Labels

100 Tokoh Dunia (100) Alam (28) Alien (9) Artikel (268) Binatang (18) Catatanku (17) Do"a (7) Download (6) FACEBOOK (8) Fakta (20) Film (23) Foto (91) GaMe (3) Handphone (6) Imsakiyah (17) Indonesiaku (3) Internet (11) Islam (174) Kata2 (5) Kenapa? (9) Kesehatan (24) Kisah (35) Kisah 25 Nabi (22) Komputer (12) Lelucon (33) Minangkabau (21) Misteri (74) Musik (9) Nusantara (1) Olah Raga (17) Pendidikan (2) Photoshop (86) Puisi (14) Renungan (37) Sejarah (110) Teknologi (13) Tips n Trik (16) Tokoh (168) Tour De Singkarak 2011 (7) Tour De Singkarak 2013 (1) TV (7) Unik n Kreatif (288) Video (7) Widget (1)
Home » » ◕ Kebohongan Seorang IBU ◕

◕ Kebohongan Seorang IBU ◕

oleh Ricko Bahemar pada 08 Mei 2010 jam 10:06
 
( TULISAN INI DI KIRIM OLEH SEORANG TEMAN FACEBOOK)

Sukar untuk orang lain percaya, tapi itulah yang terjadi, ibu saya memang seorang pembohong.
Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana.


Kebohongan Ibu yang Pertama
Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi danlauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : “Makanlah nak ibu tak lapar.” 

Kebohongan Ibu yang Kedua
Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi.

Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan.” 

Kebohongan Ibu yang Ketiga
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.” 

Kebohongan Ibu yang Keempat
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!”. 

Kebohongan Ibu yang Kelima
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu… Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga… Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki”. 

Kebohongan Ibu yang Keenam
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang”. 

Kebohongan Ibu yang Ketujuh
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata: “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang”. 

Kebohongan Ibu yang Kedelapan
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit”. 

Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya ntuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya.

Kalau orangtua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata,

“Ibu/Ayah, saya sayang ibu/ayah”


· · Bagikan · Hapus


    • Enok Eha Suhardini kenapa kamu mengatakan ibumu pembohong, mungkin demi kebenaran ia berbohong
      08 Mei 2010 jam 10:14 ·

    • Yessi Rofia Fahdi Nice... :))
      08 Mei 2010 jam 10:14 melalui Facebook Seluler ·

    • Yulli Sumitro yg ini ENGGAK BOHONG... Doa q sl untukmu putra/i q... + cucu2 q... wl kalian g sempet menelpon q...
      08 Mei 2010 jam 10:15 ·

    • Titin -miio Chabby huft....
      Saya sgt terharuu....
      Jdi kgen dch m ibu t2...

      08 Mei 2010 jam 10:18 melalui Facebook Seluler ·

    • Yulli Sumitro Bohong demi tentramkan hati anak2nya... bs diterima donk...
      08 Mei 2010 jam 10:19 ·

    • Mila Amran kalau mila..sia yang ka mila telepon da?? amak lah pai......hiks.....
      08 Mei 2010 jam 10:21 ·

    • Wirman Bakar terema kasih ceritanya, sungguh memilukan,sehingga meleleh air mata saya
      08 Mei 2010 jam 10:24 ·

    • Desnawati Des terharu se kale....msh ad kah ibu spt itu di zmn skrng???
      08 Mei 2010 jam 10:27 melalui Facebook Seluler ·

    • 'Budi Hidayat Nice note bro...mom will never die..
      08 Mei 2010 jam 10:27 melalui Facebook Seluler ·

    • Firman Abdullah Bung Trims RICKO.....
      08 Mei 2010 jam 10:40 ·

    • Urii YanzabiekibikiChan Uri like thizzz,..kasih ibu sepnjang jalan.....
      08 Mei 2010 jam 10:43 melalui Facebook Seluler ·

    • Abdul Rohmatullah masihkah ada... perempuan seperti itu...... hebat.... SUPER MOM
      08 Mei 2010 jam 10:50 ·

    • Rina Aryani Izin aku share ya...pleeezz...haru bangeet.. aku jd nangis niiiy...
      08 Mei 2010 jam 10:58 ·

    • Igrany Shuzan Kebohongan yg justru menunjukkan kasih ibu yg tdk terbatas..
      08 Mei 2010 jam 11:27 melalui Facebook Seluler ·

    • Igrany Shuzan Kebohongan yg justru menunjukkan kasih ibu yg tdk terbatas..
      08 Mei 2010 jam 11:29 melalui Facebook Seluler ·

    • Lutfi S Fz Sebuah perenenungan untuk kita semua, agar kita selalu senantiasa mengingat dan menghargai orang terpenting di hidup kita, yaitu Orang tua terutama seorang ibu yang melahirkan kita.
      08 Mei 2010 jam 11:36 ·

    • Abi Aisha Farhan seorang ibu bak malaikat bagi anak2nya...seberapa pun kita membalasnya tak kan dapat. krn dia tak harapkan balasan kita, semoga Allah swt yg membalasnya, Amiin
      08 Mei 2010 jam 11:36 ·

    • Septi Dwita ibu....muara telaga kehidupan. luv u mom
      08 Mei 2010 jam 11:37 ·

    • Sektio Mirnayati Kasih ibu sepajang jalan kasih anak sepanjang penggalan. ini benar adanya dan terbukti.
      08 Mei 2010 jam 12:41 melalui Facebook Seluler ·

    • Ayah Najwa-Ito Pokiah Kayo emang, kasih sayang ibu tu baru taraso bana kalau lah punyo anak kasado e....
      kalau alun, oiiiii antahlah yuooonnggggg....???

      08 Mei 2010 jam 13:37 ·

    • Ita Jamal Tapi aku ngak suka BOONG TUh...,..Aku lebih memilih biar di kena MARAh....dari pada BOONGGGGGGG.... ngak enak nanti belakang nya......, aku protes....kalo ada ibu2 suka BOONG...!!!......JUJUR DONG????? susah amat sihhhhhh!!!
      08 Mei 2010 jam 14:50 ·

    • Uni Linda menyentuh sekali,sebegitunya seorang ibu menahan segala galanya utk anaknya,tp kebanyakan anak sekarang kalau dah berhasil dan punya istri lupa dg maknya.sesuatu yg sangat menyedihkan
      08 Mei 2010 jam 16:37 ·

    • Vivi Sanusi cerita yg mengharukan...tq fren.kl blh tag bwat aq yach...
      08 Mei 2010 jam 17:04 melalui Facebook Seluler ·

    • Norman Aswin mohon share ya, tks .
      08 Mei 2010 jam 17:09 ·

    • Benny Aziz manta88 bro......jujur mata gw berkaca...bagus bener.....
      I love u mom..... :D

      08 Mei 2010 jam 19:15 ·

    • Netti Hando tag lo namo wak ciek yo pak,sangat terharu aku membaca, demi kebaiakn dan kebahagiaan anak nggak apa2, tp kalau durhaka anak2nya itu yg kita ngak terima
      08 Mei 2010 jam 19:29 melalui Facebook Seluler ·

    • Wira Danis i lov mom...............
      08 Mei 2010 jam 20:22 ·

    • Delsi Echy Afrini Mom is everything to me.....
      08 Mei 2010 jam 20:52 ·

    • Fitri Yessi Susanti mantap.....tx ndt.....
      08 Mei 2010 jam 21:51 ·

    • Trisma Nensih Hati sy benar2 tersentuh..sambil berlinangan air mata sy membacanya.begitulah contoh seorang Ibu mithali,dia banyak berkorban demi anak2nya.bohong yg dia lakukan adlh bohong sunat..bohong yg d izinkan..
      @Kasih IBU MEMBAWA K SURGA...

      08 Mei 2010 jam 23:33 melalui Facebook Seluler ·

    • Rahmi Gucci Mimi I love you mom and i miss you...
      09 Mei 2010 jam 7:13 melalui Facebook Seluler ·

    • Anai Permai Ini pelajaran bagi kita untuk mendidik anak, semoga kita menjadi anak2 yang sholeh bagi Ortu kita, Amin.............
      09 Mei 2010 jam 9:50 ·

    • Lisa Dresia kasih seorang ibu yang selalu tulus mencintai anak anaknya
      09 Mei 2010 jam 16:26 ·

    • Nina Syofyan luv you so much.....Mom
      09 Mei 2010 jam 17:38 ·

    • Ardy Teonk Tarimokasih sank lah berbagi, nice story Respect :)

      Ibuk ku adalah Pahlawan Ku :)

      10 Mei 2010 jam 1:14 ·

    • Yudhi Yanuar Fiqri Mantap...
      Jadi terahu...
      Hiks hiks hiks

      10 Mei 2010 jam 7:49 melalui Facebook Seluler ·

    • Dick Andiro more than words..
      10 Mei 2010 jam 8:25 ·

    • Id Doank yo mantap carito nyo bg ricko.
      10 Mei 2010 jam 11:37 melalui Facebook Seluler ·

    • Irwan Rusli catt sangat bagus..tapi gambar diatas visualisasi ibu yg diceritakan atau bukan..kok aneh bgt..
      11 Mei 2010 jam 17:44 melalui Facebook Seluler ·

    • Arif Gunawan mantap bang
      24 Agustus 2010 jam 9:46 ·

    • Urii YanzabiekibikiChan uwaaaa,hua,bneran nangs ni,.luv u mom,kangen sangatt..,sangat,sangat,sangat....
      24 Agustus 2010 jam 10:54 melalui Facebook Seluler ·

    • Elmi Syafrina Tharu bgd,,
      tlg di Taq dunk Pak nama Q

      24 Agustus 2010 jam 14:03 melalui Facebook Seluler ·

    • Sony Sikumbang Itulah Ibu dia adalah sosok malaikat yang berwujud dan hidup di antara kita
      24 Agustus 2010 jam 17:04 ·

    • Bagindo Saleh II Maauuunnntaaabbb...
      25 Agustus 2010 jam 8:48 ·

    • Netti Korarelawati I LIKE RICO......THANK
      13 September 2010 jam 11:40 ·

    • Zainil Niel
      Agama tdk melarang kt berbohong, sepanjang kebohongan itu demi kebaikan dan kebahagian org lain. Seorang ibu melakukan kebohongan pd anaknya demi kebaikan anaknya sendiri. Dia rela tdk mencicipi hasil jerih payahnya demi anak2nya agar tdk m...Lihat Selengkapnya

      12 Januari jam 18:46 melalui Facebook Seluler ·

0 komentar: