Labels

100 Tokoh Dunia (100) Alam (28) Alien (9) Artikel (268) Binatang (18) Catatanku (17) Do"a (7) Download (6) FACEBOOK (8) Fakta (20) Film (23) Foto (91) GaMe (3) Handphone (6) Imsakiyah (17) Indonesiaku (3) Internet (11) Islam (174) Kata2 (5) Kenapa? (9) Kesehatan (24) Kisah (35) Kisah 25 Nabi (22) Komputer (12) Lelucon (33) Minangkabau (21) Misteri (74) Musik (9) Nusantara (1) Olah Raga (17) Pendidikan (2) Photoshop (86) Puisi (14) Renungan (37) Sejarah (110) Teknologi (13) Tips n Trik (16) Tokoh (168) Tour De Singkarak 2011 (7) Tour De Singkarak 2013 (1) TV (7) Unik n Kreatif (288) Video (7) Widget (1)

“Aceh Pungo”, Pembunuhan Khas Aceh



Perang Belanda di Aceh yang meletus sejak tahun 1873 hingga awal abad XX belum berakhir. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat mengakhiri perang yang telah banyak memakan korban, baik di pihak Aceh maupun di pihak Belanda sendiri. Menjelang akhir abad XIX dan pada awal abad XX, Belanda melaksanakan suatu tindakan kekerasan melalui sebuah pasukan elit yang mereka namakan het korps marechaussee (pasukan marsose).

Pasukan ini dari serdadu-serdadu pilihan yang memiliki keberanian dan semangat tempur yang tinggi, dengan tugas untuk melacak dan mengejar para pejuang Aceh melawan Belanda ke segenap pelosok daerah Aceh. Mereka akan membunuh para pejuang Aceh yang berhasil ditemukan atau setidaknya membuang ke luar daerah Aceh.

Dengan cara kekerasan ini Belanda mengharapkan rakyat atau para pejuang akan takut dan menghentikan perlawanan Belanda. Namun apa yang terjadi ? Akibat tindakan kekerasan tersebut telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam bagi para pejuang Aceh yang bersisa, lebih-lebih bagi keluarga mereka tinggalkan, ayah, anak, menantu, sanak keluarga atau kawomnya yang telah menjadi korban keganasan pihak Belanda.

Untuk membalas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Belanda tersebut para pejuang Aceh melakukan suatu cara yang kemudian diistilahkan oleh Belanda dengan nama Atjeh Moorden atau het is een typische Atjeh Moord, Suatu pembunuhan khas Aceh yang orang Aceh sendiri menyebutnya poh kaphe (bunuh kafir). Di sini para pejuang Aceh tidak lagi melakukan peperangan secara bersama-sama atau berkelompok, tetapi secara perseorangan.

Dengan nekad seseorang melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda apakah ia serdadu, orang dewasa, perempuan atau anak-anak sekalipun menjadi sasaran untuk dibunuh. Dan tindakan pembunuhan nekad ini dilakukan di mana saja di jalan, di pasar, di taman-taman atau pun pada tangsi-tangsi sendiri.

Pembunuhan khas Aceh ini antara tahun 1910 – 1920 telah terjadi sebanyak 79 kali dengan korban di pihak Belanda 12 orang mati dan 87 luka-luka, sedang di pihak Aceh 49 tewas. Puncak dari pembunuhan ini terjadi dalam tahun 1913, 1917, dan 1928 yaitu sampai 10 setiap tahunnya. Sedangkan di tahun 1933 dan 1937 masing-masing 6 dan 5 kali. Adapun jumlah korban dalam perang Belanda di Aceh selama sepuluh tahun pada awal abad XX (1899-1909) sebagaimana disebutkan Paul Van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog tidak kurang dari 21.865 jiwa rakyat Aceh.

Dengan kata lain, angka itu hampir 4 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. Angka ini setelah 5 tahun kemudian (1914) naik menjadi 23.198 jiwa dan diperhitungkan seluruh korban jiwa (dari pihak Aceh dan Belanda) dalam kurun waktu tersebut hampir sama dengan yang telah jatuh pada masa perang 1873 – 1899.

Hal ini belum lagi korban yang jatuh setelah tahun 1914 hingga tahun 1942. Salah seorang perwira Belanda yang menjadi korban akibat pembunuhan khas Aceh ini ialah Kapten CE Schmid, komandan Divisi 5 Korp Marsose di Lhoksukon pada tanggal 10 Juli 1933, yang dilakukan oleh Amat Lepon. Sementara pada akhir bulan Nopember 1933 dua orang anak-anak Belanda yang sedang bermain di Taman Sari Kutaradja (sekarang Banda Aceh) juga menjadi korban pembunuhan khas Aceh ini.


Pembunuhan khas Aceh adalah sikap spontanitas rakyat yang tertekan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan Marsose Belanda. Sikap ini juga dijiwai oleh semangat ajaran perang Sabil untuk poh kaphe (membunuh kafir). Di samping itu juga adanya suatu keinginan untuk mendapatkan mati syahid. Dan untuk membalas dendam yang dalam istilah Aceh disebut tueng bila, sebuah istilah yang menggambarkan betapa membara semangat yang dimiliki oleh rakyat Aceh.

Akibat adanya pembunuhan nekad yang dilakukan rakyat Aceh tersebut menyebabkan para pejabat Belanda yang akan ditugaskan ke Aceh berpikir berkali-kali. Dan ada di antara mereka yang tidak mau mengikutsertakan keluarganya (anak-istri) bila bertugas ke Aceh. Malahan ada yang memulangkannya ke negeri Belanda. Para pejabat Belanda di Aceh selalu membayangkan dan memikirkan bahaya Atjeh Moorden tersebut.

Mereka tidak habis pikir, bagaimana hanya dengan seorang saja dan bersenjata rencong yang diselipkan dalam selimut atau bajunya para pejuang Aceh berani melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda, bahkan pada tangsi-tangsi Belanda sekalipun. Oleh karena itu, ada di antara orang Belanda yang menyatakan perbuatan itu “gila” yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang waras, maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda yang menyebutnya Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh pungo (Aceh Gila).

Untuk mengkajinya pihak Belanda mengadakan suatu penelitian psikologis terhadap orang-orang Aceh. Dalam penelitian itu terlibat Dr. R.H. Kern, penasihat pemerintah untuk urusan kebumiputeraan dan Arab, Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perbuatan tersebut (Atjeh Moorden) termasuk gejala-gejala sakit jiwa.

Suatu kesimpulan yang mungkin mengandung kebenaran, tetapi juga mungkin terdapat kekeliruan, mengingat ada gejala-gejala yang tidak terjangkau oleh dasar-dasar pemikiran ilmiah dalam Atjeh Moorden tersebut. Menurut R.H. Kern apa yang dilakukan rakyat Aceh itu adalah perasaan tidak puas akibat mereka telah ditindas oleh orang Belanda karena itu jiwanya akan tetap melawan Belanda.



Dengan kesimpulan bahwa banyak orang sakit jiwa di Aceh, maka pemerintah Belanda kemudian mendirikan rumah sakit jiwa di Sabang. Dr. Latumenten yang menjadi kepala Rumah Sakit Jiwa di Sabang kemudian juga melakukan studi terhadap pelaku-pelaku pembunuhan khas Aceh yang oleh pemerintah Belanda mereka itu diduga telah dihinggapi penyakit syaraf atau gila.

Namun hasil penelitian Dr. Latumenten tersebut menunjukkan bahwa semua pelaku itu adalah orang-orang normal. Dan yang mendorong mereka melakukan perbuatan nekad tersebut adalah karena sifat dendam kepada Belanda yang dimiliki yaitu tueng bila. Untuk itu seharusnya tindakan kekerasan jangan diperlakukan terhadap rakyat Aceh.

Selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijaksanaan baru yang dikenal dengan politik pasifikasi lanjutan gagasan yang dicetuskan oleh C. Snouck Hurgronje. Sesuatu politik yang menunjukkan sifat damai di mana Belanda memperlihatkan sikap lunak kepada rakyat Aceh, mereka tidak lagi bertindak hanya dengan mengandalkan kekerasan, tetapi dengan usaha-usaha lain yang dapat menimbulkan simpati rakyat.

Penulis: Rusdi Sufi, Sejarawan Aceh
Sumber

Sebab Presiden Mesir Mohammad Mursi di KUDETA.


MENGAPA kalangan liberal sangat getol berusaha menjatuhkan Presiden Mesir DR Muhammad Mursi?

Salah seorang pembaca mengirimkan tulisan menarik tentang Dosa-dosa Presiden Mesir DR Muhammad Mursi. Bisa jadi, opini yang dikirim melalui fanpage ini benar adanya. Bahwa 'dosa-dosa' inilah yang membuat pemerintahan Mursi digoyang.

Berikut tulisan lengkapnya:
  1. Dosa Mursi itu adalah karena dia bisa mengantarkan Mesir dalam setahun ke arah swasembada pangan. Yang dulu zaman mubarak gandum hanya boleh diproduksi dalam negeri sebanyak 20 % paling banyak, sekarang sudah melampai 60 %.
  2. Dulu harus mengimpor ke Amerika, sekarang Mursi mengimpor dari negara yang dia inginkan, yang lebih menguntungkan rakyat. Kondisi ini mampu menghemat belanja negara sampai milyaran dollar pertahun sekaligus meningkatkan perekonomian petani.
  3. Dosa Mursi adalah karena mengembangkan terusan Suez menjadi pasar bebas dunia. Yang dulu di zaman mubarak hanya menghasilkan uang sebanyak 5.6 milyar dollar pertahun, akan meningkat 100 milyar dollar pertahun.
  4. Dosa Mursi adalah menaikkan gaji PNS dan pensiunan sebanyak 200 % lebih, sementara harga-harga barang bisa dipertahankan tidak naik, sehingga PNS jadi lebih makmur.
  5. Dosa Mursi adalah membangun pabrik samsung terbesar di Arab di provinsi Bani Suwef, sehingga harga barang elektronik menjadi murah.
  6. Dosa Mursi adalah membuat pabrik mobil sendiri sehingga untuk tahun-tahun ke depan tidak perlu lagi mengimpor mobil.
  7. Dosa Mursi adalah membuat pabrik senjata sendiri sehingga tidak perlu lagi mengimpor senjata-senjata rongsokan dari Amerika.
  8. Dosa Mursi adalah membuat pabrik innar (sejenis tablet/ipad), sehingga seluruh rakyat nanti bisa mencicipi enaknya memakai barang elektronik bermutu dengan harga terjangkau. Anak-anak sekolah bisa belajar pakai alat canggih.
  9. Dosa Mursi adalah mampu mempertahankan, bahkan menambah cadangan devisa Mesir yang sebelumnya sudah di ambang kebangkrutan.
  10. Dosa Mursi terbesar adalah dia selalu shalat berjamaah di mesjid, hafal al Qur'an, selalu tahajjud dan sabar terhadap segala caci maki.
  11. Dosa Mursi adalah mendukung perjuangan Palestina, Suriah dan Myanmar.
  12. Dosa Mursi yang tidak kalah parahnya mengeluarkan Mesir dari rongrongan kekuasaan militer dalam 40 hari, di mana Erdogan butuh bertahun-tahun untuk melakukan itu.
  13. Dosa Mursi meningkatkan harga diri negara Mesir di hadapan negara Arab lain bahkan dunia. Hingga Mesir jadi negara yang diperhitungkan.
  14. Dosa Mursi adalah berusaha mengembangkan tenaga nuklir dan tenaga matahari sebagai energi alternatif di Mesir.
  15. Dosa Mursi adalah karena ia mampu menarik investor luar negeri dan mempertahankan kepercayaan asing di Mesir.
  16. Dosa Mursi adalah membuka kembali jalan darat antara Mesir dan Sudan sehingga kerja sama dalam bidang ekonomi kedua negara akan meningkat.
  17. Dosa Mursi adalah mampu membuka lapangan kerja baru untuk 600 ribu lebih orang pengangguran.
  18. Dosa Mursi adalah berusaha mengembalikan harta yang dibawa kabur ke luar negeri oleh Husni Mubarak dan antek-anteknya.
  19. Dosa Mursi adalah menegakkan peradilan yang sebenarnya dan berusaha menghabisi kecurangan.
Dan banyak lagi dosa-dosanya yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu yang membikin lawan politik, terutama Amerika dan Israel jadi meradang.


Karena dosa-dosa itulah maka Mursi akan digulingkan oleh sisa-sisa antek Mubarak, liberalis, sekuler, komunis, dan Kristen Koptik serta muslim Ambigu. Mereka memandang Mursi sudah gagal mengantarkan Mesir ke arah kehancuran.

Itulah logika yang ada dalam kehidupan sekarang...

12 Pesan Mohammad Mursi Setelah Dikudeta Militer

Keputusan Militer Mesir menghapus legitimasi mayoritas rakyat Mesir yang dititipkan pada Mursi menjadi catatan buran pengkhianatan demokrasi Mesir. Pasalnya dalam umur pemerintahan yang baru setahun, perjuangan memulihkan stabilitas negeri Kinanah tersebut harus terhenti di tangan militer. Di lain sisi keputusan ini hanya menguntungkan oposisi yang tidak siap menerima kenyataan demokrasi.
Ada kekhawatiran yang dirasakan Sang Presiden -yang kini dikhianati- tentang masa depan Mesir. Sebagai seorang pemimpin yang memahami perpolitikan, dia merasakan bahaya tengah mengancam masa depan Mesir. Ada pihak-pihak yang selama ini ditakutkan akan mencuri revolusi dan kini ada bersama barisan rakyat yang menginginkannya jatuh.
Sebagai wujud kecintaannya pada rakyat Mesir, Dr. Mursi menyempatkan diri menyampaikan beberapa pesan dan tanggapan terkait keputusan militer.

Berikut adalah ringkasan tanggapan Presiden Mursi:

  1. Saya adalah Presiden yang sah dan resmi, dipilih langsung oleh rakyat pra/pasca pernyataan Militer
  2. Ini adalah upaya kudeta. Tapi saya tetap menghimbau agar stabilitas keamanan negara tetap dijaga
  3. Saya menghimbau kepada semua agar tidak bertikai dan menumpahkan darah sesama
  4. Revolusi kita (25 Januari) telah dicuri oleh rezim lama dan oposisi
  5. Beberapa langkah telah ditawarkan untuk melengkapi tujuan revolusi di antaranya Pileg Jurdil, Dialog dll. Tapi ditolak
  6. Ini adalah upaya untuk mencuri Revolusi kita yang murni (25 Januari) agar kita balik ke awal dan mengabaikan semua capaian2
  7. Saya katakan harus segera dilaksanakan Pemilu Legislatif yang jujur dan adil dengan pengawasan Militer dan Kemendagri
  8. Revolusi 25 Januari itu keinginan rakyat, bagaimana bisa keinginan tersebut dilupakan hanya dalam waktu 1 tahun?
  9. Saya tidak akan menyerahkan legitimasi ini kepada legitimasi baru. Karena itu bahaya
  10. Jika ini dibiarkan, UU akan selalu dilanggar. Tiap bulan akan ada UU baru menghapus yang lama demi kepentingan sepihak
  11. Kita semua mencintai Mesir. Saya katakan sekali lagi, tidak ada pengganti bagi UU yang sah
  12. Saya akui adanya penolakan besar, tapi saya juga melihat adanya dukungan yang tidak kalah besar bagi legitimasi UU
Demikian ringkasan tanggapan Presiden Mursi pasca keluarnya pernyataan Militer Mesir.

Inilah Kronologi Kudeta Militer Terhadap Presiden Mursi



Tanggal 4 Juli 2013 Kudeta atas Dr. Muhammad Mursi, presiden sipil Mesir pertama yang terpilih secara sah lewat jalur demokrasi, menjadi topik ter hangat di berbagai media dunia.

Sebuah kenyataan dan kejutan besar bagi perpolitikan Mesir karena perubahan yang begitu cepat. Kudeta tersebut terjadi hanya dalam tempo 48 jam sejak pesan ultimatum Dewan Militer untuk menyelesaikan huru-hara politik yang terjadi di jalanan Mesir.

Tak ada yang mengira akhirnya Dewan Militer yang sebelumnya dilantik oleh Mursi menjadi bumerang yang mendepaknya dari kursi kepresidenan. Bahkan sebelumnya tidak tercium bau ‘konflik’ antara kepresidenan dan militer.

Beberapa saat setelah pernyataan dewan militer (1/7), Menteri Pertahanan Jendral Al- Sisi, Presiden Mursi dan PM Hisham Kandil masih sempat bertemu dan diskusi. Ada apa antara Mursi dan Al Sisi serta hubungannya dengan kudeta bernuansa ‘pengkhianatan’ ini?

Mari sedikit kita urai apa yang terjadi pra, ketika dan pasca 30 Juni.

Sebelum 30 Juni, pendukung Mursi menggelar demonstrasi 2 kali di alun-alun masjid Rabah el Adaweyah, tanggal 21 dan 28 Juni, sebagai respon aksi kekerasan oposisi ‘Tamarrud’ beberapa waktu terakhir. Jumlah demonstran banyak luar biasa.

Pendukung Mursi hendak menyewa helikopter untuk men-shoot jumlah massa. Tapi gagal sebab tepat di sebelah masjid Rabah Adaweyah adalah camp militer, yang selalu menjadi tempat terlarang untuk di-shoot.

Jauh sebelum 30 Juni kabar oposisi akan mengepung istana Ettihadiyah santer terdengar. Sebelumnya juga sudah pernah dilakukan. Maka pendukung Mursi dari Jamaah Islamiyah berupaya menduduki Istana Ettihadiyah agar tidak diserobot oposisi.

Hanya saja jawaban militer ketika itu,” Biarlah kami yang menjaga Ettihadiyah. Sebab jika Anda juga ke sana, saya tidak bisa mengambil tindakan atas mereka (oposisi).

Namun apa yang terjadi? Militer justru bekerja sama dengan sutradara Mesir men-shoot massa oposisi di Tahrir lewat helikopter. Hasil rekaman dibagi-bagikan kepada stasiun TV yang didanai pengusaha gelap yang pernah disebut Mursi dalam pidatonya.

Bukan menjaga Ettihadiyah, militer bersama aparat keamanan ‘mengamankan’ pendukung Mursi dan membakar kantor partai Al Hirriyah wa Al Adalah (FJP), Partai An-Nur & Partai Al-Wasath.

Harus diakui 30 Juni adalah demonstrasi terbesar setelah Mursi menjabat sebagai presiden. Sebelumnya, gerakan menggulingkan Mursi selalu gagal.

Pada 20 Agustus 2012 Mursi sudah coba digulingkan oleh Abu Hamid, antek Mubarak. Namun gagal, sebab tidak mendapat respon rakyat. 30 Juni menjadi titik akumulasi kemarahan rakyat, oposisi, antek mubarak dan faktor agama (ideologis), semua menjadi satu.

Pers sangat berperan dalam membakar kemarahan rakyat. Pagi, siang, sore hingga malam awak media menyiram ‘bensin’ atas ketidak-puasan kerja pemerintah. Sebetulnya harga makanan pokok tidak terlalu naik. Ketidak-puasan pelayanan pemerintah pada listrik dan bensin juga terjadi di Mubarak.

Perbedaan yang paling mendasar adalah Mursi membuka kebebasan pers. Membuka dadanya untuk diserang siang-malam. Zaman Mubarak tidak pernah terjadi seperti ini.

Sebab itu saya tidak yakin kritik-kritik yang membuat rakyat marah akan gejala ekonomi akan diselesaikan Rezim Kudeta Militer ini. Menhan yang menjadi aktor kunci kudeta ini tidak pernah terdengar apa peranannya di rezim Mubarak.

Dia dibesarkan oleh Mursi. Pimpinan militer era Mubarak orang tua semua. Dan mereka diganti oleh Mursi sebab pernah terlibat usaha pengkhianatan. Oposisi dan militer sudah pernah berkuasa satu setengah tahun pasca terguling nya Mubarak. Dan mereka gagal juga membawa perbaikan.

Mursi sendiri agaknya tidak 100% percaya dengan Menhan. Sebab itu tidak diberi gelar Musyiir, (marsekal). Bagaimana Mursi harus percaya, sedang 60 tahun masa pemerintahan militer (dimulai Jamal Abdul Nasher), mereka didoktrin berhadapan dengan IM.

Selama menjabat presiden, Mursi berusaha memperkuat militer. Bagaimana tidak, Mesir berbatasan dengan Israel yang siap menerkam. Maka salah satu alasan Mursi pergi ke Rusia untuk mengadakan kerjasama di bidang kemiliteran, senjata serta nuklir untuk listrik.

Salah satu jasa terbesar dan terdekat Menhan selama menjabat bersama Mursi adalah pembebasan prajurit yang disekap di Sinai. Pembebasan sukses luar biasa sebab tanpa darah yang terkucur. Itu perintah Mursi. Agaknya, Menhan besar kepala setelahnya.

Menurut surat kabar Shorouk Mesir tanggal 1 Juli, sejatinya ultimatum Menhan 48 jam itu diumumkan pada tanggal 30 Juni. 48 jam dari 30 Juni adalah hari Selasa sore, batas yang sama yang diberikan At-Tamarrud untuk Mursi mundur. Namun ultimatum itu akhirnya diumumkan pada tanggal 1 Juli.

Meleset sehari dari batas waktu At-Tamarrud. Sebab meleset sehari itulah pendukung Mursi husnudzan tidak akan ada kudeta. Mereka pikir Menhan berusaha meredam suasana.

Terlebih 4 jam setelah pernyataan Menhan (ultimatum 48 jam) disusul keterangan jubir militer, ” Kudeta bukan ideologi militer Mesir.” Tapi agak nya pesan jubir itu bukan diarahkan kepada pendukung Mursi tapi kepada dunia internasional yang telah mengartikan pernyataan Menhan adalah kudeta.

Dan kudeta tidak menguntungkan secara politis. Lebih fokus lagi pesan jubir militer ditujukan kepada AS yang meminta Mursi memenuhi suara rakyat.

Tetapi dengan syarat tidak lewat kudeta Namun Mursi tidak kalah gesit, lewat jubir kepresidenan ia mengirim sinyal kepada dunia international bahwa pernyataan Menhan tidak lewat jalur presiden. Jelas, pernyataan Menhan yang tidak lewat sensor presiden, selaku Panglima Tertinggi Militer adalah pengkhianatan. Kudeta.

Saya ingin kembali tekankan bahwa Menhan bukan orang besar. Jika kemudian dia berani mengudeta pemerintahan sah, maka ada dua tafsiran nya:

A. Menhan adalah bagian dari ‘Ergenekon’ negara dalam negara.
B. Ada dukungan dari negara tetangga, dan ini sudah disinggung Mursi sebelumnya

Akibat dari Menhan bukan jenderal kharismatik semacam Jamal Abdul Nasher, saat ini muncul friksi di tubuh militer terkait kudeta ini. Dan ketika karya pertama kudeta ini adalah totalitarianisme dengan menutup stasiun TV serta menangkap tokoh politik, maka saya tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini?

Kudeta membangunkan sisi konservatif dan membentuk friksi di tubuh militer. Maka prediksi saya akan ada gerakan perlawanan (semoga secara damai), sebab akar revolusi 25 Januari adalah tiranisme bukan kelaparan.

Sumber