Labels

100 Tokoh Dunia (97) Alam (28) Alien (9) Artikel (266) Binatang (18) Catatanku (17) Do"a (7) Download (6) FACEBOOK (8) Fakta (20) Film (23) Foto (91) GaMe (3) Handphone (6) Imsakiyah (17) Indonesiaku (3) Internet (11) Islam (174) Kata2 (5) Kenapa? (9) Kesehatan (24) Kisah (35) Kisah 25 Nabi (22) Komputer (12) Lelucon (33) Minangkabau (21) Misteri (73) Musik (9) Nusantara (1) Olah Raga (17) Pendidikan (2) Photoshop (86) Puisi (14) Renungan (37) Sejarah (109) Teknologi (13) Tips n Trik (16) Tokoh (165) Tour De Singkarak 2011 (7) Tour De Singkarak 2013 (1) TV (7) Unik n Kreatif (286) Video (7) Widget (1)

Belum Ada Kapolri Sehebat Hugeng (Jujur & Amanah)

Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso merupakan salah satu putra terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Ia merupakan Kapolri ke-V yang dilantik pada 1 Mei 1968 menggantikan Panglima Angkatan Kepolisian Jenderal Polisi M. Ng. Soetjipto Joedodihardjo. 

    Hoegeng Iman Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Beliau lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan. Meskipun berasal dari keluarga Priyayi (ayahnya merupakan pegawai atau amtenaar Pemerintah Hindia Belanda), namun perilaku Hoegeng kecil sama sekali tidak menunjukkan kesombongan, bahkan ia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul.

    Masa kecil Hoegeng diwarnai dengan kehidupan yang sederhana karena ayah Hoegeng tidak memiliki rumah dan tanah pribadi, karena itu ia seringkali berpindah-pindah rumah kontrakan. Hoegeng kecil juga dididik dalam keluarga yang menekankan kedisiplinan dalam segala hal. Hoegeng mengenyam pendidikan dasarnya pada usia enam tahun pada tahun 1927 di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Tamat dari HIS pada tahun 1934, ia memasuki Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yaitu pendidikan menengah setingkat SMP di Pekalongan.

    Pada tahun 1937 setelah lulus MULO, ia melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middlebare School (AMS) pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta. Pada saat bersekolah di AMS, bakatnya dalam bidang bahasa sangatlah menonjol. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang suka bicara dan bergaul dengan siapa saja tanpa sungkan-sungkan dengan tidak mempedulikan ras atau bangsa apa. Kemudian pada tahun 1940, saat usianya menginjak 19 tahun, ia memilih melanjutkan kuliahnya di Recht Hoge School (RHS) di Batavia.

    Selama kepemimpinan Hoegeng, banyak hal terjadi dalam tubuh internal Kepolisian Republik Indonesia. Langkah pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya adalah struktur baru yang lebih dinamis dan komunikatif. Langkah kedua adalah perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No. 52 Tahun 1969, sebutan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI) diubah menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Selain itu sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri) dan nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian.

    Di bawah kepemimpinan Hoegeng pulalah peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization, semakin aktif. Hal tersebut ditandai dengan dibukanya sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

    Pada masa kepemimpinan Hoegeng sebagai Kapolri, strategi kepolisian Indonesia yang tercermin pada masa itu adalah bahwa Kepolisian Republik Indonesia kembali ke fungsi pokok kepolisian, tidak mencampuri urusan angkatan lain di ABRI. Hoegeng juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemisahan Angkatan Kepolisian dari ABRI. Ia juga meminta agar angkatan lain tidak ikut campur tangan dalam urusan Kepolisian Indonesia. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah bahwa Kepolisian Indonesia “kembali kepada fungsinya”.

Jujur dan Amanah
    Kapolri di tahun 1968-1971 ini, juga pernah menjadi Kepala Imigrasi (1960), dan juga pernah menjabat sebagai menteri di jajaran kabinet era Soekarno. Kedisiplinan dan kejujuran selalu menjadi simbol Hoegeng dalam menjalankan tugasnya dimana pun. salah satu bentuk kejujuran beliau antara lain:

    Misalnya, ia pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim Polda Sumatera Utara tahun 1956. Ketika itu, Hoegeng dan keluarganya lebih memilih tinggal di hotel dan hanya mau pindah ke rumah dinas, jika isinya hanya benar-benar barang inventaris kantor saja.

     Semua barang-barang luks pemberian itu akhirnya ditaruh Hoegeng dan anak buahnya di pinggir jalan saja. “Kami tak tahu dari siapa barang-barang itu, karena kami baru datang dan belum mengenal siapapun,” kata Merry Roeslani, istri Hoegeng.

     Polisi Kelahiran Pekalongan tahun 1921 ini, sangat gigih dalam menjalankan tugas. Ia bahkan kadang menyamar dalam beberapa penyelidikan. Kasus-kasus besar yang pernah ia tangani antara lain, kasus pemerkosaan Sum tukang jamu gendong atau dikenal dengan kasus Sum Kuning, yang melibatkan anak pejabat. Ia juga pernah membongkar kasus penyelundupan mobil yang dilakukan Robby Tjahjadi, yang notabene dekat dengan keluarga Cendana. Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Soeharto.

     Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

    “Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Roelani. “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya.

    Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. “Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.

     Putra Hoegeng menceritakan pengalaman berharga mereka ketika menjadi seorang anak pejabat. Ia bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang putranya yang bernama Didit.

    Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.

    Memasuki masa pensiun, Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Perlu anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp 10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500. Walaupun pada akhirnya ada perubahan gaji pensiunan dari Rp. 10.000 ditetapkan menjadi Rp 1.170.000 hingga akirnya beliau wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu 14 Juli 2004 pukul 00.30.

     Hoegeng, sebuah permata indah yang berusaha bersinar dalam kegelapan. Namun tak kuasa melawan hingga akhirnya harus redup dan meninggalkan kegelapan merajalela di bumi Indonesia. Hoegeng adalah contoh bahwa masih ada kejujuran dalam hati setiap bangsa Indonesia. Jangan takut untuk menjadi pribadi yang jujur, meskipun kita harus terbuang dan tersingkir. Biarlah satu Hoegeng dapat membangkitkan jutaan Hoegeng lagi, demi bangsa yang menjunjung tinggi kejujuran.

    Hoegeng wafat dalam usia 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya. Kepergiannya menyisakan kesedihan yang mendalam, karena Bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik bangsanya yang terkenal akan kejujuran dan konsistensinya.

Presiden Yang Di Segani Di Dunia

FOTO-FOTO SUKARNO BERSAMA PEMIMPIN DUNIA


Ir. Sukarno, lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970 (usia 69 tahun) di Jakarta. Dimakamkan di kota Blitar. Ir. Sukarno yang dipanggil dengan nama akrab “Bung Karno” adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode tahun 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator 
Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Presiden Sukarno sedang bersalaman dengan Sekjen PBB, Dag Hammarskjold (Foto : 24 Mei 1956). 

Dag Hammarskjold, diplomat Swedia, menjabat sebagai SekJen PBB yang kedua. Ia menjabat dari April 1953 sampai kematiannya akibat kecelakaan pesawat pada September 1961.

Presiden Sukarno sedang berbicara dengan Mao Tse Tung (Mao Zedong) (Foto: 24 Nopember 1956). 

Mao Zedong (26 Desember 1893 – 9 September 1976) adalah pendiri negara Republik Rakyat Cina pada tahun 1949 dan memimpin negara itu sejak tahun 1949 sampai kematiannya pada tahun 1976. Mao juga sebagai pemimpin Partai Komunis Cina yang memenangkan perang saudara pada tahun 1949 melawan kaum nasionalis Cina, Kuomintang, yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek. Kaum nasionalis akhirnya melarikan diri ke Taiwán dan mendirikan negara sendiri.
Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956). 

Richard Milhous Nixon (9 Januari 1913 – 22 April 1994) adalah Wakil Presiden Amerika Serikat ke 36 (1953 – 1961) dan Presiden Amerika Serikat ke 37 (1969 -1974). Ia merupakan presiden Amerika Serikat pertama yang mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran datang sebagai tanggapan atas ruwetnya skandal yang disebut “Skandal Watergate”. Ia mengumumkan berakhirnya Perang Vietnam yang telah menelan korban ribuan tentara AS (tewas 58.209, terluka 153.303) dan ratusan ribu korban tentara Vietnam Utara (tewas 230.000, terluka 300.000). Pengumuman itu secara tak langsung menjadi pengakuan Amerika bahwa mereka kalah perang di kancah Asia Tenggara.

Presiden Sukarno bersama presiden AS, David Dwight Eisenhower, di Washington DC. (Foto: 16 Mei 1956).

Eisenhower (14 Oktober 1890 – 28 Maret 1969) atau dikenal dengan nama panggilan “Ike” berasal dari tentara dan politikus Amerika. Ia menjabat Presiden Amerika Serikat ke 34 (1953 – 1961). Pada Perang Dunia II, ia adalah Panglima Tertinggi di Eropa dengan pangkat Jenderal Angkatan Darat.

Presiden Sukarno sedang berunding dengan Presiden AS, Eisenhower, pada tahun 1960 di Washington DC. (Foto: 6 Oktober 1960). 

Bung Karno saat itu adalah salah satu dari 5 pemimpin negara netral (non blok) yang mensponsori resolusi PBB agar diadakan pertemuan antara Presiden Eisenhower (Presiden AS) dan Nikita Khruschev (Perdana Menteri “Uni Soviet” / Rusia) yang sedang mengalami ketegangan.

Presiden Sukarno tiba di bandara Karachi, Pakistan. Didampingi oleh Presiden Pakistan, Iskander Ali Mirza, Bung Karno tampak sedang memberi hormat, diapit oleh bendera Indonesia dan bendera Pakistan (Foto: 25 Januari 1958).

Iskander Ali Mirza (1899 – 1969), berpangkat Mayor Jenderal, adalah Presiden pertama negara Republik Islam Pakistan (23 Maret 1956 – 27 Oktober 1958).

Presiden Sukarno sedang disambut oleh Perdana Menteri Jepang, Kishi Nobusuke, di Tokyo, Jepang (Foto: 1958).

Kishi Nobusuke (1896 – 1987) adalah politisi Jepang yang menjadi Perdana Menteri Jepang ke 56 dan ke 57 (25 Pebruari 1957 – 12 Juni 1958, dipilih lagi sampai 19 Juli 1960).

Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan Kaisar Jepang, Hirohito, dan pangeran Akihito. Bung Karno dijamu makan siang di istana kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: 3 Pebruari 1958).

Hirohito (29 April 1901 – 7 Januari 1989) adalah kaisar Jepang yang ke 124. Dalam sejarah Jepang dia adalah Kaisar terlama yang memerintah (1926 – 1989) dan merupakan salah satu tokoh penting pada masa Perang Dunia II serta membangun Jepang kembali dari kehancuran akibat perang.

Akihito (lahir 23 Desember 1933) adalah kaisar Jepang yang ke 125 yang memerintah sejak tahun 1989, menggantikan ayahnya, kaisar Hirohito, yang meninggal dunia. Akihito adalah anak kelima dan putera pertama (7 bersaudara) dari Kaisar Hirohito.

Presiden Sukarno sedang bercakap-cakap dengan Presiden Kuba, Osvaldo Dorticos Torrado (kiri), dan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro (kanan) di Havana, Kuba (Foto: 9 Mei 1960).

Osvaldo Dorticos (17 April 1919 – 23 Juni 1983) adalah politikus Kuba yang menjadi presiden pada periode 17 Juli 1959 – 2 Desember 1976. Sesudah itu, Fidel Castro menggantikannya sebagai presiden.

Fidel Castro (Fidel Alejandro Castro Ruz), lahir 13 Agustus 1926, adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukkan pada Pebruari 1959. Karena mengalami sakit parah pada ususnya, maka pada tanggal 31 Juli 2006 ia menyerahkan tampuk pemerintahannya untuk sementara kepada Wakil Presiden pertama, Raul Castro, adik kandungnya. Lima hari sebelum mandatnya berakhir, tanggal 19 Pebruari 2008, Castro menyatakan tidak akan mencalonkan diri maupun menerima lagi masa bakti baru sebagai presiden maupun sebagai komandan Angkatan Bersenjata Kuba. Tanggal 24 Pebruari 2008, Majelis Nasional Kuba mengangkat secara resmi Raul Castro sebagai Presiden Kuba.

Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia). Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri “Uni Soviet”/Rusia, Nikita Khruschev, agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali (Foto: 29 September 1960).

Jawaharlal Nehru (14 Nopember 1889 – 27 Mei 1964) yang juga dipanggil Pandit (Guru) Nehru, adalah pemimpin sayap sosialis Kongres Nasional India saat perjuangan kemerdekaan India dari Kerajaan Britania (Inggris) dan pada masa setelahnya. Dia menjadi Perdana Menteri India yang pertama saat kemerdekaan India pada tanggal 15 Agustus 1947, dan terus menjabat hingga kematiannya tahun 1964. Ia bekerja keras untuk memperbaiki India dan juga perdamaian dunia. Ia mendukung pembentukan PBB. Seorang sosialis yang keras. Nehru dianggap sebagai salah satu pemimpin dunia yang terkemuka.

Kwame Nkrumah (21 September 1909 – 27 April 1972) adalah seorang pejuang kemerdekaan, tokoh Pan-Africanist menjelang abad ke 20. Ia pendiri negara Ghaha dan menjadi presiden Republik Ghana yang pertama (1 Juli 1960 – 24 Pebruari 1966).

Gamal Abdul Nasser (15 Januari 1918 – 8 September 1970) adalah presiden kedua Mesir. Dia merupakan salah seorang negarawan Arab yang paling terkemuka dalam sejarah. Pada tahun 1952 Abdul Naser memimpin Angkatan Bersenjata Mesir dalam kudeta yang menggulingkan Raja Farouk I. Pada awal 1954, Nasser menangkap dan menahan presiden pertama Mesir, jenderal Muhammad Naguib, dan pada tanggal 25 Pebruari 1954 Nasser menjadi Presiden Mesir yang kedua. Pada masa pemerintahannya, Nasser membangkitkan Nasionalis Arab dan Pan Arabism, berhasil menasionalisasi terusan Suez yang ditentang oleh Perancis, Inggris dan Israel. Membangun bendungan Aswan dengan bantuan pemerintah Uni Soviet. Setelah kalah dalam Perang Enam Hari dengan Israel pada tahun 1967, Nasser ingin menarik diri dari dunia politik, namun rakyat Mesir menolaknya. Nasser sekali lagi memimpin Mesir dalam Peperangan 1969-1970 (War of Atrion). Nasser meninggal akibat penyakit jantung 2 minggu setelah peperangan usai pada 28 September 1970. Nasser digantikan oleh wakil presiden Anwar Sadat sebagai Presiden Mesir ke 3.

Josip Broz Tito (25 Mei 1892 – 4 Mei 1980) adalah pemimpin Yugoslavia hingga berakhirnya Perang Dunia II. Pada tanggal 14 Januari 1953 Tito dipilih oleh parlemen sebagai Presiden Yugoslavia dan menjabat sebagai presiden sampai tahun 1974 dan setelah itu ia diangkat menjadi Presiden Seumur Hidup hingga masa kematiannya pada tahun 1980. Tito menjadi salah satu penggerak negara-negara non Blok bersama Bung Karno dan presiden lainnya sebagai reaksi atas perang dingin antara blok Timur melawan blok Barat.
Presiden Sukarno dan Presiden Mesir Nasser mengangkat gelas dan menyentuhkan gelas ke gelas (toast) Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, tuan rumah pada resepsi yang diadakan di “India House”, New York. Gelas mereka berisi “fruit punch” (Foto: 29 September 1960).

Presiden Sukarno berdiri bersama Perdana Menteri Uni Soviet (Rusia), Nikita Khrushchev disampingnya. Bung Karno sedang memberi keterangan pers setelah selesai pertemuannya selama 40 menit dengan Khruschvev (Foto: 6 Oktober 1960)

Nikita Sergeyevich Khrushchev (17 April 1894 – 11 September 1971) adalah seorang politikus Uni Soviet yang menjadi sekjen Partai Komunis Uni Soviet 1953 – 1964 dan menjadi Perdana Menteri Uni Soviet 1958 – 1964. Pada tahun 1964 ia dilengserkan oleh Partai Komunis dan digantikan oleh Leonid Brezhnev. Kebijakan-kebijakannya yang penting: 1955 mendirikan Pakta Warsawa, sebagai tandingan NATO, 1956 militer Uni Soviet mengintervensi Hungaria, 1956 mendukung Mesir selama Krisis Terusan Suez, memulai program angkasa Soviet yang berhasil mengirim satelit Sputnik dan kosmonot Yuri Gagarin ke luar angkasa, 1961 menyetujui pembangunan Tembok Berlin, 1962 menempatkan rudal-rudal nuklir di Kuba, sehinga memicu Krisis Rudal Kuba yang mengakibatkan memuncaknya ketegangan dengan Amerika.

Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).

John Fitzgerald Kennedy (29 Mei 1917 – 22 Nopember 1963), sering disebut John F. Kennedy, John Kennedy, Jack Kennedy, atau JFK adalah Presiden Amerika Serikat yang ke 35, menggantikan Presiden Dwight D. Eisenhower. Dilantik menjadi Presiden pada tanggal 20 Januari 1961 pada usia 44 tahun. Ia menjadi Presiden AS termuda kedua setelah presiden AS, Thodore Rooservelt. Jabatan kepresidenannya terhenti setelah terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada tahun 1963. Ia tewas oleh terjangan peluru saat melakukan kunjungan ke Dallas, Texas, dengan mobil terbuka, pada tanggal 22 Nopember 1963 (usia 46). Jabatan presiden kemudian diigantikan oleh Wakil Presiden, Lyndon B. Johnson.

Presiden Sukarno bersama Presiden AS, John F. Kennedy, dan Wakil Presiden AS, Lyndon B. Johnson (Foto: 25 April 1961).

Lyndon B. Johnson (27 Agustus 1908 – 22 Januari 1973) yang dijuluki LBJ adalah Presiden Amerika Serikat yang ke 36 (1963 – 1969). Sebelumnya adalah Wakil Presiden yang mendampingi Presiden Kennedy. Pada tahun 1963 ia menggantikan Kennedy yang tewas terbunuh. Karena menggantikan Presiden Kennedy, pada masa jabatan pertama ia tidak didampingi wakil presiden. Lalu setelah terpilih sebagai presiden tahun 1964, dalam menjalankan masa jabatan kedua ini ia didampingi oleh Wakil Presiden Hubert H. Humphrey.
 Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Republik Rakyat Cina, Chou En-Lai, berada duduk di kapal menyusuri Sungai Nil di Kairo. Chou En Lai sedang mengamati sesuatu dan Bung Karno mencek jam di arloji. Kedua pemimpin ini sedang berada di Mesir, menunggu pembukaan Konprensi Asia Afrika yang akan diadakan di Aljazair (Foto: 7 Mei 1965)

Chou En-Lai (Zhou Enlai) – (5 Maret 1898 – 8 Januari 1976), adalah seorang negarawan penting di Republik Rakyat Cina dan menjabat sebagai Perdana Menteri Cina dari sejak kemerdekaan itu tahun 1949 sampai dengan meninggalnya tahun 1976.

Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Perancis, Pompidou (Foto: 1965).

Georges Jean Raymond Pompidou (5 Juli 1911 – 2 April 1974) adalah Presiden Perancis dengan masa jabatan 1969 – 1974, menggantikan Presiden Perancis sebelumnya, Charles de Gaulle.






Orator Ulung


Presiden pertama RI itu pun dikenal sebagai orator yang ulung, yang dapat berpidato secara amat berapi-api tentang revolusi nasional, neokolonialis-me dan imperialisme. Ia juga amat percaya pada kekuatan massa, kekuatan rakyat.

“Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” kata Bung Karno, dalam karyanya ‘Menggali Api Pancasila’. Suatu ungkapan yang cukup jujur dari seorang orator besar. Gejala berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya. Hal ini tercermin dalam autobiografi, karangan-karangan dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya.

     Ia adalah seorang cen-dekiawan yang meninggal-kan ratusan karya tulis dan beberapa naskah dra-ma yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbit-kan dengan judul “Diba-wah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno.

     Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut tulisan pertama yang bermula dari tahun 1926, dengan judul “Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya, seorang pemuda berumur 26 tahun.

     Di tengah kebesarannya, sang orator ulung dan penulis piawai, ini selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup.

      Di akhir masa kekuasaannya, ia sering merasa kesepian. Dalam autobio-grafinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat itu, bercerita. “Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah…. Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.”

     Dalam bagian lain disebutkan, “Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil… Seringkali pikiran oranglah yang berubah-ubah, bukan pikiranmu… Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu.”

Bung Karno Putra Sang Fajar

DETIK-DETIK TERAKHIR SANG PROKLAMATOR


Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan ‘intensive care’ RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu

Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

“Pak, Pak, ini Ega…”

Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata. Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

“Hatta.., kau di sini..?”

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.

Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal…INNI LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UUN..






Masjid Muammar Qaddafy di Puncak Bukit Sentul

     Di Sentul, Bogor, Jawa Barat, sejak dua tahun lalu berdiri megah Masjid Muammar Qaddafy. Diberi nama pemimpin Libya itu karena dialah yang menanggung biaya pembangunan Masjid itu hingga Rp 50 miliar.


     Masjid MQ berada di dalam kompleks perumahan Bukit Az-Zikra, tak jauh dari tol Jagorawi yang menghubungkan Jakarta-Bogor. Bangunan megah itu tampak semakin gagah karena dibangun di puncak bukit salah satu kawasan di Sentul Selatan. Masjid itu menjadi simbol utama kompleks perumahan yang juga dikonsep menjadi permukiman muslim tersebut.

     Masjid ini mulai dibangun pada 22 Juli 2007 dan diresmikan penggunaannya pada 16 Februari 2009. Seluruh kebutuhan dana yang digunakan untuk pembangunannya didukung oleh “World Islamic Call Society”, sebuah organisasi dakwah Islam antarbangsa yang berpusat di Tripoli, Libya. Oleh karena itulah nama pemimpin Libya Moammar Qaddafy dipilih sebagai nama Masjid ini.

     Salah satu bangunan yang sarat makna adalah Payung Nabawi. Replika dua Payung Nabawi yang terletak di lantai satu atau di depan pintu masuk Masjid ini, menambah kelengkapan tampilan arsitektural bangunan Masjid yang memiliki bangunan seluas 12.600 meter persegi tersebut. Pengelolaan Masjid ini berada dalam tanggung jawab Yayasan Majelis Dzikir Az-Zikra yang diketuai oleh Ust. Arifin Ilham.

     Terkait dengan keputusan Yayasan Majelis Az-Zikra memberi nama Muammar Qaddafy, itu hanyalah persoalan penghargaan dan penghormatan terhadap kepedulian pemimpin Libya tersebut. Terutama, terhadap perkembangan dakwah Islam hingga ke Indonesia.

     Pihak pemberi dana berpesan, bahwa Masjid Muammar Qaddafy yang mereka danai itu tidak boleh digunakan untuk kegiatan ekstremisme dan radikalisme. Termasuk, kegiatan-kegiatan yang melenceng dari Islam, misalnya Ahmadiyah.

      Banyak kalangan yang kagum kepada sosok pemimpin Libya yang sering dianggap diktator oleh banyak pihak tersebut. Sebab, komitmen Qaddafy lewat lembaganya untuk melakukan dakwah di sejumlah negara tetap tak terganggu meski dalam negeri mereka dalam situasi sulit.

      Rencana ke depan, Masjid yang memiliki menara sekitar 57 meter di sisi kiri belakang bangunan utama Masjid itu akan dikembangkan menjadi Qaddafy Islamic Center (QIC). Menurut rencana, selain mendirikan pondok pesantren, Majelis Az-Zikra berencana mendirikan universitas.

Universitas tersebut didesain seperti cabang atau perwakilan universitas di Libya untuk Asia Tenggara. Seperti diketahui, setiap tahun Libya mengundang sejumlah mahasiswa muslim dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk belajar di negaranya. Biayanya gratis.

Jemaah Lakukan Shalat Ghaib di Masjid Muammar Qaddafy

     Kematian Muammar Qaddafy membuat pengurus Masjid meminta jemaah mengadakan Shalat Ghaib mendoakan almarhum mantan pemimpin Libya tersebut. Bukan hanya itu sang khotib dalam khotbahnya juga meyinggung keberanian Qaddafy yang disebutnya singa dari gurun pasir yang menentang kezoliman, kapitalisme dan neoliberal. “Manusia diciptakan Allah dan sifat yang baik dan buruk. Mungkin di mata rakyatnya Muammar Qaddafy buruk, tapi di sisi lain dia banyak memperjuangkan semangat Islam di dunia,” ujar khotib KH Mahyudi, Jumat (21/10).

     Keberanianya menentang kapitalisme, neoliberalisme dan kebijakan Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) yang merugikan umat Islam adalah bukti nyatanya. “Belum lagi bantuannya dalam menyiarkan Islam dengan mendirikan Masjid di sejumlah negara termasuk di Masjid ini,” ujarnya.

     Sebelum menutup khotbah keduanya, KH Mayudi Juanedi mengajak jemaah mendoakan Muammar Qaddafy agar segala amal ibadahnya diterima Allah SWT. Sebelum khotib naik mimbar, pembawa acara juga menyampaikan berita duka cita atas meninggalnya Muammar Qaddafy. “Meninggalnya sesorang jangan membicarakan keburukan, tapi lihat, contoh dan bicarakan yang baik-baik. Begitupula atas minggalnya Muammar Qaddafy,” pintanya.

     Dia lalu mengajak jemaah selesai Shalat Jumat untuk Shalat Gaib. Usai Shalat Jumat, hampir seluruh jemaat Shalat Ghaib lalu sang imam memimpin doa khusus buat almarhum mantan pemimpin Libya itu.

     Masjid dengan tiga lantai ini diresmikan 16 Februari 2009. “Semua dana dari The World Islamic Call Society (WICS). Sebuah organisasi dakwah Islam internasional berpusat di Tripoli, Libya, bentukan Muammar Qaddafy. Tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

     Meski demikian WICS atau pemerintah Libya tak pernah ikut campur dalam urusan Masjid ini. Termasuk desain dan nama Masjid yang diberi nama Muammar Qaddafy. “Soal nama Masjid, semata-mata penghargaan dan kepedulian almarhum terutama terhadap perkembangan dakwah Islam,” timpal KH Mahyudi Junaedi.

     Setiap tahun Masjid ini mendapat bantuan dari WICS. Namun, Budi maupun KH Mahyudi tak menyebutkan nilainya. “Terakhir Maret lalu. Bayangkan, negara berkecamuk perang saudara, tapi tetap menjaga komitmen mengirim bantuan,” ucap KH Junaedi dengan nada bergetar. [KbrNet/JP/slm]

Sjafruddin Prawiranegara Jadi Pahlawan Nasional


     Sjafruddin Prawiranegara setelah ditunggu sekian lama, gelar pahlawan nasional akhirnya disematkan kepada MR Sjafruddin Prawiranegara. Momen penganugerahan gelar pahlawan ini hendaknya diikuti pelurusan sejarah dan pembenahan nomenklatur urutan Presiden RI.

     Sejarawan Asvi Warman Adam kembali menegaskan, Sjafruddin adalah Presiden ke-2 RI. Alasannya, pria kelahiran Banten 28 Februari 1911 itu pernah menjabat Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang dibentuk ketika Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta ditangkap Belanda pada Agresi Militer II 1948. “Meski memakai nama ‘ketua’ bukan ‘presiden’, beliau telah menjalankan fungsi kepresidenan,” kata Asvi.

     Sejarah mencatat, atas usaha PDRI yang dipimpin Sjafruddin itu, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia dan membebaskan kembali Soekarno-Hatta dari pengasingan ke Yogyakarta, ibukota RI saat itu.

     Selain Sjafruddin, menurut Asvi, Presiden yang ‘hilang’ dalam sejarah republik ini adalah M Assat. Dia adalah Presiden RI ketika Indonesia berubah bentuk menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Wilayah RI saat RIS adalah Yogyakarta. “Bagaimana pun Assat pernah menjabat ‘Presiden RI’, dan Soekarno adalah Presiden RIS saat itu,” kata Asvi.


     Jika diurutkan, papar Asvi, Presiden ke-1 RI adalah Soekarno, Presiden ke-2 RI Sjafruddin Prawiranegara, Presiden ke-3 RI M Assat, Presiden ke-4 RI Suharto, Presiden ke-5 RI BJ Habibie, Presiden ke-6 RI KH Abdurrahman Wahid, Presiden ke-7 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-8 RI Susilo Bambang Yudhoyono. “Harusnya foto presiden di Istana Negara ditambahi dua foto, Sjafruddin dan Assat,” cetus ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini.
Sekilas Mr. Sjafruddin Prawiranegara

    Nama Mr. (Meester in de Rechten) Sjafruddin Prawiranegara tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa, baik dimasa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan maupun sesudahnya. Lahir di Banten, dari keturunan ningrat campuran Mi­nangkabau, Sumatera Barat dan Banten pada 28 Februari 1911.

      Dalam tahun 2011 ini Panitia Satu Abad Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang diketuai A.M. Fatwa menggelar sejumlah kegiatan seminar dan diskusi di beberapa kota. Sabtu (15/10) di Ge­dung Kementerian Keuangan RI berlangsung acara peluncuran dan diskusi buku “Mr. Sjafrud­din Prawiranegara Pemimpin Bangsa dalam Pusaran Sejarah”. Sebelum itu dalam acara di Gedung Bank Indonesia 28 Februari diluncurkan edisi baru biografi Sjafruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Alllah SWT ditulis oleh budayawan Ajib Rosidi.

     Sekilas tentang “apa dan siapa” Sjafruddin Prawiranegara dapat dijelaskan bahwa beliau adalah tokoh yang banyak jasanya terhadap ta­nah air, bangsa dan negara. Buku-buku teks seja­rah perlu mengungkap secara jujur dan adil per­an Sjafruddin yang membentuk dan memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia dis­ingkat PDRI di Sumatera Barat (19 Desember 1948 – 13 Juli 1949) di Halaban, Payakumbuh, lalu bergerilya ke Koto Tinggi, Bukittinggi, Sumpur Kudus dan daerah sekitar di Minang­kabau. PDRI yang diumumkan di Koto Tinggi 22 Desember 1948 adalah benteng republik di masa perang kemerdekaan untuk menyelamat­kan eksistensi negara dan pemerintahan RI yang nyaris lenyap dari peta bumi dengan terjadinya Agresi Militer Belanda II atas Ibukota RI Yog­yakarta (19 Desember 1948).

    Sjafruddin yang pernah menjadi anggota Badan Pekerja KNIP, Menteri Kemakmuran Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang pertama, merupakan tokoh peletak dasar-dasar pengelo­laan keuangan, fiskal dan moneter di negara kita.

    Pemikiran Sjafruddin yang dituangkan da­lam bentuk buku, naskah khutbah, brosur ser­ta artikel yang banyak dimuat di majalah Panji Masyarakat, Kiblat, Suara Masjid patut dijadikan referensi dan pegangan bagi generasi sekarang untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

    Pada hemat penulis, Sjafruddin Prawirane­gara adalah tokoh yang membuka wawasan ekonomi Islam di Indonesia. Hal itu berarti wacana tentang ekonomi Islam telah lama hadir di tanah air. Dalam kumpulan karangan terpilih yang diterbitkan berjudul. “Ekonomi dan Keuan­gan: Makna Ekonomi Islam (1988), terdapat tu­lisan beliau yang menjelaskan salah satu sebab timbulnya kekacauan sosial dan jurang pemisah yang semakin lebar antara mereka yang kaya dan miskin di dunia ini, adalah karena agama dipi­sahkan dari ekonomi. Padahal, ekonomi tidak boleh dijauhkan dari ajaran-ajaran agama. Islam mengajarkan, dalam usaha kita mencari nafkah untuk keperluan hidup, kita sekali-kali tidak boleh melupakan kewajiban terhadap sesama manusia, khususnya terhadap orang-orang yang miskin dan lemah.

    Dalam Islam, pasar dan perdagangan harus bebas dari unsur kecurangan, spekulasi, mo­nopoli dan keuntungan yang melampaui batas, tegas Sjafruddin. Tahun 1957 Sjafruddin me­nyampaikan ceramah di depan sebuah forum mahasiswa di Jakarta, “Pembangunan ekonomi dengan konsep sejitu apapun di atas kertas tidak akan ada maknanya kalau tidak terlebih dahulu melakukan perubahan radikal atas ruhaniah bangsa ini. Pembangunan dan pembersihan jiwa harus didahulukan, sebelum kita membangun masyarakat yang adil makmur. Pembangunan dan pembersihan jiwa ini resepnya hanya bisa diberikan oleh agama.”

    Dalam paper “Motif atau Prinsip Ekonomi Diukur Menurut Hukum-Hukum Islam” (Suara Partai Masjumi, no 11/12, November – Desem­ber, 1951), Sjafruddin menjelaskan, bahwa di da­lam suatu masyarakat, dimana Islam merupakan kekuatan yang hidup dan nyata, motif ekonomi tidak lagi merupakan hukum fundamental dalam usaha manusia. Bahkan sebaliknya, pertimban­gan-pertimbangan agama, yang menurut ilmu ekonomi merupakan faktor yang kadang-kadang mempengaruhi motif ekonomi, lebih diutama­kan daripada motif ekonomi itu sendiri.

     Manusia yang harus didahulukan, bukan kapital, demikian ditegaskan oleh Sjafruddin pada tahun 1966 dalam tulisannya berjudul “Membangun Kembali Ekonomi Indonesia”. Beliau mengingatkan pemerintah Orde Baru waktu itu, jangan terlalu terpukau oleh peranan dan kontribusi modal asing dalam pembangu­nan, yang sampai mengakibatkan pemerintah kurang melindungi modal dan tenaga “manu­sia Indonesia” yang benar-benar turut berpar­tisipasi dalam usaha pembangunan bangsanya. Mengutamakan modal sudah terang berlawanan dengan Pancasila, yang mengutamakan manusia tanpa melupakan kebutuhan-kebutuhan materi­ilnya, ujarnya.

     Sjafruddin yang semasa hidupnya sering ber­dakwah, tidak sepaham dengan penafsiran yang mempersempit pengertian riba yaitu identik dengan interest atau bunga bank. Menurut beliau, tafsir yang salah tentang riba akan mengaburkan pandangan dan pengertian kita tentang tujuan Islam yang sebenarnya. Dengan alasan-alasan pokok yang didasarkan pada ayat-ayat Al Quran dan Hadis, beliau sampai pada kesimpulan bahwa riba adalah keuntungan berupa uang, ba­rang atau jasa yang diperoleh dengan cara-cara yang melanggar perikemanusiaan. Menurutnya, jika kita berdagang semata-mata didorong oleh nafsu untuk memperoleh keuntungan, maka ke­untungannya adalah termasuk riba.

     Bahwa yang diharamkan Allah SWT bukan­lah bukan­lah memperalat dan memeras uang, sebab uang tidak dapat diperas. Tetapi yang dilarang Allah adalah memperalat dan memeras sesama manu­sia, baik dengan mempergunakan uang maupun barang-barang atau jasa-jasa lainnya sebagai alat pemeras. Riba dapat dicegah kalau tujuan hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah SWT dan berbuat baik terhadap sesama makhluk Al­lah sebagaimana diajarkan-Nya dalam Al Quran dan dijelaskan dalam Hadis Nabi SAW, tegas­nya.

      Pemikiran ekonomi Islam yang disampai­kan Sjafruddin berorientasi untuk membangun “ekonomi yang bebas riba”. Menurut beliau, kelemahan para ulama kita ketika menafsirkan ayat-ayat Al Quran mengenai riba adalah mereka melupakan “economic engineering”. Lebih setengah abad yang lampau, Sjafruddin telah mengutara­kan gambaran hari depan Islam di dalam New Economic Orde. Andaikata beliau sekarang masih hidup tentu beliau akan gembira menyaksikan perkembangan ekonomi syariah di tanah air dan di dunia.

     Mengenai zakat, Sjafruddin menggaris-bawahi tujuan zakat adalah supaya perbedaan material antara orang kaya dan orang miskin jan­gan terlalu menyolok. Negara dan masyarakat wajib mengusahakan, jangan sampai ada orang miskin jadi mati kelaparan atau meninggal kar­ena tidak bisa pergi ke dokter atau membeli obat karena tidak punya uang. Pendek kata, zakat maal adalah pajak yang harus dibayar oleh orang yang mampu, menurut kemampuannya dan menurut keperluan masyarakat guna meng­hilangkan/mengurangi kemiskinan, tegasnya.

     Zakat bukanlah rumusan ajaib yang dapat secara langsung dipakai untuk memecahkan semua masalah kemiskinan. Oleh karena itu Sjafruddin yang berpikir melampaui zaman­nya menegaskan perlunya zakat diatur dengan undang-undang negara.

     Sjafruddin Prawiranegara berpulang ke rah­matullah pada 15 Februari 1989 di Jakarta. Se­lesai shalat jenazah di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, menjelang diberangkatkan ke TPU Ta­nah Kusir, Mohammad Natsir atas nama saha­bat seperjuangan dan mewakili tokoh Masyumi yang masih hidup saat itu memberi sambutan perpisahan. Pak Natsir berkata, “Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan al­marhum Sjafruddin Prawiranegara, selain kata: Istiqamah!”.

     Tulisan ini penulis sudahi dengan meng­utip Johannes Riberu dalam buku Mr.Sjafruddin Prawiranegara Pemimpin Bangsa dalam Pusaran Se­jarah (Jakarta: Harian Republika, 2011), ”Ber­dasarkan paham etis ini, Sjafruddin dan juga rekan-rekannya Kasimo, Simatupang, Mo­hamad Roem, Mohammad Natsir, menghayati paham bahwa kebesaran manusia tidak terdiri atas kekayaan, kegermelapan dan kemewahan hidup, tidak terdiri atas penampilan yang serba ‘wah!’, melainkan atas kebesaran dan kekesatri­aan jiwa, yang tampil dalam pengabdian kepada sesama tanpa banyak berbicara dan bergembar-gembor.”

     Karakter dan sifat kepribadian yang menon­jol pada diri Sjafruddin adalah jujur, sederhana dan terbuka. Jujur dalam perkataan dan perbua­tan. Semoga Allah SWT meridhai perjuangan dan amal-bakti Bapak Sjafruddin Prawiranegara semasa hidupnya dan menerimanya sebagai amal shaleh. Aamiin.