1. Bhūmi Mālayu
Bhūmi
Mālayu ("Tanah Melayu") terukir di Prasasti Padang Roco, yaitu sebuah
prasasti yang ditemukan pada tahun 1911 di hulu sungai Batanghari,
kompleks percandian Padangroco, nagari Siguntur, kecamatan Sitiung,
kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Selanjutnya dalam naskah
Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut "Bumi Malayu"
(Melayu) untuk pulau ini. Di pulau ini juga pernah berdiri kerajaan
Melayu yang berpusat di Muara sungai Batang Hari, Jambi. Pada tahun 682
kerajaan ini ditaklukkan oleh Sriwijaya, dan melalui Sriwijaya bahasa
dan kebudayaan Melayu disebarkan ke daerah kekuasaannya.
2. Swarnnabhūmi
Pada
Prasasti Padang Roco dipahatkan swarnnabhūmi (bahasa Sanskerta, berarti
"tanah emas"). Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka,
menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke
Suwarnabhumi.
3. Suwarnadwipa
Dalam
berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta:
Suwarnadwipa “pulau emas”. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian
Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib
(tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa.
Abu
Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun
1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib.
4. Malaya dvipa
Istilah
Malaya dvipa muncul dalam kitab Purana, sebuah kitab Hindu purba, yang
ditulis sebelum zaman Gautama Buddha sehingga 500 Masihi. Dvipa
bermaksud "tanah yang dikelilingi air" dan berdasarkan maklumat-maklumat
yang lain dalam kitab itu, para pengkaji beranggapan bahawa Malaya
dvipa ialah Pulau Sumatera.
5. Pulau Emas
Istilah
pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindua Mato dari Minangkabau.
Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pula
yang besar ini. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang
bertahun-tahun menetap di Sriwijaya pada abad ke-7, menyebut pulau
Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “Negeri Emas”.
6. Taprobana
Di
kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama
Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios,
ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia
menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis.
Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai.
Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat
Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.
Sejak
zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah
mendatangi Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan
(Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat
itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah
menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur,
sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad
pertama Masehi.
Pada masa Dinasti ke - 18 Fir’aun di
Mesir ( sekitar 1.567SM-1.339SM ), di pesisir barat pulau sumatera telah
ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Barus ( Lobu Tua – daerah
Tapanuli ) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Barus
dikenal karena merupakan tempat asal kapur barus. Ternyata kamper atau
kapur barus digunakan sebagai salah satu bahan pengawet mummy Fir’aun
Mesir kuno.
7. Chryse Nesos
Naskah
Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa
Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’.
8. Pulau Percha
Di
pulau ini banyak terdapat Getah perca atau Palaquium adalah salah satu
tumbuhan asli Sumatra. Tumbuhan ini juga terdapat di Semenanjung Malaya,
Australasia, Taiwan bahkan sampai ke Kepulauan Solomon.
9. Bumi Andalas.
Bebesaran
atau murbei (Latin: Morus) adalah sebuah genus yang terdiri dari 10–16
spesies pohon tertentu yang asli berasal dari daerah panas sedang dan
subtropis di Asia, Afrika dan Amerika. Mayoritas spesies asli berasal
dari Asia. Salah satunya yang terkenal adalah di desa Andaleh, kecamatan
Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang telah mencapai
usia lebih dari 120 tahun.
10. Sumatera
Sumatera
berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14.
Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk
menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang
disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang
mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya
bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur
pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis.
Catatan-catatan
orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir
Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatera.
Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah
Indonesia: Sumatera.
Dalam kitab umat Yahudi, Melakim
(Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil
menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan
beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir. Kitab Al-Qur’an, Surat
Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke
“tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).
Banyak
ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di
Sumatera (Gunung Ophir di Pasaman Barat, Sumatera Barat yang sekarang
bernama Gunung Talamau. Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat
pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis
Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus
yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan
ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak
negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s.
Pulau Sumatra dari
dahulu memang terkenal sebagai daerah penghasil emas, khususnya daerah
Sumatra Barat, konon katanya pemasukan emas Sriwijaya berasar dari
Minangkabau. Berdasarkan laporan dari Thomas Dias, seorang Portugis yang
digaji oleh Belanda di Melaka pada masa itu. Dia dikatakan mengembara
dari pantai timur untuk tiba ke kawasan tersebutdan melaporkan,
kemungkinannya dari cerita orang, bahawa terdapat istana di Pagaruyung
dan pelawat perlu melalui tiga pagar untuk memasukinya. Dia melaporkan
bahawa kerja utama penduduk tempatan pada masa itu merupakan mendulang
emas dan pertanian. Di pantai barat sumatera pun banyak terdapat
pelabuhan yang menjual berbagai macam komoditi termasuk emas. Sampai
sekarang pun Masih banyak daerah penghasil Emas di Sumatra Barat. Bahkan
beberapa daerah dipusingkan karena adanya penambangan ilegal oleh
Masyarakat seperti di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Solok Selatan.