasan mengenai astronomi yang memuat tabel Venus dan Bulan dengan akurasi yang luar biasa. Tabel bulan itu memiliki interval yang berkolerasi dengan gerhana. Sedangkan tabel Venus berkorelasi dengan pergerakan planet itu di angkasa.

Di dalamnya juga ada almanak, tabel astrologi, informasi mengenai musim-musim, banjir, penyakit, pengobatan, referensi keagamaan dan saran mengenai waktu bercocok tanam.


Selain itu, codex ini jugalah yang dianggap banyak orang telah memprediksikan kehancuran bumi pada tahun 2012 karena pada bagian akhirnya diceritakan mengenai bumi yang tenggelam oleh air yang keluar dari mulut naga.

Pertama kali Codex ini dikenal masyarakat luas adalah pada tahun 1739 ketika Johann Christian Gotze, direktur Royal Library di Dresden, membelinya dari kolektor pribadi di Wina, Austria. Bagaimana awalnya Codex itu bisa berada di Wina tidak diketahui dengan pasti. Namun ada spekulasi yang menyebutkan kalau Codex itu mungkin telah dihadiahkan oleh Hernando Cortes kepada Charles I, Raja Spanyol pada waktu itu.

Seperti yang kita ketahui, Hernando Cortes adalah penakluk Spanyol yang berhasil menguasai sebagian besar wilayah Mexico pada awal abad ke-16, termasuk kerajaan Aztec yang berhasil dilumpuhkannya pada tahun 1521.

Setelah diperoleh oleh Gotze, pada tahun 1744, Codex itu diberikan kepada Royal Library di Dresden yang kemudian memamerkannya untuk pertama kali pada tahun 1848.

Pada perang dunia II, codex itu mengalami kerusakan serius akibat pengeboman. Dua belas halamannya rusak dan bagian-bagian lainnya hancur. Namun, usaha restorasi yang terus menerus berhasil memulihkannya sehingga bisa dipelajari hingga kini.

Siapa sangka, dokumen yang awalnya hanya dianggap bernilai sejarah ini ternyata mengandung petunjuk mengenai harta karun yang sangat berharga.

"Codex Dresden memiliki petunjuk yang mengarah kepada delapan ton emas murni." Kata Joachim Rittsteig.

Dengan disponsori oleh surat kabar Bild dari Jerman, Ia telah menyiapkan sebuah ekspedisi menuju danau Izabal, tempat yang dipercayainya menyimpan harta karun tersebut.

Joachim Rittsteig
Menurut Rittsteig, halaman 52 pada codex tersebut menyebutkan mengenai sebuah kota suku Maya yang bernama Atlan yang hancur oleh gempa bumi pada tanggal 30 Oktober tahun 666 sebelum Masehi. Di kota ini, mereka menyimpan 2.156 batangan emas yang dipermukaannya terukir hukum-hukum suku Maya.

Ketika kota itu hancur oleh gempa, emas-emas itu ikut tenggelam ke dalam danau Izabal yang berada di timur Guetamala.

Citra Satelit danau Izabal
Rittsteig mengklaim telah berhasil menemukan reruntuhan kota Atlan dengan citra radar yang diambil di daerah tersebut.


Ia memperkirakan kalau seluruh batangan emas itu bernilai sekitar 290 juta dolar Amerika. Ini jumlah yang sangat besar, bahkan untuk ukuran saat ini. Jika harta ini ditemukan, dipastikan kalau nilai sejarahnya akan jauh lebih berharga dibanding nilai materinya.

Selain masalah harta, ada satu hal lagi yang menarik dari perkataan Rittsteig. Kalian mungkin memperhatikan kalau nama kota suku Maya yang hancur oleh gempa bumi tersebut adalah Atlan.

Teringat dengan sesuatu?

Ya, Atlantis yang juga hancur oleh gempa bumi sekitar tahun 10.000 sebelum Masehi. Tentu saja yang membedakan kedua kota itu adalah rentang waktu kehancuran yang sangat jauh, hampir 9.000 tahun.

Jika kita tidak bisa menemukan Atlantis yang misterius itu, mungkin kita masih bisa menemukan kota Atlan yang penuh dengan batangan emas. Dan saya kira itu pun akan menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Jadi, kita menunggu kabar darimu Prof. Rittsteig!