Labels

100 Tokoh Dunia (97) Alam (28) Alien (9) Artikel (266) Binatang (18) Catatanku (17) Do"a (7) Download (6) FACEBOOK (8) Fakta (20) Film (23) Foto (91) GaMe (3) Handphone (6) Imsakiyah (17) Indonesiaku (3) Internet (11) Islam (174) Kata2 (5) Kenapa? (9) Kesehatan (24) Kisah (35) Kisah 25 Nabi (22) Komputer (12) Lelucon (33) Minangkabau (21) Misteri (73) Musik (9) Nusantara (1) Olah Raga (17) Pendidikan (2) Photoshop (86) Puisi (14) Renungan (37) Sejarah (109) Teknologi (13) Tips n Trik (16) Tokoh (165) Tour De Singkarak 2011 (7) Tour De Singkarak 2013 (1) TV (7) Unik n Kreatif (286) Video (7) Widget (1)

Cut Nyak Dien Sebelum Wafat







HARI itu, tepat 11 Desember 1904, Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmaja, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok.
Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.
Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat.
Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 06 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.
Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah.
Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung. Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama  disebut dengan Ibu Perbu.



Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalahThe Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien.

Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.

Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang
taat beragama di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Pada usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.
Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N.

Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi
gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan
Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam. Dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di bakar tentara Belanda.

“Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh!
Lihatlah!
Saksikan dengan matamu masjid kita dibakar! tempat Ibadah kita dibinasakannya!
Mereka menentang Allah! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan
para kafir Belanda! Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata!” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk
berperang, berperang dan berperang melawan Kaphe Beulanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1070.

Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899. Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teungku Ibrahim Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia  ayahnya atau para lelaki Aceh saja.

Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serang an terhadap Belanda. Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan pada perang. Berpindah dari satu  persembunyian ke persembunyian yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kebugarannya merosot.

Kondisi pasukannya pun tak jauh berbeda. Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada pada 16 November 1905 sepasukan Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.

Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) lalu dibuang Sumedang, Jawa Barat. Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing, sehingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin
perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.

Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berkoar menyamaratakan persamaan hak yang bernama, Emansipasi.

۩۞۩ Kita dan Ibu


Seorang ibu terduduk di kursi roda sewaktu sore hari di tepi danau ditemani anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga..

Lalu si Ibu bertanya " Itu burung apa yang berdiri di sana.. ? ".
" Bangau Bu..", anaknya menjawab dengan sopan.

Tak lama kemudian si Ibu bertanya lagi " itu yang warna putih burung apa..? ".
Sedikit kesal anaknya menjawab " Ya burung bangau Ibu..".

Kemudian Ibunya kembali bertanya " Lalu itu burung apa..? ".
Ibunya menunjuk burung bangau tadi yang sedang terbang..
Dengan nada kesal si anak menjawab " Ya bangau Bu...", " Emang Ibu gak liat dia terbang..!! "

Air mata menetes dari sudut mata si Ibu sambil berkata pelan.

" Dulu 26 tahun yang lalu aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 10 kali, Sedangkan saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tapi kau membentakku 2 kali.."..

Si anak terdiam...
Dan memeluk Ibunya..

Pernahkah kita memikirkan apa yang telah di ajarkan oleh seorang ibu kepada kita ..??

Sayangilah Ibu mu dengan sungguh - sungguh..
karena surga berada di telapak kaki ibu.
Mohon ampun jika kamu pernah menyakiti hati Ibu mu.

* Pernah Kita Omelin Dia..? pasti jawabannya Pernah....!!
* Pernah Kita Cuekin Dia..? Pasti Pernah..!!
* Pernah Kita Memikirkan Apa Yang Dia Pikirkan..?

Pasti Nggk Pernah..!!

Sebenarnya apa Yang Dia Pikirkan..??


- Takut - takut nggk bisa liat kita senyum, nangis ataupun ketawa lagi.
- Takut nggk bisa ngajarin kita lagi.

Semua itu karena waktu Dia singkat..
Saat Ibu mu menutup mata.

Nggak akan ada lagi yang cerewet.
Saat kita menangis memanggil manggil Dia..
Apa yang di bales..??

" Dia hanya diam ",
Tapi banyangannya tetap di samping kita dan berkata.

" Anakku Jangan Menangis, Ibu Masih Disini "..

" Ibu Masih sayang Kamu "..

۩۞۩ Surat Dari Ibu & Ayah Untuk Anaknya


Anakku,

Saat Aku menjadi Tua, Kuharap kau memahami dan bersabar menghadapiku.
Jika suatu saat aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup di meja karena penglihatanku mulai kabur, Kuharap kau tidak membentakku. Orang tua itu sensitif.
Saat pendengaranku memburuk dan tidak dapat mendengar apa yang kau katakan, Kuharap kau tidak memanggilku “Tuli”, tolong ulangi apa yang kau katakan atau tuliskanlah.

Maafkan Aku, anakku.

Aku menjadi Tua.
Saat lututku menjadi lemah, Kuharap kau bisa sabar membantuku berdiri, sama seperti saat Aku membantumu dulu ketika kau kecil, ketika mulai belajar berjalan.

Tolong bersabarlah padaku, saat Aku terus-menerus berbicara seperti kaset rusak, Kuharap kau tetap mendengarkanku, tolong jangan memperolokku atau muak mendengarkanku.

Ingatkah kau ketika kau kecil dan ingin sebuah balon? Kau terus-menerus merengek sampai kau dapat yang kau inginkan.

Tolong maafkan bauku. Bauku seperti orang tua. Tolong jangan memaksaku mandi. Tubuhku lemah. Orang tua mudah sakit jika mereka kedinginan. Kuharap Aku tidak membuatmu jijik.

Ingatkah kau ketika kau kecil? Aku harus mengejarmu karena kau tidak ingin mandi.

Kuharap kau bisa bersabar denganku, ketika aku selalu menjadi cerewet. Itu semua bagian dari menjadi tua. Kau akan mengerti ketika kau tua nanti.

Dan jika kau mempunyai waktu luang, Kuharap kita bisa jalan-jalan, meski hanya untuk beberapa menit saja, Aku selalu sendirian selama ini dan tidak ada yang bisa kuajak ngobrol.

Aku tahu kau sibuk dengan pekerjaanmu. Bahkan jika kau tidak tertarik dengan ceritaku, tolong luangkanlah waktumu untuk mendengarkanku.

۩۞۩ Surat Cinta Buat BUNDA..


(catatan dari seorang sahabat)



Mamah... itulah sebutan saya untuk bunda tercinta...


Assalamualaikum Wrahmatullahi Wabarakatu....

Mah makasih ya... untuk selama ini... saat mamah mengandung dede, mamah bawa dede kemana-mana...
tapi mamah ga pernah ngerasa sakit,mamah ga pernah ngerasa berat, dan mamah ga pernah mengeluh...
padahal dede selalu nendang-nendang mamah waktu di dalam perut tapi mamah ga pernah merasakan itu,
walau dede masih dalam kandungan mamah, dede tau mamah menahan rasa sakit itu...

mah, makasih ya... selama mamah disini,, melahirkan dede, membawa dede ke dunia ini, merawat dede,
mengajarkan dede banyak hal, memberitahu dede apa yang mana itu kanan dan yang mana itu kiri...

menyayangi dede, mengasihi dede melebihi apapun dari yang pernah ada... padahal dede sering bikin mamah khawatir karena kelakuan dede,
dede sering bikin mamah kecewa, dede sering bohong sama mamah, dede membuat mamah menangis, walaupun mamah bilang mamah ga nangis karena dede...
mamah juga ga pernah nunjukin kekecewaan mamah di depan dede...

mamah, makasih ya... sampai saat ini... mamah selalu ada untuk dede...
dari dede belum ada di dunia ini... sampai dede sekarang... mamah ga pernah bilang " MAMAH CAPE "...
ga pernah mamah bilang itu,, walaupun anak mamah ada 3, tapi kasih mamah ke kita selalu sama,, sayang mamah ke kita sama,
mamah selalu adil sama kita... sampai dede sekarang bingung, kenapa kasih mamah begitu besar kepada anak-anaknya...

mamah, makasih ya... selalu bisa membuat dede tenang dengan nasihat mamah, membuat dede lebih baik dengan kasih mamah...
mah, dimanapun mamah saat dede menulis blog ini... dede minta maaf...
karena dede ga bisa ngasih apa-apa saat ada hari ibu ke mamah...

mah, mamah inget ga waktu mamah ke minimarket, dede nitip ke mamah untuk dibeli'in snack kesukaan dede... walaupun mamah larang tapi mamah pun tetap membelikannya...
dede janji akan memberikan apa yang mamah minta nanti...
walau dede setiap saat berdoa buat mamah, tetap saja dede merasa kurang dan ga bisa ngasih apa-apa...

mamah, yang ada dimanapun saat dede menulis blog ini...
betapapun mamah menilai dede sudah membuat mamah bangga,, tapi itu ga akan cukup untuk dede,
dede belum bisa membalas kasih sayang mamah...
dede ingin selau terus berbakti sama mamah, walaupun menurut mamah dede sudah berbakti, tapi menurut dede itu belum mah...

mamah, yang ada dimanapun saat dede menulis blog ini...
perlu mamah tahu, dede menyayangi mamah seperti mamah sayang sama dede...
dede ingin selalu berbakti dan membahagiakan mamah...

mah, mamah tau apa yang selalu ada di setiap doa dede ???
dede selalu meminta kebahagiaan untuk mamah dan papah...
dede selau meminta kesehatan untuk mamah dan papah,,

dede selalu berdoa agar mamah dan papah bisa melihat dede sukses dengan apa yang dede miliki...

mah bagaimanapun kondisi mamah, dede tetap sayang mamah, dan ga akan mengurangi sedikitpun rasa sayang dede ke mamah...
walaupun dede sering buat mamah kecewa. ketahuilah, dede memang salah.. dan dede ga akan mengulang kesalahan yang sama...
apapun yang terjadi... dede akan selalu ada untuk mamah...


mah, kalau 22 desember itu hari ibu, dimana kita bisa mencurahkan kasih sayang kita ke ibu.
tapi klo kata dede, semua hari adalah hari ibu, semua hari adalah sayang dede ke mamah, dan sayang mamah ke dede...
dan sekarang dede sudah kuliah mah...
gak terasa mamah sudah bisa membawa dede ke bangku kuliah...
mulai tk,sd,smp,sma dan sampai sekarang mamah terus berjuang demi dede...


dede janji mah... insya Allah, bila dede udah kerja nanti gaji pertama dede buat mamah...
bahkan dede akan memberangkatkan mamah naik haji dengan keringat dede sendiri...
maaf ya mah, sampai saat ini dede belum bisa membanggakan mamah...
suatu saat dede akan membanggakan mamah...
dede akan buat mamah bangga karena telah melahirkan dede...

DARI KEMARIN, SEKARANG, BAHKAN NANTI...
DEDE AKAN SELAU SAYANG MAMAH...
I LOVE YOU, MY BEST MOTHER...

karena dede ga pulang, mungkin hanya lewat blog ini dede mengucapkan

" AKU SAYANG MAMAH... "

۩۞۩ Renungan Bagi Orang Tua


(¯`*•.¸♥ Renungan Bagi Orang Tua ♥¸.•*´¯)

"Anak kita kelak akan meniru" ( renungan bagi orang tua )

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.
Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.

Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar.
Mereka merasa direpotkan dengan semua ini.

"Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.

Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan.
Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya.
Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya.
Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu.

Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?".

Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti.

Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi.

Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.

Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.


Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.
Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya.

Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
  • Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.
  • Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.
  • Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.
  • Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa
  • bersalah.
  • Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.
  • Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.
  • Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.
  • Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.
  • Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.
  • Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.
  • Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari
  • cinta di seluruh dunia.
Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan
masa depannya.

Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita....


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya  perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .

Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan
kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. (Al Israa' : 23)

۩۞۩ Kapan Kita Membahagiakan Orang Tua Kita


(¯`*•.¸♥ Kapan Kita Membahagiakan Orang Tua Kita ♥¸.•*´¯)

۩۞۩
Kapan Kita Membahagiakan Orang Tua Kita???
Saat kita lahir, apa yang kita bawa?
kita hanya telanjang tanpa sehelai benang menempel di tubuh kita.
Kita menangis histeris dan disekitar terlihat senyum senang dan bahagia.
Apalagi raut muka mama yang tersenyum walau badannya lemas dan tak berdaya lagi.

۩۞۩
Di malam hari yang sepi kita menangis karena ngompol,haus ataupun lapar.
Dengan sabar Mama dan Papa menghampiri kita dan menenangkan kita.
Saat kita sakit, orang tua kita panik dan berusaha sebisa mungkin untuk mengobati kita dengan membawa kita ke dokter.








۩۞۩

Saat kita mulai bersekolah, Mama menyiapkan sarapan untuk kita makan. Papa mengantar kita ke sekolah. Saat kita berangkat, Mama tersenyum dan berkata di dalam hati "Dia akan menjadi orang sukses melebihi kesuksesan orang tua,Amien".
Setelah sampai di sekolah, Papa mengucapkan "belajar yang rajin ya anakku" seraya kita mencium tangan beliau. Orang tua kita sangat bangga pada kita dan berharap kita menjadi orang yang sukses kelak. 

۩۞۩
Saat dewasa,orang tua kita juga mulai bertambah tua. Kebutuhan kita semakin banyak. Kita banyak menuntut pada orang tua untuk membeli barang ini barang itu dikarenakan gengsi kita kepada teman sebaya kita. Kita tidak mau tau apa yang dilakukan Mama n Papa kita, yang penting kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Orang tua kita berusaha mengumpulkan uang untuk memenuhi keinginan kita. Karena yang mereka inginkan adalah kebahagiaan kita. 


۩۞۩
Namun, kita hanya slalu menuntut untuk mendapatkan barang yang kita inginkan tanpa ada cukupnya. Orang tua kita hanya bisa menangis di dalam hati saat kita meminta barang yang kita inginkan dengan membentak bentak dan kita memilih mendiamkan orang tua kita karena merasa orang tua kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kita. Namun orang tua kita selalu berusaha dan berusaha untuk membuat kita tersenyum. Mungkin kita selalu berpikir "kewajiban orang tua menuruti apa yang anak minta dan membahagiakan anaknya" atau "Orang tua mencari uang buat siapa kalo bukan buat anaknya". Pikiran kita itu salah,orang tua kita juga perlu kebahagiaan.

۩۞۩
Apa yang sudah kita beri ke orang tua kita?
apa kita selalu mendoakan mereka seperti mereka mendoakan kita?

۩۞۩
Saat ini kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan dari orang tua kita. Kita masih selalu mengandalkan orang tua kita. Tapi orang tua kita tak selamanya mendampingi kita. Saat usia orang tua kita semakin bertambah dan akhirnya malaikat menjemput mereka. Kita hanya bisa menangis dan menyesal. Hidup kita yang serba dicukupi oleh orang tua kita kini sudah tidak lagi.
Jika itu terjadi. Kapan saat saat kita membuat orang tua kita bahagia?
Kapan saat saat membuat orang tua kita bangga atas tindakan kita?

۩۞۩ Aba dan Ummi Maafkan Aku

(¯`*•.¸♥ Aba dan Ummi Maafkan Aku ♥¸.•*´¯)


Sebuah tulisan, sebagai renungan buat yang kita malu memperkenalkan nama orang tuanya...

۩۞۩ Taman Kanak-kanak
Aba (panggilanku untuk ayah) menggandeng langkah kecilku menuju pintu kelas. Sebelumnya dia memboncengku dengan sepeda tuanya dari rumah ke sekolah. Sepeda tua nya bukan jenis ontel, lebih sedikit modern dari itu, walau rantainya menggunakan rantai motor. Kursi sepeda terbuat dari besi, kursi yang sering membuat pantatku sakit, berhubung jalanan kecil di Makassar saat itu masih banyak yang berlubang.

Di dalam kelas sudah banyak anak kecil lain. Entah aku anak yang pemalu atau cukup aktif seperti sekarang. Aku tidak begitu ingat dengan masa Taman Kanak Kanak. Hanya beberapa yang kuingat, kakiku yang terjepit ayunan atau kepalaku bocor karena terbentur pondasi sekolah. Dan yang aku ingat, aba yang memperkenalkanku. Memperkenalkan jagoan kecilnya. Jagoan kecil yang merengek takut ditinggal pulang. "Aba, tunggu aku sampai pulang yah"


۩۞۩  Sekolah Dasar
Aku sudah bisa membaca dan menulis, walaupun tulisanku masih ala tulisan cakar ayam tapi aku bangga sudah bisa menulis. Kini aku yang memperkenalkan diriku kepada teman-teman dan guruku, walau masih menunggu untuk disuruh. Tadi pagi memang Ummi (panggilanku untuk ibu) berbisik dan berjanji mengantarku sekolah, bisikannya membuatku semangat membawa tas sekolah dengan gambar superhero yang berwarna-warni.
"nak bangun, kamu sudah kelas 1 SD loh"
Bisiknya sambil tersenyum membangunkanku, yaa cintamu membuatku optimis ummi.

Kini di depan kelas, aku bisa memperkenalkan diriku sendiri, dan juga menyebut dengan bangga nama kalian di depan teman dan guruku.
"Juanda Ayahku, Yusna Ibuku". Dengan penuh senyum kusebut itu :) .


۩۞۩  MTs, Aliah, dan SMA
Aku sudah mulai beranjak dewasa, ini masa remajaku. Tepat kelas 3 MTs nanti aku sudah mimpi basah. Aku sudah mulai menyembunyikan banyak hal, termasuk dalam perkenalan. Aku tak lagi menyebut nama Aba dan Ummi dalam perkenalanku, tak ada kesempatan untuk itu. Malah, pertanyaan yang biasa seperti hobi dan ukuran sepatu yang lebih sering muncul. Kenapa tak ada kesempatan dalam perkenalan untuk menyebut nama kalian ?. Begini memangkah masa remaja ?. Masa dimana sudah ada jarak, masa dimana aku dan remaja lainnya sudah mulai enggan menyebut nama kalian di depan teman sebaya. Aba dan Ummi maaf, tak sempat kusebut nama kalian dalam perkenalanku. Padahal aku tahu, namaku selalu ada dalam lirih doa kalian.


۩۞۩  Kini aku Mahasiswa
Aku sudah mulai mengurus administrasi untuk pendidikanku sendirian. Kalian tak lagi mengantarku ke gerbang kampus. Aku sudah membawa motor pemberian kalian, hanya kucium tangan dan pipi kalian sebelum berangkat tadi. Ummi, kau mengusap kepalaku dan mencium pipi sambil berujar,
"kuliah yang baik ya nak".
Dan Aba, kau tetap berpesan seperti biasa kepadaku,
"Jangan lupa shalat".
Aku hanya mengangguk dan pergi.

Aku kini berada di dalam kelas, banyak wajah baru disini. Mereka teman kuliahku, semua sebaya. Banyak tahun kulewati dengan pengalaman untuk berkenalan. Aku tak sungkan lagi menjulurkan tangan sebagai tanda perkenalan kepada teman baruku. Bahkan, jika ada wanita yang mengganggu pikiranku, tak sungkan kuminta nomor hapenya. Semua berubah, kini aku pria dewasa yang sudah lebih percaya diri. Tapi, tak juga kuperkenalkan nama kalian, Aba dan Ummi.

Entah sampai kapan kebiasaan ini kulakukan. Aku tak lagi dengan bangga memperkenalkan nama kalian. Tak seperti ketika aku SD dan Tk yang semangat menyebut nama kalian. apa semua anak remaja seperti ini ?.

Lagi-lagi aku bertanya hal itu.....

Aku berjanji, suatu saat, akan ada seorang gadis yang betul-betul akan kupinang sambil kuperkenalkan nama kalian.
"Juanda Ayahku, Yusna Ibuku.............."

۩۞۩ Bukti Cinta Seorang Ibu





(¯`*•.¸♥ Bukti Cinta Seorang Ibu ♥¸.•*´¯)

Kiranya di dunia ini, tidak ada budi yang bisa mengimbangi ataupun membalas cinta seorang ibu. Cinta seorang ibu mengalir dalam darah dan ruh kita. Anak adalah buah cinta dari dua hati, namun ia tidak dititipkan dalam dua rahim. Ia dititipkan dalam rahim sang ibu. Selama sembilan bulan disana ia hidup dalam kesunyian sambil menghisap saripati kehidupan sang ibu. Kemudian ia keluar diantar oleh darah sang Ibu. Berikut adalah sebuah kisah tentang pengorbanan seorang ibu terhadap anak yang sangat dicintainya. Mudah-mudahan ada hikmah yang dapat diambil setelah membaca kisah ini. Dan juga dapat menambah rasa sayang kita terhadap orang tua, terutama Ibu yang telah melahirkan dan merawat kita dengan cinta kasihnya yang tulus.

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal dunia karena sakit. Sang ibu sering merasa sedih memikirkan anak satu-satunya itu. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Sang Ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan : "Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati" Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa. Hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu pun sampai ke telinga si ibu, dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan: "Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya"

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, si ibu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah bersiap dengan pancungnya dan si anak pun sudah pasrah dengan nasibnya Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dari waktu yang ditentukan dan suasana sudah mulai berisik. Akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah. Tahukah anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini. Sesuatu untuk dijadikan renungan bagi kita, gar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

  • Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan,
  • Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi,
  • Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan,
  • Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan,
  • Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan,
  • Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan,
  • Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati,
  • Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti,
  • Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan,
  • Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci untuk menuju surga, Dan…..
  • Gunakahlah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan dapat diputar kembali.

۩۞۩ Puisi Ungkapan Kasih Ibu


Puisi Ungkapan Kasih Ibu

۩۞۩ Anakku.....

Bila ibu boleh memilih..
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu..
MAKA IBU AKAN MEMILIH MENGANDUNGMU..
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Tuhan...

Sembilan bulan nak...engkau hidup diperut ibu...
Engkau ikut kemanapun ibu pergi...
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan...
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman,karena ibu kecewa dan mengurai air mata...

۩۞۩ Anakku.....

Bila ibu harus memilih apakah ibu harus operasi caesar,atau ibu harus berjuang melahirkanmu.

MAKA IBU MEMILIH MELAHIRKANMU...

Karena menunggu dari jam kejam...,menit ke menit kelahiranmu.......
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedasyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan...

Dan saat itulah kebesaran Tuhan menyelimuti kita berdua....,Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit...
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun...

Dan ketika engkau hadir,tangismu memecah dunia...,saat itulah...saat paling membahagiakan...
Segala sakit dan derita sirna melihat dirimu yang merah....

Mendengar Ayahmu mengumandangkan Adzan....
Mendengar Ayahmu membacakan Doa...
Mendengar Ayahmu membacakan Firman Tuhan
Membisikan ayat ayat suci di telinga mungilmu.....

۩۞۩ Anakku.....

Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu....
MAKA IBU MEMILIH MENYUSUIMU...

Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan tetesan dan tegukan tegukan yg sangat berharga...
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu...
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan...

۩۞۩ Anakku.....

Bila ibu boleh memilih duduk berlama lama diruang rapat....atau duduk dilantai menemanimu menempel puzzle
MAKA IBU MEMILIH BERMAIN PUZZLE DENGANMU...

۩۞۩ Tetapi Anakku....

Hidup memang pilihan...jika dengan pilihan ibu,engkau merasa sepi dan merana......

MAKA MAAFKANLAH NAK...
maafkan ibu...maafkan ibu...Percayalah nak...,ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita...Agar tidak ada satu kepingan bagian puzzle kehidupan kita yg hilang.

۩۞۩ Percayalah Nak.....
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu...
Percayalah Nak.....
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu....

pertanyaan seorang ibu :

sebagai seorang ibu saya selalu bertanya : apa yang dapat saya berikan kepada Anakku....
bukan pertanyaan apa yang dapat saya dapatkan dari anakku....
karena anakku lahir atas keinginanku.... dan itu merupakan tanggung jawab yang besar bagi mereka.... bagaimana mereka harus tumbuh dengan baik... dan tentu dengan perhatian dan kasih sayang yang besar buat mereka....
Semoga engkau selalu mendapatkan cinta kasih dari keluargamu....


PESAN UNTUK SOBAT-SOBAT : SAYANGI & BUAT BANGGA IBU KALIAN ITU SAJA SUDAH CUKUP...

۩۞۩ Renungan seorang anak untuk Ibu




(¯`*•.¸♥ Renungan seorang anak untuk Ibu ♥¸.•*´¯)


Mari kita renungkan bersama..

Kenanglah IBU yang menyayangi kita,
untuk IBU yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi...
Ingatkah kita ketika IBU rela tidur tanpa selimut demi melihat kita tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuh kita...

Ingatkah kita ketika jemari IBU mengusap lembut kepala kita??
dan ingatkah kita ketika airmata menetes dari mata IBU kita,
Ketika melihat kita terbaring sakit..

Sesekali jenguklah IBU kita yang selalu menantikan kepulangan kita di rumah tempat kita dilahirkan..
Kembalilah minta maaf pada IBU yang selalu rindu akan senyum kita..

Jangan biarkan kita kehilangan saat-saat yang akan kita rindukan di masa datang ketika IBU telah tiada...

Tak ada lagi yg berdiri di depan pintu menyambut kita.
Tak ada lagi senyum indah..tanda bahagia.
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya..
Yang ada hanyalah baju yang tergantung di lemari kamarnya..

Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akan kita disetiap hembusan nafasnya.
Kembalilah segera....
Peluklah IBU yang selalu menyayangi kita..
Ciumlah kaki IBU..
Yang selalu merindukan kita.
Dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya...

dan jika ibu mu sudah di surga,

Kenanglah semua cinta & kasih sayangnya... berdoalah agar dia tersenyum di surga sana...
IBU...
Maafkan aku...
Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas...

Wahai sobat yang berbakti berikanlah yang terbaik buat IBU mu..
Baik atau buruk,cantik atau jelek..
Ia tetap IBU kita..
Sukses buat kita semua...


"BANTU ADMIN NGE-SHARE CERITA INI KEPADA ORANG LAIN BISA MELALUI FB ATAU APAPUN, AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI DAPAT MENGHORMATI, MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA"

۩۞۩ Doa dan Puisi Untuk Orang Tua Tersayang

  (¯`*•.¸♥ Puisi dan Doa Untuk Orang Tua Tersayang ♥¸.•*´¯)


Doa

۩۞۩ Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka
Perindahlah ucapanku di depan mereka
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkan hatiku untuk mereka...

۩۞۩ Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya,
atas didikan mereka padaku dan Pahala yang
besar atas kasih sayang yang mereka limpahkan padaku,
peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku.

۩۞۩ Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan
atau kesusahan yang mereka deritakan kerana aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka kerana perbuatanku,
maka jadikanlah itu semua penyebab susutnya
dosa-dosa mereka dan bertambahnya pahala
kebaikan mereka dengan perkenan-Mu ya Allah,
hanya Engkaulah yang berhak membalas
kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda.

۩۞۩ Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika sebaliknya, maka izinkanlah aku
memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir
dan Engkaulah yang Maha Pengasih diantara semua pengasih.
Amin Ya Rabbul Alamin...



Puisi

Bahagiaku surga mereka, dan deritaku pilu mereka...
Dua orang yang sangat aku hargai...
dua orang yang sangat aku hormati...
aku cintai dan aku sayangi...
Yah, mereka “PAPA dan MAMAku”.

MAMA...
yang telah mengandungku selama 9 bulan..
MAMA...
yang sudah memperjuangkan hidup matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini..
MAMA...
yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayangnya...

PAPA, yang telah mendidikku...
PAPA, yang rela banting tulang...
ikhlas mengeluarkan keringatnya agar aku dapat menikmati hidup...
Detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun…

Apakah yang dapat kulakukan untuk membalas mereka???
Sering aku tutup telinga tidak mau mendengar nasehat mereka...
sering kali aku bohong sama mereka hanya untuk kesenanganku...
Sering aku melawan jika mereka marah karena kenakalanku...
Sering kali aku banting pintu jika mereka tak kabulkan permintaanku...
dan bahkan sering aku mengeluarkan kata-kata kasar...
yang tidak pantas mereka dengar dari bibirku...
"DASAR CEREWAT, PELIT"

Tapi apakah mereka memendam rasa dendam terhadapku???
“ TIDAK !!! tidak sama sekali... ”
Mereka dengan tulus memafkan kesalahanku
Mereka tetap menyayangiku dalam setiap hembusan nafas mereka...
Bahkan mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doa-doanya...
hingga aku menjadi seperti sekarang ini...

Ya TUHAN !!! betapa durhakanya aku...!!!
Tak sadarkah aku...
bahwa mereka adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku...

Langkah-langkah ku terhenti di hadapan mereka...
Dan ku pandangi “PAPA dan MAMAku” inci demi inci...

Badan yang dulu tegap kekar Kini mulai membungkuk...
Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih...
Kulit yang dulu kencang kini mulai berkeriput...

Kutatap mata mereka yang berbinar-binar...
dan mulai meneteskan air mata bahagia...
air mata haru...
air mata bangga melihatku dengan diriku yang sekarang
Ku cium tangan mereka..
dan kupeluk mereka sambil berkata...

“PAPA dan MAMA”
yang kuberikan hari ini tidak akan cukup untuk membalas semua yang telah kalian berikan selama ini kepada ku,
“Terimakasih PA, terimakasih MA...”
“AKU SAYANG PAPA DAN MAMA SAMPAI AKHIR HAYAT KU”

۩۞۩ Ayah, Jangan Menangis..



  (¯`*•.¸♥ Ayah, Jangan Menangis.. ♥¸.•*´¯)


"Ketika kamu menjadi laki-laki dewasa....
dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
AYAH harus melepasmu..
Tahukah kamu bahwa badan AYAH terasa kaku untuk memelukmu?
AYAH hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal AYAH ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang AYAH lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya,dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik nak..”
AYAH melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu,
orang pertama yang mengerutkan kening adalah AYAH .
AYAH pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta mainan baru,
dan AYAH tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut AYAH adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin AYAH , Ia sangat ingin mengatakan "Iya mas, nanti AYAH belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu AYAH merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
AYAH adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. AYAH akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat
"putra kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Taukah kamu,saat tiba waktumu merajut keluarga baru dan lepas dari tanggung jawab ayahmu,
Dia adalah orang pertama yang merasa lega bahagia dan bangga..
Dan akhirnya....
Saat AYAH melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang wanita yang di anggapnya pantas mendampingimu,
AYAH pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu AYAH pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
AYAH menangis karena AYAH sangat berbahagia, kemudian AYAH berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, AYAH berkata:
"Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putra kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi laki-laki yang sukses dan berwibawa. Bahagiakanlah ia bersama istrinya"

Setelah itu AYAH hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. AYAH telah menyelesaikan tugasnya.

AYAH kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.
bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis.
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal"

۩۞۩ Sedikit Untuk Ayah...




 (¯`*•.¸♥ Sedikit Untuk Ayah... ♥¸.•*´¯)

oleh Ricko Bahemar pada 04 Maret 2011 jam 19:28
(catatan dari seorang teman)

Selama ini, setiap berbicara tentang orang tua, seringnya aku hanya terbayang tentang ibu, yang meminjamkan separuh nyawanya padaku selama sembilan bulan aku menumpang hidup di rahimnya.

Yang membawaku di perutnya kemanapun ia pergi tanpa sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya.

Yang bercucuran darah demi mengantarkanku hadir di dunia.

Ibu, selalu ibu.
Dan tentu saja ibu pantas mendapat segala penghormatan itu, bahkan lebih dari pantas, tepatnya harus.

Betapa rugi, dan teganya mereka yang menyia-nyiakan segala pengorbanan yang dilakukan ibu.

Tapi kemudian aku telat menyadari satu sosok lain, yang tak kalah penting perannya dengan ibu.

Sosok yang walaupun tak membawaku di perutnya, tapi selalu menyimpanku di hatinya.
Sosok yang paling gelisah ketika ibu menjerit kesakitan di ruang bersalin saat mengantarkan hadirku di dunia.

Dia yang berdoa semoga istri, dan anak kesayangan, yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya, selamat.

Dia yang walaupun tak mengorbankan darah, tapi memeras keringatnya demi memberikan putri kesayangannya kehidupan yang layak.

Dia, sosok itu, ayah.
Sering luput dari perhatianku betapa kasih sayang ayah tak sedikit pun lebih kecil dari kasih sayang ibu.

Sesungguhnya kasih itu sama besarnya, kalau saja aku memperhatikan.

Tapi dari beberapa yang luput dari perhatianku, ada beberapa yang kuingat tentang kasih ayah yang jelas nyata kurasa, meski terlambat kusadari.

Aku ingat saat aku berusia sekitar 3 atau 4 tahun, atau ini bahkan mungkin terjadi sejak usiaku lebih kecil, hanya saja ya itu tadi, hal ini begitu saja luput dari perhatianku.

Saat itu, setiap selesai menjalankan kewajiban shalatnya, ia memintaku duduk di pangkuannya dengan isyarat tangannya.

Aku kemudian tanpa bicara mendatangi sajadah, lalu duduk di pangkuannya, sesuai perintahnya.

Dan kemudian ia mengambil telapak tanganku meletakkannya di atas telapaknya lalu menengadahkan tangan itu dan mengajakku berdoa.

Aku tak tahu pasti apa yang ia rapalkan dalam doanya, yang kuingat adalah pada sela-sela doanya, ia berkali-kali menciumi kepalaku, sambil bershalawat.

Tangan yang menengadah, ciuman, serta rapalan doa itu tak kumengerti maknanya pada saat itu.

Tapi kini, saat aku mengingatnya kembali, tenggorokanku terasa tercekat dan mataku basah oleh air mata.

Air mata bahagia karena beruntung telah hidup dengan aliran doa ayah di dalam tubuhku.

Saat aku menginjak usia sekolah, kesempatanku bermain-main dengan ayah berkurang.

Ayah bekerja sejak sore, hingga dini hari, dan ini otomatis membuatnya harus menambah waktu tidurnya di pagi hari, sehingga hanya ciuman di pipi kanan kiri dan pesan untuk belajar sungguh-sungguh yang kudapat saat menghampirinya pamit untuk pergi ke sekolah, itu pun hanya dari atas tempat tidurnya.

Ia tidak mengantarku sampai ke pintu, tapi aku mengerti, bahkan pada usia itu pun aku mengerti, bahwa ayah butuh istirahat.

Di siang hari, saat aku pulang sekolah, ayah sering menyiratkan bahwa sesungguhnya ia ingin bermain-main denganku, tapi aku yang baru kembali dari sekolah terlalu lelah untuk bermain, dan lebih memilih untuk beristirahat tidur. Dan sore hari, saat aku bangun, ayah sudah terlanjur berangkat bekerja.

Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu pasti ayah merindukanku. Karena diam-diam setiap dia baru tiba di rumah sepulang ia bekerja, ia menghampiri kamarku, bahkan sebelum dia menghampiri ibu, membenarkan letak selimutku, lalu menciumiku yang lelap dalam tidurku.

Dan kadang, jika aku sedang rindu, aku sengaja membiarkan diriku tertidur di ruang tv, semata-mata hanya agar aku punya kesempatan digendong ayah, yang tak pernah tega membagunkanku untuk berjalan sendiri ke kamarku.

Dan sesungguhnya aku selalu terbangun tiap kali ayah melakukan itu, tapi aku sengaja pura-pura tidur untuk tetap berada dalam gendongannya.

Betapa sesungguhnya aku punya begitu banyak kenangan tentang ayah, yang seringnya kulupakan saat ia memarahiku saat aku terlalu malam pulang ke rumah, atau saat dia menolak permintaanku untuk membeli sesuatu.

Dan saat itu, dengan teganya, aku justru menuduhnya tak memberiku cukup kebebasan, cukup kepercayaan, dan tak hanya itu, aku bahkan menuduhnya tak cukup sayang padaku untuk meluluskan permintaanku.

Padahal yang kusebut tak cukup sayang itu bisa jadi justru rasa sayangnya yang kusalahartikan. Seperti ketika aku menolak permintaan adikku yang terus-terusan meminta permen, bukan karena aku tak sayang padanya, tapi justru karena aku peduli dan tak ingin giginya rusak karena terlalu banyak memakan permen.

Ya, pasti begitu maksud ayah.

Dan yang kusebut tidak memberi cukup kebebasan dan kepercayaan itu sesungguhnya adalah rasa sayang yang begitu besar, hingga membuatnya khawatir bahwa sesuatu akan menimpaku saat aku luput dari penjagaannya.

Maka, ayah, atas segala kasih sayang yang luput dari perhatianku, yang menyebabkan aku begitu saja menuduhmu, dan menyebabkanku menyakiti hatimu, aku mohon maaf.

Atas segala pengorbananmu yang begitu saja kuabaikan, aku berterima kasih.

Dan atas segala doa yang tak henti kau rapalkan, aku sungguh-sungguh mengucap syukur.

Dan, ayah, pasti aku takkan mampu membalas apa yang telah kau, dan ibu lakukan.
Tapi ayah, aku akan berusaha semampuku membahagiakan kalian dengan yang kupunya.

Dan sungguh ayah, aku tahu itu pun takkan pernah cukup membalas segala yang kau lakukan untukku.

Maka ayah, kali ini biar aku yang menengadahkan tanganku, sambil menciumi pipimu, dan memohonkan segala kebaikan untukmu dan ibu kepada Sang Pemilik Segala.

Karena sungguh ayah, atas segala kasih sayang yang kalian curahkan, tak ada yang lebih pantas membalas selain Sang Maha Penyayang.

Maka kepada-Nya lah aku berdoa :

 " Rabb ighfirliy wa li walidayya wa rhamhuma kama rabbayani shaghira "

۩۞۩ Lelaki Yang Bernama "AYAH"

(¯`*•.¸♥Lelaki Yang Bernama "AYAH" ♥¸.•*´¯)
oleh Ricko Bahemar pada 07 Februari 2011 jam 18:56
(Diambil dari catatan seorang teman)

Ayah….
Bagiku seorang yang namanya jarang kusebut.

Mengapa?

Sebab bagiku (wanita), sosok seorang ayah itu tidak memberi definisi apa-apa dalam kehidupanku.

Seseorang yang hampir dikatakan tidak ada rasa kepedulian terhadap anaknya.
Entah mengapa begitu dingin seorang yang dinamakan ‘Ayah’ itu.

Bila ditanya, siapakah orang yang paling aku sayang di dunia ini,  jawabannya tentulah ibuku.
Karena bagiku, sosok ibulah yang paling berperan penting dalam kehidupanku selama ini.

Entah seperti anak-anak lainnya atau tidak, tapi yang pasti, aku kurang merasakan peran seorang ayah.

Ia sering pulang malam, dan ketika sampai rumah pun,  tidak ada kehangatan yang diberikan olehnya.

Sosok yang membuatku geram dan akhirnya tidak ada penghormatan sama sekali padanya.
Saat itu ku ingat pasti tatkala usiaku beranjak 9 tahun, aku pernah mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang anak pada ayahnya.

Hanya karena keinginanku tidak bisa dipenuhi olehnya.

Aku hanya berfikir, bahwa kalau sudah tidak mendapat perhatian darinya, paling tidak bentuk perhatian itu bisa tergantikan dengan terpenuhinya kebutuhanku.

Minta dibelikan mainan, baju baru dan sebagainya.

Namun ternyata itu nihil semua.

Semakin jengkel lah aku, bahkan aku tidak ingin dikecup keningnya oleh orang yang dinamakan ayah tersebut pada saat syukuran sederhana di hari ulang tahunku.

Beranjaknya usia, ketika saat itu aku masuk Sekolah Menengah Pertama, itulah pertama kalinya sejarah dalam hidupku, peran orang tua khususnya ayah sangat berarti besar.
Betapa paniknya aku, ketika pulang sekolah rok biru seragamku basah oleh cairan yang berwarna merah.

Aku pun kaget dan panik luar biasa, padahal saat itu ibuku tengah naik haji ke tanah suci bersama nenekku.

Yang ada di rumah, hanyalah aku bersama adik dan sosok yang dinamakan ‘Ayah’.

Ia lah yang menyambutku, tatkala aku menangis tersedu-sedu sampai rumah dalam keadaan sedih dan karena ditambah dengan perutku yang sakitnya luar biasa.

Aku malu. Lalu aku masuk kamar tanpa berkata apa-apa terhadap ayahku.
Ia menyusul ke kamarku dan menanyakan apa yang terjadi, lalu aku pun luluh dan mau menjelaskan keadaanku padanya saat itu.

Ayahku tersenyum dan berkata, “Gak apa-apa, ini pertanda anak gadis ayah sudah dewasa.
Kamu sudah mendapat tamu bulanan.
Nanti ya ayah belikan pembalut dulu.”.

Degg… hatiku teriris dengan kata-kata lembut darinya.
Ohh Tuhan, di saat kritis dan aku tidak tahu harus berbuat apa, justru ialah yang hadir menemaniku.

Ialah yang menenangkanku disaat kondisiku seperti itu, tanpa hadirnya peran ibu disampingku.

Semakin tersadar, ayahku mempunyai peran berarti dalam hidupku. Tidak hanya ibuku. Ialah sosok yang hebat itu, sosok yang hadir disaat aku membutuhkannya.

Pun saat aku menginjak usia dewasa, aku semakin mengerti arti dari hadirnya seorang ayah. Aku melihat beban berat sedang ditanggungnya. Aku melihat segala hal yang menjadi kebutuhanku perlahan terpenuhi.. Satu per satu bisa aku dapatkan. Bersama itu pula satu per satu uban putih muncul diantara rerimbunan rambut ayahku.

Ya. Semakin hari aku tersadar, banyak perubahan yang terjadi pada diri ayahku.
Warna rambutnya yang berubah, kerutan di wajahnya yang tidak lagi tersembunyi dan itu membuatku semakin yakin, bahwa ayahku tengah berjuang keras dalam membahagiakan keluarganya.
Seperti tatkala ia telat pulang kerja malam hari karena ada rapat di kantornya, ia selalu membawakan kami makanan yang bersisa dari rapat di kantornya.
Melihat wajahnya yang sumringah benar-benar menandakan rasa senangnya ketika bisa membawakan makan malam untuk anak serta istrinya.

Karena ayahku adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.
Bahkan ketika ia tidak kuat untuk tidak menangis.
Ia harus terlihat tegas bahkan saat ia ingin memanjakanku.

Ayahku ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, dan tidak tergantung pada siapapun tapi selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayahku pernah berkata “Ayah akan selalu memelihara janggut, meski telah memutih,
agar kamu bisa ‘melihat’ para malaikat bergelantungan disini dan agar kamu selalu bisa mengenali ayah.”

Dan ayah juga penah berpesan: "Mbak, jangan cengeng ya meski kamu ini adalah seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecil ayah dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak!
Seorang laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kamu gantikan posisi Ayah di hatimu."

Ohh ayah.
Baru aku meyakini, bahwa betapa beruntungnya aku memiliki ayah sepertimu.
Ayah terbaik sepanjang perjalanan hidupku.
Seorang ayah yang memberi banyak pelajaran kehidupan.

Ayah..
Namamu kan selalu terpatri.
Meski sedikit perhatian yang tercurah.
Bagiku sudah sangat berarti.
Ketika peluhmu mengalir.
Yang begitu agung, maka..
Tercucilah rindu.
Pada alunan kata yang sejuk.

Terima kasih ayahku......
Untuk setiap peluh yang kau teteskan,
untuk setiap kerut dahimu yang tidak sempat kuhitung,
untuk setiap jaga sepanjang malam ketika aku sakit dan ketika kau merindukanku,
untuk tetes ‘air mata laki-laki’ yang begitu mahal ketika kau mengkhawatirkan aku,
untuk kepercayaanmu padaku, meski seringkali ku hianati.
Sungguh tidak akan pernah bisa terbalas segalanya.
Dan aku mencintaimu karena-Nya.
 
· · Bagikan · Hapus

Menteri Pariwisata Baru Kita: " Thanks ya.. Julia Robert..!"

oleh Ricko Bahemar pada 29 Oktober 2009 jam 17:32
Inilah, mestinya, sebuah promosi pariwisata yang dampaknya bisa lebih besar daripada hasil kerja tiga menteri pariwisata sekaligus: Julia Roberts. Peraih Oscar ini bukan hanya pergi ke Bali Indonesia. Julia Roberts tinggal di Bali untuk lebih dari satu bulan. Bahkan, dia sedang syuting film Hollywood sebagai pemeran utama dalam film Eat, Pray, Love.

Bisa dibayangkan betapa besarnya gema Bali dan Indonesia setelah pemutaran film itu nanti. Bahkan, mestinya sudah sejak pembuatannya sekarang. Kita pasti masih ingat betapa pariwisata Selandia Baru mendapat durian runtuh ketika film Lord of The Rings dibuat di negeri dingin itu.

Julia Roberts, Hollywood, dan film yang didasarkan pada novel laris dunia: bentuk promosi apa lagi yang lebih hebat daripada itu..?

Seluruh APBN kita di bidang pariwisata pun (tahun 2009 hanya sekitar Rp 1,4 triliun) belum tentu cukup untuk merayu Hollywood agar mau bikin film yang bagus untuk mempromosikan Bali Indonesia. Itu, kedatangan Julia Roberts itu, tidak mencuil sedikit pun APBN kita.

Padahal, Malaysia saja harus menghabiskan dana besar agar "Gedung Jagung" (baca: menara kembar Petronas) yang menyandang gelar sebagai gedung kembar tertinggi di dunia itu bisa menjadi latar belakang atau setting film Entrapment, yang dibintangi aktris Catherine Zeta-Jones dan aktor Sean Connery, salah satu bintang film James Bond. Padahal, dalam film itu, Gedung Jagung hanya kelihatan beberapa kilas.

Kita sungguh harus berterima kasih kepada Julia Roberts. Tentu juga kepada Hollywood. Lebih khusus lagi kepada Elizabeth Gilbert yang telah menulis novel dengan setting Bali, khususnya Ubud (Gianyar) dan Jimbaran (Badung).

Tapi, sampai hari ini, saya belum melihat ada orang Indonesia yang secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada mereka. Kalau saja saya presiden Indonesia, saya akan menjamu Julia Roberts. Setidaknya kalau saya menteri pariwisata. Kita buat Julia Robert sangat terkesan selama di Bali.

Dengan kehadiran bintang film top dunia di Bali itu, apalagi untuk waktu yang lama, apalagi untuk syuting film bagus, apalagi mengenai daya tarik Bali, apalagi jalan ceritanya sangat menarik, rasanya baru kali ini Bali mendapat promosi gratis ke seluruh dunia lewat media yang sangat abadi ini: film. Memang, Bali pernah mendapat promosi melalui penyanyi Filipina, Maribeth, dengan lagunya Denpasar Moon. Namun, lagu itu tidak mendunia."Saya tidak jadi menyesal membeli properti di Bali," ujar seorang pengusaha Surabaya. "Harga properti di Bali pasti akan naik," tambahnya. Pengusaha itu memang pernah mengeluh setelah terjadi bom Bali. Kini ke mana-mana dia bercerita mengenai Julia Roberts yang lagi syuting film di Bali.

Begitu serunya pengusaha tersebut bercerita, sampai-sampai saya harus membeli novel yang sedang difilmkan dengan judul yang sama itu: Eat, Pray, Love. Cover novel itu sendiri sudah menarik: tulisan Eat-nya menggunakan keju. Pray-nya menggunakan untaian tasbih atau rosari. Love-nya menggunakan rangkaian kelopak bunga anggrek. Itulah novel karya penulis Amerika Serikat bernama Elizabeth Gilbert. Itulah novel yang masuk dalam daftar buku terlarisnya The New York Times. Itulah novel yang meski ditulis pada 2006, tapi masih terus menjadi perbincangan di Amerika. Terutama di kalangan yang khusus ini: wanita, umur 30?40-an tahun, mapan, dan berstatus janda. Jumlah mereka ini tidak kecil di AS mengingat kebiasaan cerai dan menjadi single mother sangat umum di sana.

Novel itu memang berkisah mengenai wanita pada umur yang mudah goyah tersebut. Kegoyahan yang berakibat pada gangguan kejiwaan yang sangat berat. Liz, yang akan diperankan oleh Julia Roberts, seperti layang-layang putus setelah bercerai dari suaminya. Dia begitu benci kepada suaminya itu sampai-sampai dia menolak kata-kata bijak "kalau engkau mau mengetahui lebih banyak tentang suamimu, maka ceraikanlah dia?. Dia benar-benar bercerai justru karena ingin berhenti mengetahui lebih jauh mengenai suaminya.

Sebagai orang Kristen KTP, dia memang percaya Tuhan. Tapi, dia merasa belum pernah bisa bertemu Tuhan. Sampai-sampai dia ragu bagaimana harus menyebut Tuhan: He (dia untuk laki-laki) atau She (dia untuk perempuan). Dia begitu ingin bertemu Tuhan dan mendapatkan kedamaian jiwa. Dia mengelana ke Italia, India, dan akhirnya ke Bali. Di Bali, Liz menemui Ketut Liyer yang dia anggap bisa menjawab pertanyaan dasar yang sulit ini: bagaimana bisa menyatu dengan Tuhan, dicintai dan mencintai Tuhan seumur hidup tapi tidak harus jadi pendeta atau ulama dan tetap bisa menikmati segala kenikmatan dunia.

Bali mendapat promosi yang luar biasa. Bali yang digambarkan di novel itu sebagai satu-satunya surga di dunia, yang bisa menyelesaikan persoalan rumit Liz: dia mendapatkan ketenteraman jiwa dan kemurnian cinta dari seorang pria asal Brazil yang tinggal di Bali dengan alasan yang sama.

Julia, maafkan kalau sampai Anda pulang nanti, tidak ada sambutan hangat untuk Anda dan rombongan. Maafkan kalau kami kurang berterima kasih kepada Anda"


    • Irwan Rusli
      Thank utk tulisannya pak dahlan..dan thank for julia and team..but mereka melakukan kerja bisns dinegri kita ini sesuai aturan..ya silahkan..biasa aja lagi..dan tentang dampak plus atau. Miinusnya ya berjlan. Apa adanya. Ada..ngak usah terl...Lihat Selengkapnya

      29 Oktober 2009 jam 17:53 ·

    • Ricko Bahemar makasih pak irwan ... Kata pak dahlan...!
      29 Oktober 2009 jam 18:32 ·

    • Dua Hsp Bravo utk penulis..
      Thank u sdh dtag,Ricko,,
      Smg teman2ku pd baca,,

      29 Oktober 2009 jam 18:51 ·

    • Ricko Bahemar sama2.... buk dua...!
      29 Oktober 2009 jam 19:11 ·

    • Puty Jiejim Xiftroid Young Aq juga mw jadi menteri ???? Kira2 lulus ga yawh ???
      Mantaaappppffffff Rick !!!
      Hªª=Dhªª=))hªª=Dhªª...

      30 Oktober 2009 jam 14:01 ·

    • Ricko Bahemar ‎@234,, jadi julia robert se lah buk jim....! wkwkwkw wak jadi ketut liyer... hahahahhaa....
      30 Oktober 2009 jam 23:33 ·

    • Dayu Darwin Ricko mantap makasih alah di tag ka amak yo onde sabana rancak ko tulisannyo ko
      31 Oktober 2009 jam 7:05 ·

    • Dayu Darwin Onde iyo jempol untuak ricko jo julia robert ko salut wak kagum deh kita ya bravo ciek untuak sadonyo yg terlibat dlm pembuatan film tu mantap great cihuy eng ing eng kapan beredar nya kooo? Jan lupo agiah tau ka amak yo
      31 Oktober 2009 jam 7:08 ·